Harakatuna.com. Bogor – Haris Amir Falah, seorang eks narapidana terorisme (napiter), mengungkapkan bahwa desa sering menjadi sasaran utama kelompok radikal dalam upaya merekrut anggota baru. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang membuat desa menjadi lingkungan yang lebih mudah dijangkau oleh kelompok terorisme dan menjadi tempat strategis untuk mengembangkan jaringan mereka.
“Berdasarkan pengalaman, banyak pelaku terorisme berasal dari desa. Organisasi tersebut mencari sasaran di desa karena lebih mudah merekrut dan mengembangkan pengaruhnya. Struktur paling bawah dari organisasi radikal ini justru ada di desa,” ungkap Haris dalam keterangannya pada Senin, 17 Maret 2025.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat Desa
Haris menambahkan bahwa masyarakat desa perlu lebih memahami potensi ancaman tersebut agar dapat menghadapinya dengan lebih baik. Meningkatkan kesadaran dan dukungan dari berbagai pihak sangat penting agar warga desa bisa lebih waspada terhadap penyebaran paham radikal di sekitar mereka.
“Yang utama adalah memperkuat informasi agar masyarakat paham dan tahu. Selain itu, harus ada dukungan yang menyeluruh agar mereka memiliki kesiapan dalam menghadapi potensi penyebaran paham radikal,” jelasnya.
Untuk mengatasi tantangan ini, Haris juga menyoroti pentingnya program Desa Siapsiaga, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap keamanan desa. Program ini dianggap efektif dalam membangun rasa tanggung jawab kolektif masyarakat, terutama dalam mengenali dan menghadapi potensi ancaman radikal di lingkungan mereka.
“Dengan hadirnya Desa Siapsiaga, masyarakat semakin mengerti, lebih waspada, dan yang terpenting, mereka menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar,” tambahnya.
Haris berharap bahwa dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, desa bisa menjadi benteng yang lebih kuat dalam menangkal paham radikal dan menciptakan lingkungan yang aman serta harmonis bagi seluruh warganya.
Kolaborasi untuk Penguatan Keamanan Desa
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Sub Direktorat Kesiapsiagaan BNPT Kolonel Inf Indra Gunawan juga mengungkapkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak. Kolaborasi antara pemerintah daerah, kementerian terkait, dan sektor swasta sangat diperlukan agar penguatan ekonomi dan keamanan desa dapat terwujud sesuai dengan cita-cita pemerintah.
“Kita harus berkolaborasi, bersinergi, dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian yang lainnya, serta sektor swasta. Ini agar penguatan ekonomi dan keamanan desa bisa tercapai dengan baik,” ujar Indra.
Lebih lanjut, Indra menambahkan bahwa BNPT kini fokus pada pemberdayaan perempuan dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan desa. Tahun ini, BNPT memutuskan untuk memilih hanya dua penggerak desa, yang semuanya adalah perempuan. Keputusan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
“Untuk 2025, kami menyesuaikan dengan cita-cita pemerintah mengenai kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan peningkatan kapasitas perempuan. Kami fokuskan kepada perempuan yang kami pilih sebagai penggerak desa,” pungkas Indra.
Dengan program Desa Siapsiaga yang melibatkan perempuan sebagai penggerak utama, diharapkan kesadaran masyarakat dapat meningkat dan desa menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan serta menghindari penyebaran paham radikal.








Leave a Comment