Densus 88 Sosialisasikan Pencegahan Radikalisme di Institut Attanwir Bojonegoro

Ahmad Fairozi, M.Hum.

16/09/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Bojonegoro — Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menggelar sosialisasi pencegahan paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme (IRET) di Institut Attanwir Bojonegoro pada Senin (15/9/2025). Kegiatan ini diikuti sekitar 178 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai program studi.

IPTU Edi Purwanto bersama Arif Budi Setiawan, S.Pd., mantan narapidana terorisme (napiter), hadir sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Penguatan Moderasi Beragama”. Dalam pemaparannya, keduanya menekankan pentingnya memahami bahaya IRET sekaligus memperkuat sikap moderat dalam beragama.

“Paham radikalisme seringkali masuk secara halus, terutama melalui media sosial. Moderasi beragama menjadi benteng agar generasi muda tidak mudah terpengaruh,” ujar IPTU Edi Purwanto dalam sesi pemaparan.

Hal senada disampaikan Arif Budi Setiawan yang berbagi pengalaman pribadi sebagai eks napiter. Ia menekankan bahwa moderasi beragama adalah kunci untuk mencegah penyebaran ideologi sesat.

“Saya pernah berada di lingkaran itu, dan saya tahu bagaimana cara mereka memengaruhi pikiran. Karena itu, mahasiswa harus kritis dan bijak dalam menerima informasi,” ungkapnya.

Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, M. Komarudin, menanyakan strategi kelompok teror dalam merekrut anggota baru. “Bagaimana cara terorisme mencari anggota baru dan mencuci otak calon anggotanya?” tanyanya. Pertanyaan ini menjadi perhatian peserta, mengingat rekrutmen sering menyasar kalangan muda.

Sebagai bentuk dukungan literasi, Tim Densus 88 juga membagikan kode barcode buku saku moderasi beragama berjudul “Cegah Radikalisme Demi Indonesia Damai” kepada moderator kegiatan, M. Hasan Asari, untuk disebarkan kepada seluruh mahasiswa.

Sebelum menutup acara, Densus 88 mengingatkan para mahasiswa agar lebih bijak dalam bermedia sosial. “Hati-hati dalam menggunakan media sosial, karena paham radikal banyak menyebar di sana,” tegas Edi Purwanto.

Melalui kegiatan ini, Densus 88 berharap mahasiswa Institut Attanwir Bojonegoro dapat lebih memahami bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, sekaligus berperan aktif dalam mencegah penyebarannya. “Ini langkah awal membangun kesadaran bersama agar masyarakat lebih waspada terhadap ancaman IRET,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post