Harakatuna.com. Pangkalpinang — Penyebaran paham radikalisme kini tidak lagi terbatas pada pertemuan tatap muka atau forum diskusi tertentu. Seiring perkembangan teknologi, penyebaran ideologi ekstrem juga mulai merambah berbagai platform digital yang dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja, salah satunya melalui game online.
Hal tersebut disampaikan oleh Hariyadi dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung saat memberikan sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan kepada para pelajar di SMP Negeri 7 Pangkalpinang, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (13/3/2026).
Dalam kegiatan tersebut, ia menjelaskan bahwa sejumlah kasus radikalisasi yang melibatkan anak-anak kerap berawal dari interaksi sederhana melalui fitur komunikasi yang tersedia dalam game online.
“Awalnya mereka berkenalan melalui chat room dalam game online. Dari situ pelaku biasanya mulai membangun hubungan pertemanan dengan anak-anak yang menjadi target,” jelas Hariyadi.
Ia menuturkan bahwa pendekatan yang dilakukan pelaku biasanya berlangsung secara perlahan sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Setelah komunikasi mulai intens, percakapan kemudian dialihkan ke platform komunikasi lain yang lebih privat.
“Biasanya setelah saling mengenal di dalam game, komunikasi dilanjutkan melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp. Dari situ kemudian dibuat grup-grup kecil yang lebih tertutup,” ujarnya.
Menurutnya, proses tersebut dilakukan secara bertahap agar anak yang menjadi target tidak langsung menyadari arah pembicaraan yang sebenarnya. Di dalam grup tersebut, pelaku mulai menyebarkan berbagai konten yang bersifat provokatif.
“Di dalam grup itu biasanya mulai dibagikan berbagai konten provokatif, mulai dari narasi kebencian terhadap kelompok tertentu, propaganda ideologi ekstrem, hingga ajakan untuk membenci pihak lain,” katanya.
Dalam beberapa kasus, materi yang disebarkan bahkan tidak hanya berupa narasi ideologi, tetapi juga berkaitan dengan tindakan kekerasan. “Dalam beberapa kasus ada juga yang membagikan materi terkait cara membuat bahan peledak atau bentuk kekerasan lainnya,” ujar Hariyadi.
Ia menegaskan bahwa paparan konten semacam itu dapat memengaruhi pola pikir anak secara perlahan. Jika berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa pengawasan dari orang tua maupun guru, kondisi tersebut dapat memicu perubahan sikap dan perilaku. “Jika anak terus terpapar narasi kebencian dan kekerasan, lama-kelamaan bisa memengaruhi cara berpikirnya,” ujarnya.
Perubahan tersebut, lanjutnya, dapat terlihat dari sikap anak yang mulai menunjukkan perilaku intoleran, enggan bergaul dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda, hingga menunjukkan sikap agresif. “Mereka bisa menjadi lebih mudah marah, intoleran, bahkan melakukan kekerasan, baik secara verbal maupun fisik,” katanya.
Hariyadi menambahkan bahwa proses radikalisasi pada anak sering kali terjadi secara bertahap sehingga sulit dikenali pada tahap awal. Karena itu, peran keluarga dan lingkungan pendidikan sangat penting dalam melakukan pengawasan serta deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak. “Peran keluarga dan lingkungan pendidikan sangat penting dalam melakukan pengawasan serta deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak,” ucapnya.
Menurutnya, pendekatan edukasi melalui sekolah menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kesadaran pelajar mengenai bahaya radikalisme di era digital. “Yang paling penting adalah membangun kesadaran sejak dini agar anak-anak tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang salah di dunia digital,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Camat Gabek, Yudi, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan sosialisasi wawasan kebangsaan dan pencegahan paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan serta memperkuat rasa cinta tanah air di kalangan pelajar. “Kami sangat mendukung kegiatan ini karena mampu memperkuat pemahaman siswa tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Yudi.
Ia menilai bahwa di tengah pesatnya arus informasi digital saat ini, generasi muda sangat rentan terhadap berbagai pengaruh negatif. Oleh karena itu, sosialisasi yang bersifat preventif menjadi langkah strategis untuk membekali pelajar dengan kemampuan berpikir kritis serta kemampuan memilah informasi.
“Melalui kegiatan ini siswa diharapkan mampu berpikir kritis, memilah informasi dengan baik, serta tidak mudah terpengaruh oleh konten negatif di dunia digital,” ujarnya.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan tersebut juga diisi dengan pemberian bantuan kemanusiaan kepada sekitar 1.200 siswa-siswi yang mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut.








Leave a Comment