Disiplin: Fondasi Seorang Penulis

Juli Prasetya

14/02/2026

4
Min Read
Disiplin

On This Post

Harakatuna.com – Menyitir kata-kata Pram dan Murakami, bahwa menulis itu sama halnya dengan melatih otot dan berlari. Maka bagi seorang penulis, sudah barang tentu menulis mestinya dijadikan sebagai sebuah kebiasaan, sebagaimana melatih otot dan berolahraga. Kegiatan menulis yang telah dijadikan sebagai kebiasaan sehari-hari oleh seorang penulis jelas akan terlihat berbeda dengan mereka yang hanya menulis ketika mood datang.

Padahal kita tidak tahu kapan mood itu datang dan kapan pergi. Berlatih menulis setiap hari akan membuat tangan dan otak kita bisa bekerja dengan singkron, dan terlatih, daripada menulis hanya dengan mengandalkan mood semata, yang boleh jadi bisa saja mandeg di tengah jalan. Atau bahkan tidak berjalan sama sekali.

Maka di titik ini sebuah kedisiplinan sangat diperlukan guna membangun dan membentuk bagaimana laku kepenulisan kita akan berjalan ke depannya, dan tentu saja dapat mencapai tujuan akhir yang jelas.

Disiplin tidak hanya perihal mengatur dan mencapai tujuan dalam proses sehari semalam, atau kita harus menulis berapa ratus kata dalam sehari, atau berapa lembar halaman yang dapat kita hasilkan dalam sekali duduk. Tetapi juga kita harus bertanggung jawa, konsisten, dan konsekuen dengan tujuan itu. Kita memang mesti terus menulis dan menulis. Menulis sebagai proses, latihan, sekaligus kebutuhan sehari-hari.

Seorang penulis yang ingin menjadi seorang profesional sudah barang tentu harus bisa mendisiplinkan diri, karena tanpa disiplin kegiatan menulis akan sama saja seperti kegiatan seorang pengangguran yang penuh dengan kemalasan. Maka seorang penulis profesional sudah seharusnya selesai dengan hal-hal yang berkait dengan ketekunan dan kedisiplinan ini.

Kedisiplinan dalam menulis harus benar-benar menjadi dasar dan pondasi yang kuat untuk menjalani laku menulis. Karena tanpa disiplin boleh jadi kita hanya akan mengandalkan mood semata, dan kadang kita tidak tahu kapan kita akan menyelesaikan tulisan kita yang seringkali mangkrak. Maka kemudian disiplin ini memegang peran vital dalam segala bidang kehidupan, tidak terkecuali dalam proses kreatif seorang penulis.

Saya kira seorang penulis tanpa disiplin mungkin bisa kita samakan dengan seorang penulis yang malas, yang hanya mengandalkan mood-nya dalam menulis. Meskipun saya juga tidak menyalahkan penulis-penulis yang mengandalkan mood ketika mereka menulis. Soalnya memang ada para penulis yang mengandalkan mood ketika mereka menulis, dan memang mood ini eksis dan nyata.

Namun bagi kalian, atau orang-orang ingin menjadi seorang penulis profesional, tentu saja harus sudah mulai mendisplinkan diri. Entah dalam kegiatan menulis atau dalam kegiatan membaca.

Karena tanpa kedisplinan yang ketat, seringkali kita sebagai seorang penulis tidak dapat mencapai target dan tujuan kepenulisan kita sendiri. Kadangkala kita benar-benar meleset dari rencana-rencana yang sudah kita susun, dari draft-draft tulisan yang sebelumnya ingin kita selesaikan.

Tanpa disiplin segalanya benar-benar akan menguap, dan hanya tinggal sebagai kata-kata saja, tanpa pernah benar-benar kita dapat mencapai apa-apa yang sudah kita rencanakan, kita harapkan, dan kita sepakati dengan diri kita sendiri di awal. Menulis dan disiplin di sini, sudah harus menjadi suatu kebiasaan. Apalagi bagi seorang penulis, disiplin adalah salah satu jalan agar seorang penulis tidak macet di tengah jalan. Agar ia tidak mengalami writers block, ketika mereka mencoba menulis.

Tapi tentu saja seorang penulis yang menulis dengan disiplin atau dengan tidak mengandalkan kedisiplinan adalah sebuah pilihan masing-masing. Saya juga tidak bisa menyalahkan para penulis yang menulis hanya dengan mengandalkan mood semata, misalnya.

Namun di sini saya hanya ingin mengatakan bahwa seorang penulis pemula sekalipun harus sudah membiasakan diri dengan kedisiplinan dirinya sendiri. Karena tanpa kedisiplinan seorang penulis hanya akan berkutat pada hal-hal yang itu-itu saja, tanpa memiliki tujuan dan progress yang jelas dan pasti dalam laku kepenulisannya.

Maka disiplin menjadi kunci agar seorang penulis dapat mengembangkan dan menumbuhkan dirinya agar dapat berproses menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Dan untuk menggapai hal itu tentu saja kedisiplinan memegang peran yang sangat penting. Karena betapapun canggihnya seorang penulis, tapi tanpa disiplin, ia hanya akan menjadi seorang penulis yang mungkin hanya berhenti di level semenjana saja.

Kedisiplinan adalah sebuah proses, dan proses itu tentu saja harus memiliki tujuan yang jelas. Dan hari ini mari kita coba untuk memulai proses pendisiplinan itu, minimal untuk diri kita sendiri. Dimulai dari diri sendiri. Dan perubahan itu memang tidak serta merta, tapi secara perlahan dan berkelanjutan.

Begitulah disiplin dan konsistensi adalah jawaban dari bagaimana seorang penulis bisa terus mengembangkan dan menumbuhkan dirinya agar bisa terus menulis dengan lebih baik dan lebih baik lagi.

Leave a Comment

Related Post