Debat Antaragama dan Pintu Gerbang Intoleransi

Harakatuna

17/07/2025

5
Min Read
Debat Antaragama

On This Post

Harakatuna.com – Hari-hari ini tengah ramai diperbincangkan tentang fenomena lama yang mencemaskan: dakwah dalam bentuk debat antaragama. Gaya dakwah ‘debat’ tampil ibarat pencerahan; penuh kutipan kitab suci, penuh logika, dibungkus dalam jargon pembelaan iman. Namun sesungguhnya ia menyimpan bara kecil yang menjalar jadi api besar, yaitu intoleransi. Ustaz Zakir Naik memiliki dakwah khas; berdebat.

Dalam debat itu, selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Sayangnya, yang kalah bukan argumen lawan saja, namun juga martabat mereka yang harus mendengar teks sucinya dijadikan bahan olok-olok logis di depan ribuan hadirin. Islam tampak terlihat superior hanya karena mampu ‘membungkam’ lawan debat, namun satu hal mendasar terlupakan, yaitu bahwa agama bukan ajang turnamen.

Kemenangan dalam debat bukanlah kemenangan spiritual. Justru sebaliknya, di saat Islam diposisikan sebagai agama yang harus ‘mengungguli dan mendiskreditkan’ agama lain dalam ajang konfrontasi publik, umat sedang mengerdilkan kemuliaan Islam itu sendiri. Mereka menjual kemegahan Islam ke keranjang sempit ego kolektif: bahwa mereka baru merasa benar jika yang lain dapat dipatahkan.

Pertanyaan besarnya: untuk siapa sesungguhnya debat semacam itu? Apakah untuk mengajak mualaf? Untuk umat Islam sendiri? Atau hanya untuk membangun kultus tokoh yang dielu-elukan karena berhasil ‘menghancurkan’ argumen orang Kristen, Hindu, Buddha, atau ateis dalam lima menit? Dan lebih penting lagi, apa dampaknya pada relasi antaragama yang selama ini dijaga dengan darah dan pengorbanan sejak negara ini merdeka?

Zakir Naik telah menjadi simbol eksklusivisme Islam global. Ia menjual gagasan bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran, dengan menunjukkan cacat-cacat agama lain. Dalam debatnya, agama lain bukan lagi tetangga dalam tatanan spiritual yang perlu dihormati, melainkan lawan debat yang wajib dipermalukan dengan cepat dan elegan. Jelas, itu bukan dakwah, melainkan argumentasi yang menjadikan akidah orang lain sebagai umpan.

Untuk Indonesia yang plural, gaya semacam itu sama sekali tidak cocok dan membahayakan. Ustaz Zakir memang berhasil memualafkan orang, namun jangan lupa, ia secara tidak langsung juga menyemarakkan islamofobia. Bukan karena Islam itu menakutkan, tapi karena sebagian Muslim memperkenalkannya dengan wajah yang sombong, congkak, dan angkuh di atas podium-podium debat.

Orang Kristen, Hindu, Buddha yang melihat agamanya dijadikan bahan adu logika dalam forum terbuka, akan merasa dilecehkan. Dan pelecehan teologis semacam itu akan memantik trauma, dendam, bahkan luka ideologis yang sulit untuk sembuh. Logika sederhananya, bayangkan Islam selalu dijelekkan di Barat, bukankah umat Islam akan membenci para islamofobis? Tentu, semua Muslim tidak suka dengan islamofobis.

Ironisnya, sebagian umat Islam mengira itu sebagai keberhasilan dakwah. Mereka menyambut Ustaz Zakir Naik bak bintang film. Seolah Islam naik derajat karena menang debat. Padahal, sejak kapan Islam butuh dibandingkan untuk dianggap benar? Apakah keagungan Al-Qur’an menunggu pengakuan dari penganut agama lain? Apakah seorang Muslim baru merasa beriman setelah menyaksikan seseorang mualaf karena kalah debat?

Penting dicatat bahwa, Islam adalah agama yang agung karena ia membangun peradaban dengan akhlak dan keadilan. Nabi Muhammad Saw. tidak berdakwah dengan mengejek Injil, menghina Weda, atau menertawakan Taurat-nya kaum Yahudi. Nabi Saw. menyentuh para kuffar lewat hati, bukan lewat argument hafalan belaka. Beliau mengubah dunia dengan akhlaknya, bukan dengan slide perbandingan agama.

Gaya dakwah Ustaz Zakir Naik, dengan segala kedalaman datanya, tak bisa dilepaskan dari afiliasi ideologisnya. Ia berada di orbit Salafi-Wahabi, yang memandang bahwa Islam tak boleh tercampur budaya, tak boleh akomodatif, dan harus tampil seperti di padang pasir abad ketujuh. Hal itu sangat kontras dengan wajah Islam sejati yang inklusif dan hidup berdampingan sejak berabad-abad tanpa merasa terancam perbedaan.

Karena itu, setiap Muslim patut bertanya dengan jujur: mengapa figur seperti Ustaz Zakir Naik mendapat panggung besar di negeri Bhinneka Tunggal Ika? Mengapa banyak yang berlomba mengundangnya, bahkan di kampus dan kota besar? Apakah itu bentuk ketakjuban terhadap retorika, atau justru bentuk ketidakpercayaan diri Muslim sendiri terhadap kebesaran agama yang dianutnya?

Ketika Islam dipromosikan lewat cara-cara yang frontal, konfrontatif, dan tidak merangkul yang berbeda, maka sesungguhnya umat Muslim tengah membuka pintu gerbang menuju intoleransi. Debat antaragama bukan jalan dialog, melainkan jalan konfrontasi. Dan konfrontasi adalah pintu pertama menuju polarisasi—perpecahan yang bila dibiarkan akan menjadi bahan bakar radikal-terorisme. Berbahaya.

Ustaz Zakir Naik memang tidak membawa senjata. Namun, senjatanya lebih tajam: kata-kata yang membakar dan menginspirasi semangat superioritas yang bisa berujung pada aksi ekstrem. Dan ketika umat hanya mengagumi kemampuannya ‘menang debat’, tanpa menyadari luka sosial yang ditinggalkan, maka mereka sesungguhnya sedang menyiapkan ladang bagi benih-benih konflik masa depan yang tak terlihat.

Islam tak perlu menundukkan agama lain untuk menjadi besar. Islam tidak butuh menang di podium untuk menjadi mulia. Islam sudah menang dan mulia, dan kebenarannya mutlak. Justru, sebagaimana yang Nabi Saw. teladankan, kemenangan sejati Islam ialah ketika umat bisa hidup damai di tengah perbedaan, tanpa harus menjadi penguasa wacana, tanpa harus menjatuhkan yang lain.

Dakwah sejati adalah tentang menghidupkan harapan, menumbuhkan kasih, dan menjembatani manusia dengan Tuhan serta sesamanya. Hari ini, Islam bukan kekurangan penceramah. Islam kekurangan keteladanan, dan keteladanan tak bisa lahir dari debat. Mengapa tidak mengundang ilmuan nuklir dari Iran saja, yang lebih prospek untuk kedaulatan negara-bangsa? Jangan sampai, debat antaragama merusak kerukunan NKRI.

Leave a Comment

Related Post