Ekor Jas Zakir Naik dalam Dunia Terorisme

Harakatuna

10/07/2025

3
Min Read
Zakir Naik

On This Post

Harakatuna.com – Kehadiran kembali Dr. Zakir Abdul Karim Naik—atau yang masyhur sebagai Zakir Naik—di Indonesia dalam safari dakwahnya yang dimulai di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 8 Juli kemarin memunculkan dua wajah publik yang kontras.

Ribuan orang memadati Edutorium UMS untuk mendengar ceramahnya, termasuk ideolog terorisme, ustaz Abu Bakar Ba’asyir, yang duduk di barisan depan. Pada saat yang sama, kelompok masyarakat sipil Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) turun ke jalan, menyuarakan penolakan terhadap ceramah yang mereka nilai berpotensi memecah kerukunan antarumat beragama.

Dikotomi respons atas Zakir Naik bukan saja tentang siapa ustaz Zakir dan apa isi ceramahnya. Itu adalah soal ekor jas panjang yang mengikutinya: jejak tafsir eksklusif dan inspirasi yang ditinggalkannya di berbagai belahan dunia, termasuk yang bersentuhan dengan terorisme.

Sebuah kasus di Andhra Pradesh, India, mempertontonkan bagaimana tersangka teror, Abubacker Siddique, yang terlibat dalam serangan bom dan percobaan pembunuhan, menyebut dirinya terinspirasi Zakir Naik. Siddique merupakan figur ‘lone wolf’, bekerja sendiri, namun dengan ideologi yang dipinjam dari pidato-pidato publik yang viral, penuh argumen apologetik, dan diklaim berdasar dalil-dalil keislaman.

Dalam editorial ini, Harakatuna tidak sedang mengadili Zakir Naik secara hukum. Ia belum pernah divonis secara resmi sebagai radikal-teroris. Tetapi problemnya bukan di situ. Problemnya ialah daya resonansi narasi Zakir Naik yang kerap membenturkan Islam dengan agama lain dalam gaya debat apologetik yang agresif.

Bagi sebagian orang, itu adalah pencerahan. Apalagi ustaz Zakir telah memualafkan ribuan orang melalui orasinya yang memukau. Kendati demikian, bagi sebagian orang, terutama mereka yang kehilangan daya filter kritis, apa yang ustaz Zakir sampaikan merupakan bahan bakar ideologis yang berbahaya: dapat mengantarkan seseorang pada terorisme. Itulah yang di sini diistilahkan sebagai ‘ekor jas Zakir Naik’.

Indonesia, sebagai negara majemuk, harus membaca fenomena itu secara strategis. Kehadiran ustaz Zakir boleh jadi tidak secara langsung menggerakkan massa untuk melakukan kekerasan, namun secara tidak langsung menguatkan mentalitas eksklusivisme beragama yang kelak akan jadi cikal-bakal radikal-terorisme.

Ceramah Zakir Naik, bila tidak dikontekstualisasi secara sehat, akan memberi justifikasi teologis terhadap perilaku diskriminatif atau bahkan kekerasan terhadap ‘yang berbeda’.

Kritik PNIB dan elemen pro-kebhinekaan tidak bisa diabaikan begitu saja. Mereka mengingatkan, keharmonisan sosial ialah tentang mencegah penyebaran narasi-narasi eksklusif yang memicu segregasi dan demonisasi. Pemerintah harus menyeimbangkan antara prinsip kebebasan berpendapat dan tanggung jawab menjaga keamanan nasional.

Seseorang boleh saja tidak peduli kritik PNIB dengan satu-dua alasan. Namun, jangan sampai kita menunggu sebuah tragedi sebelum bertindak. Jejak digital Zakir Naik banyak dikonsumsi generasi muda yang sering kali mencari jawaban instan atas kompleksitas kehidupan.

Ketika narasi hitam-putih tentang kebenaran agama disebarluaskan tanpa pendampingan kritis, maka risiko radikalisasi tidak akan terelakkan. Ekor jas Zakir Naik bisa menjuntai jauh melampaui ruang ceramah, menyusup ke ruang sunyi algoritma medsos, dan berujung pada tindakan ekstrem yang meminjam nama Tuhan. Penting dicatat bahwa di Solo kemarin, para penonton ustaz Zakir berasal dari kalangan Gen Z. Mencengangkan.

Indonesia butuh dakwah yang mencerahkan, bukan yang mengobarkan pertentangan soal agama—yang meretakkan muamalah sesama. Negara ini memerlukan dakwah yang membangun jembatan, bukan tembok. Jika ustaz Zakir ingin terus berdakwah di negeri ini, maka ruangnya harus dibingkai dengan akuntabilitas wacana dan keterbukaan terhadap kritik.

Demikian karena ketika narasi yang diproduksi menjalar liar, maka yang tertinggal bukan hanya pidatonya, melainkan jejak ideologis yang bisa tumbuh jadi bom waktu dan merugikan negara tak ada habisnya.

Kita semua harus bertanya: apakah kita sedang menjaga keberagaman, atau sedang membiarkan bara kecil yang bisa menjalar jadi api besar? Jika sejarah memberi petunjuk, maka kita tahu: radikal-terorisme tidak selalu lahir dari senjata. Kadang, ia lahir dari podium, dengan ekor jas yang tampak santun, namun menyimpan kilatan bahaya: semaraknya kembali terorisme di Indonesia. []

Leave a Comment

Related Post