Harakatuna.com – “Apa resolusi penanggulangan terorisme di Tahun Baru ini?” mungkin itu yang tengah menjadi pembicaraan para otoritas di negeri ini, hari-hari ini. Selama dua tahun terakhir, Indonesia telah berhasil mempertahankan zona nihil serangan teror (zero attack), kendati penangkapan terduga teroris masih kerap terjadi. Ada dugaan, indoktrinasi radikal-teror berjalan terus, sehingga dalam zero attack pun, radikalisme masih tak sepenuhnya punah.
Penting dicatat, penyakit akut radikalisme di negeri ini, jika ditelusuri, bersumber pada penanaman doktrin eksklusivisme—mudah menyalahkan segala yang berbeda. Dan dalam proses indoktrinasi, sekolah ternyata jauh lebih efektif dibandingkan media sosial, karena lebih langsung dan personal, berbeda dengan media sosial yang lebih mengandalkan persuasi-narasi provokatif. Indoktrinasi, ke eksklusivisme, lalu ke radikalisme.
Kasus yang terjadi berbagai daerah, sedikitnya setengah dekade terakhir, mengingatkan bahwa radikalisme sangat dekat, bahkan menyelinap ke tempat-tempat tak terduga. Sekolah, halakah, pengajian, dan sejenisnya kerap disusupi narasi sempit dan slogan eksklusif. Artinya, celah indoktrinasi tak memandang tempat. Bahkan, radikalisme juga merambah ke lembaga-lembaga pemerintah, seperti BUMN yang rentan terinfiltrasi.
Untuk itu, dedoktrinasi—atau upaya membongkar doktrin yang dipropagandakan para radikalis—bisa menjadi salah satu solusi untuk mencegah radikalisasi itu sendiri. Pendekatannya mengandalkan pengawasan eksternal, menanamkan kemampuan berpikir kritis, dan narasi masif tentang antitesis doktrin radikal. Dalam konteks sekolah, misalnya, metode pengajarannya mesti dialog-oriented dan kebebasan berpendapat; egaliter.
Radikalisme akan terus mencari cara menyebarkan diri selama masih ada ruang kosong yang bisa dirasuki. Maka, pertanyaannya adalah: mengapa masih ada di antara kita yang meragukan keberadaan ancaman radikalisme, atau bahkan enggan terlibat dalam upaya memberantasnya? Dedoktrinasi adalah langkah awal menuju deradikalisasi. Dan tahun ini, 2025 dan seterusnya, dedoktrinasi laik menjadi resolusi kontra-radikalisme nasional.
Dedoktrinasi HTI dan Islam Kafah Palsu
HTI menggunakan istilah Islam kafah untuk mengelabui umat. Bagi mereka, siapa pun yang tidak mendukung khilafah tahriri dipandang belum sepenuhnya menjalankan Islam. Propaganda tersebut jelas manipulasi teologis untuk membelah masyarakat Muslim ke dalam firkah yang saling berseberangan, antara yang pro-khilafah sebagai ‘islami’ dan yang kontra-khilafah yang dianggap ‘sekuler’ atau bahkan ‘kafir’.
Secara teologis, Islam kafah—seperti terekam dalam surah al-Baqarah [2]: 208—mengacu pada konsistensi dalam beriman dan beramal saleh sesuai syariat Allah. Namun, HTI telah menggeser maknanya menjadi seruan politis untuk mendukung pembentukan khilafah sebagai satu-satunya bentuk negara yang dianggap sah dalam Islam. Untuk mendukung manipulasi teologisnya, HTI juga mengindoktrinasi umat lewat manipulasi sejarah.
HTI menegasikan fakta bahwa Islam, sebagai agama telah berkembang dalam berbagai konteks sosial-budaya dan politik—tak mengajarkan sistem pemerintahan tertentu, dan hanya memberi rambu atau prinsip kepemimpinan islami. Sejarah peradaban Islam yang menunjukkan fleksibilitas sistem pemerintahan dibelokkan atau direduksi demi Islam kafah palsu. Umat Muslim yang terdoktrin pun dimanfaatkan HTI untuk jadi simpatisan gerakan.
