Disdikbud Tolitoli: Pendidikan Jadi Kunci Tanamkan Moderasi Beragama Sejak Dini

Ahmad Fairozi, M.Hum.

31/05/2025

2
Min Read
Menjaga Toleransi dan Moderasi Bukan Perbuatan Tercela

On This Post

Harakatuna.com. Tolitoli – Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran pendidikan dalam membentuk karakter generasi muda menjadi semakin krusial. Salah satu fokus utama adalah penanaman nilai-nilai moderasi beragama sejak usia dini guna membentuk pribadi yang toleran dan cinta damai.

Kepala Seksi Peserta Didik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tolitoli, Arta Uli, menyampaikan bahwa nilai-nilai moderasi beragama telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan di Indonesia. Ia menegaskan, prinsip-prinsip tersebut telah diatur dalam Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 yang mengarahkan pendidikan keagamaan untuk memperkuat komitmen kebangsaan, menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air, menjunjung tinggi toleransi, menolak kekerasan, serta menghargai keberagaman budaya lokal.

“Nilai-nilai ini bukan hal baru di dunia pendidikan. Justru sudah menjadi bagian dari kurikulum kita. Yang penting sekarang adalah bagaimana nilai-nilai tersebut benar-benar diaktualisasikan dalam keseharian anak-anak,” ujar Arta Uli, Jumat (30/5).

Ia menambahkan, di Kabupaten Tolitoli, pendekatan terhadap moderasi beragama sudah diterapkan sejak tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Anak-anak dikenalkan pada nilai-nilai agama melalui kegiatan seperti pengajian bersama orang tua dan metode pengajaran lain yang sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. “Penanaman nilai ini harus dilakukan sejak usia dini. Kami di Tolitoli sudah mulai dari jenjang PAUD, dengan pendekatan yang ramah anak dan berbasis pada kebersamaan orang tua,” jelasnya.

Arta Uli juga menyoroti pentingnya peran tenaga pendidik sebagai garda terdepan dalam menanamkan dan meneladankan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan sekolah. “Kami berharap semua guru dapat menjadi agen moderasi beragama, bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menjadi contoh nyata dalam perilaku sehari-hari,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, mampu hidup berdampingan dalam keberagaman, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan di tengah tantangan era digital.

Dengan implementasi moderasi beragama yang konsisten di lingkungan pendidikan, Disdikbud Tolitoli optimistis generasi muda daerah tersebut akan tumbuh sebagai individu yang inklusif, toleran, dan siap menghadapi tantangan global dengan sikap terbuka dan damai.

Leave a Comment

Related Post