Emir Qatar Kecam Serangan Israel di Doha, Sebut Sebagai “Pembunuhan Politik”

Ahmad Fairozi, M.Hum.

26/09/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. New York – Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengecam keras serangan Israel di Doha yang menargetkan salah satu pemimpin Hamas pada 9 September lalu. Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis (25/9/2025), Sheikh Tamim menilai serangan itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional sekaligus ancaman bagi diplomasi global.

“Serangan ini bukan hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga merusak kredibilitas upaya diplomatik untuk menghentikan perang di Gaza,” tegas Sheikh Tamim, dikutip Al Jazeera.

Ia menyebut tindakan Israel tersebut sebagai bentuk “pembunuhan politik” karena dilakukan di kawasan permukiman yang mencakup sekolah dan kantor perwakilan diplomatik. Menurutnya, langkah itu mencerminkan cara Israel memperlakukan perundingan semata-mata sebagai kelanjutan dari perang. “Sulit membangun kepercayaan dengan pihak yang bernegosiasi sambil merencanakan pembunuhan delegasi,” ujarnya.

Peran Mediasi Qatar Dilemahkan

Qatar selama ini dikenal sebagai mediator utama dalam perundingan gencatan senjata Gaza. Namun, Sheikh Tamim menilai langkah Israel justru melemahkan peran mediasi dan menodai standar minimum kerja sama internasional. Ia memperingatkan bahwa serangan di Doha bisa menjadi preseden berbahaya bagi diplomasi global.

Lebih jauh, ia menuduh Israel berusaha menjadikan Gaza tidak layak huni dengan menghancurkan infrastruktur pendidikan dan kesehatan. Sheikh Tamim bahkan menyebut klaim Israel sebagai negara demokratis hanyalah ilusi. “Pada kenyataannya, Israel sedang melakukan genosida terhadap rakyat Palestina,” tegasnya.

Dalam pidatonya, Sheikh Tamim juga menyoroti praktik Israel yang kerap melabeli pihak penentangnya sebagai antisemit atau teroris. Ia menilai bahkan sekutu dekat Israel kini mulai mempertanyakan taktik tersebut. “Jika pelanggaran dibiarkan, maka hukum rimba akan berlaku, di mana pelaku justru diuntungkan hanya karena mereka mampu melakukannya,” katanya.

Ia juga membandingkan solidaritas global terhadap Palestina dengan gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan pada abad ke-20, dan menegaskan kembali pentingnya supremasi hukum internasional.

Serangan Israel di Doha menewaskan enam orang meski target utama berhasil selamat. Pemerintah Qatar menyebut aksi tersebut sebagai bentuk terorisme negara. Peristiwa itu terjadi saat Doha sedang menengahi proposal gencatan senjata Gaza yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Meski menyesalkan insiden tersebut, Washington tidak secara terbuka mengecam Israel. Pemerintah AS hanya berjanji bahwa kejadian serupa tidak akan terulang di Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer besar AS, Al Udeid.

Leave a Comment

Related Post