Seseorang boleh jadi akan terkejut, bahwa gerilya HTI untuk mengindoktrinasi umat dengan Islam kafah palsu bahkan dikemas sangat ilmiah. Sebagai contoh, pada Sabtu (18/1) mendatang, Hizbut Tahrir akan menggelar konferensi tahunan dengan tajuk “Khilafah: Menghapuskan Hambatan yang Menghalangi Kembalinya”. Dengan demikian, indoktrinasi HTI ihwal Islam kafah sudah berada di tataran meresahkan.
Di situlah, dedoktrinasi menjadi langkah strategis melawan propaganda HTI dan Islam kafahnya yang menyesatkan. Prosesnya melibatkan dua pendekatan utama: dekonstruksi narasi ideologis dan penguatan moderasi. Yang pertama ini melibatkan para akademisi untuk meluruskan makna Islam kafah sesuai konteksnya, sementara yang terakhir implementasinya ialah kurikulum berbasis kebangsaan dan wasatiah. Keduanya tak bisa ditawar lagi.
Dedoktrinasi Wahabi dan Kaum Teroris
Meski tidak semua pengikut Wahabi adalah teroris, mayoritas teroris global terinspirasi oleh, atau berasal dari, Wahabi. Penelitian The Soufan Group (2022) menemukan, Wahabi selalu jadi landasan ideologis kelompok teror seperti Al-Qaeda dan ISIS. Di Indonesia, keterkaitan antara ideologi Wahabi dengan kelompok teroris lokal terlihat jelas dalam pola rekrutmen, pelatihan, dan retorika mereka.
Kasus terkini, penangkapan YLK alias IS di Gorontalo oleh Densus 88 menunjukkan, doktrin Wahabi digunakan untuk memobilisasi pendukung dan merencanakan aksi teror. YLK, yang memiliki hubungan dengan Jama’ah Ansharusy Syariah (JAS) dan i’dad ‘asykari di luar negeri, adalah contoh riil bahwa paham radikal Wahabi senantiasa berkesinambungan dengan agenda jihad global—terorisme.
Karena itu dedoktrinasi Wahabi sifatnya niscaya. Tujuannya, untuk menyelamatkan umat Muslim dari indoktrinasi eksklusivisme yang cepat atau lambat akan berujung aksi teror. Upaya dedoktrinasi di sini dilakukan melalui pendekatan ekstensif, sedikitnya meliputi tiga langkah. Pertama, membongkar borok ideologi Wahabi. Dedoktrinasi harus dimulai dengan menelisik penyimpangan ajaran Wahabi itu sendiri, agar umat paham arah.
Kedua, reformasi pendidikan keagamaan. Penting untuk mereformasi kurikulum pendidikan agama, baik di sekolah umum maupun pesantren, untuk menanamkan moderasi dan toleransi. Buku-buku ajar yang mengandung paham radikal-teror mesti difiltrasi dan diganti dengan materi yang inklusif dan akomodatif terhadap keberagaman. Ketiga, tegasnya penegakan hukum, karena indoktrinasi juga kerap memanfaatkan kesemrawutan hukum.
Dedoktrinasi Wahabi dan kelompok teroris di Indonesia bukan soal melindungi masyarakat dari ancaman kekerasan belaka. Dedoktrinasi berupaya mempertahankan identitas Islam moderat dan toleran sebagai fondasi utama negara-bangsa. Jika tak segera dilakukan, celah ideologis tersebut akan terus dimanfaatkan Wahabi dan kaum teroris untuk mengindoktrinasi umat, hingga Muslim menjadi radikal seluruhnya. Segera beresolusi!
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…









Leave a Comment