Harakatuna.com – Indonesia pernah diguncang oleh serangkaian aksi teror yang mencengangkan, terutama karena pelakunya bukan lagi sekadar pria dengan atribut radikal yang selama ini kerap muncul dalam imajinasi publik, melainkan perempuan.
Perempuan yang semestinya identik dengan kelembutan dan peran sebagai penjaga kehidupan, justru beralih menjadi eksekutor yang siap mengorbankan nyawa, baik dirinya sendiri maupun anak-anaknya.
Beberapa tahun silam, tepatnya pada 13 Mei 2018, bom meledak di tiga gereja di Surabaya. Masih ingat? Hari itu, umat Kristiani yang tengah beribadah mendadak menjadi korban dari aksi yang keji. Di antara kepulan asap dan serpihan kaca yang berserakan, satu fakta menggemparkan mulai terungkap—para pelaku adalah satu keluarga.
Seorang ayah, seorang ibu, dan anak-anak mereka, termasuk anak perempuan berusia belasan tahun, tewas sebagai pelaku bom bunuh diri. Keesokan harinya, ledakan kembali mengguncang, di sebuah rumah susun di Sidoarjo dan Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya.
Tiga tahun berlalu, namun pola itu tidak berubah. Maret 2021, Gereja Katedral Makassar menjadi sasaran berikutnya. Saat itu, sepasang suami istri meledakkan diri mereka di pintu masuk gereja. Hanya berselang beberapa hari, seorang perempuan muda yang baru berusia 25 tahun nekat menerobos masuk ke Mabes Polri dengan pistol di tangannya. Dia melepaskan tembakan sebelum akhirnya dilumpuhkan oleh aparat. Zakiah Aini, namanya.
Tren semacam itu begitu mencolok. Dahulu, perempuan dalam jaringan terorisme cenderung memainkan peran pendukung. Mereka adalah istri yang setia menyuplai kebutuhan suami mereka yang bergerilya. Mereka adalah ibu yang membesarkan anak-anak dalam lingkungan yang dipenuhi narasi jihad.
Mereka adalah simpatisan yang mengumpulkan dana atau menyebarkan propaganda melalui pengajian kecil atau medsos. Tetapi kini, mereka telah melangkah lebih jauh. Dari sekadar pengasuh, penyedia logistik, dan pendakwah, mereka naik tingkat menjadi eksekutor. Mereka sendiri yang memeluk bom itu, menyalakan sumbu kehancuran, dan merenggut nyawa, termasuk nyawa mereka sendiri.
Ada satu pola yang menarik di balik fenomena tersebut. Banyak perempuan yang menjadi bagian dari jaringan teror direkrut melalui jalur pernikahan. Bagi kelompok teroris, pernikahan bukan sekadar ikatan sakral antara dua insan, melainkan strategi yang sangat efektif.
Dengan menikah, identitas asli dapat disamarkan. Tak ada yang mencurigai pasangan muda yang baru saja menikah dan tampak hidup normal seperti masyarakat lainnya.
Dalam jaringan teroris, pernikahan juga berfungsi sebagai sarana untuk memperbanyak anggota. Dari pernikahan itu, lahir anak-anak yang sejak kecil dididik dalam paham radikal, menjadikan mereka generasi penerus dari ideologi yang sama. Dan yang paling berbahaya, pernikahan juga dijadikan cara untuk mencetak eksekutor baru.
Dalam lingkungan yang masih didominasi budaya patriarki, banyak perempuan mendambakan kehidupan yang dianggap “salehah.” Mereka ingin menjadi istri yang taat, perempuan yang memiliki kedekatan dengan Tuhan, dan menemukan makna dalam peran mereka. Para perekrut paham betul bagaimana cara menawarkan mimpi ini.
Mereka datang dengan janji tentang jalan menuju surga, tentang makna hidup yang lebih besar daripada sekadar rutinitas duniawi. Dan ketika seorang perempuan telah berhasil diyakinkan bahwa pengorbanan nyawanya adalah bentuk cinta tertinggi kepada Tuhan, maka ia akan melakukan apa pun—bahkan menekan detonator yang akan mengakhiri hidupnya dan merenggut nyawa orang lain.
Saat ini, propaganda kelompok teroris tak lagi disebarkan melalui pertemuan rahasia di sudut-sudut kota, melainkan melalui medsos. Pada 2014, misalnya, diperkirakan ada sekitar 46.000 akun X yang menyebarkan propaganda teroris, masing-masing dengan ribuan pengikut, yang setiap hari memproduksi ribuan konten ujaran kebencian dan doktrin radikal.
Telegram pun menjadi kanal favorit bagi mereka yang ingin merekrut anggota baru tanpa harus bertatap muka. Banyak perempuan yang awalnya hanya sekadar mencari ilmu agama di dunia maya, akhirnya terjebak dalam jaringan yang berbahaya.
Namun, bagaimana mungkin seorang perempuan yang cerdas, terdidik, dan memiliki kehidupan yang tampaknya baik bisa terseret ke dalam pusaran terorisme?
Jawabannya tidak sesederhana doktrin agama yang diputarbalikkan. Di balik keputusan mereka, ada faktor-faktor psikologis yang kompleks. Banyak dari mereka yang mengalami krisis identitas, merasa kehilangan arah, atau bahkan memiliki trauma sosial yang membuat mereka lebih mudah dipengaruhi.
Bagi sebagian perempuan, terutama mereka yang hidup dalam lingkungan yang keras dan penuh tekanan, narasi jihad bisa menjadi jawaban atas kekosongan yang mereka rasakan.
Di tengah semua gejolak tersebut, pertanyaannya adalah bagaimana menghentikan tren sebelum semakin meluas?
Satu hal yang jelas: pendidikan merupakan kunci utama. Sejak kecil, anak-anak harus diajarkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman. Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang memahami toleransi akan lebih sulit untuk dipengaruhi oleh narasi kebencian.
Di sisi lain, organisasi perempuan harus lebih aktif dalam melibatkan diri dalam program deradikalisasi. Perempuan memiliki peran besar dalam menyebarkan perdamaian. Jika seorang ibu mampu membesarkan anak-anaknya dengan nilai-nilai kemanusiaan yang benar, maka ia telah memutus mata rantai radikalisasi dalam keluarganya sendiri.
Penting juga untuk mulai membangun kesadaran tentang bagaimana pernikahan sering digunakan sebagai alat untuk merekrut anggota baru dalam jaringan terorisme. Banyak perempuan yang memasuki pernikahan tanpa memahami siapa sebenarnya pasangan mereka.
Sebuah program pranikah yang tidak sekadar membahas aspek spiritual dan rumah tangga, namun juga membekali calon pengantin dengan pemahaman yang moderat tentang agama, bisa menjadi langkah kecil namun berdampak besar.
Di era digital, pertempuran melawan terorisme juga harus dilakukan di ranah maya. Jika kelompok teroris bisa memanfaatkan medsos untuk menyebarkan kebencian, maka kelompok yang mengusung wasatiah juga harus lebih agresif dalam menyebarkan narasi yang bertentangan.
Tidak cukup hanya menunggu pemerintah atau organisasi besar yang bergerak. Setiap orang yang memiliki akses ke medsos dapat memainkan perannya dalam menekan arus radikalisasi.
Tahun 2025 telah tiba, dan jika kita melihat ke belakang, kita bisa melihat bagaimana fenomena semacam itu berkembang. Tidak ada jaminan bahwa di masa depan tren tersebut akan menurun jika langkah-langkah pencegahan tidak dilakukan dengan serius.
Perempuan, yang seharusnya menjadi penjaga kehidupan, kini semakin sering menjadi alat untuk menebarkan kematian. Ini adalah kenyataan yang menyakitkan, tetapi juga panggilan untuk bertindak.
Di tengah lautan kebencian yang terus bergelora, masih ada harapan untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi. Dan harapan itu dimulai dari bagaimana kita memperlakukan perempuan—bukan sebagai objek, bukan sebagai alat, tetapi sebagai manusia yang memiliki kekuatan untuk memilih jalan yang lebih baik.









Leave a Comment