Harakatuna.com – Facebook heboh dengan safari dakwah Dr. Zakir Naik, dai internasional asal India yang dikenal dengan style dakwah agresif berbasis debat antaragama, di antaranya ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Di barisan depan, duduk khusyuk Abu Bakar Ba’asyir (ABB), sesepuh jaringan terorisme di tanah air. Dua figur kontroversial dalam satu forum, dalam satu momentum yang menggemparkan dunia permedsosan.
Sebagian menyebut, Zakir Naik tak cocok untuk Indonesia yang bhinneka. Yang lainnya menyebut, dakwah itu beragam dan tidak bisa diseragamkan karena segmennya memang berbeda. Pendapat terakhir ini jelas tidak salah, bahkan memang demikian. Namun, masalahnya, dakwah dengan style apologetik ala Zakir Naik punya pengaruh serius. Sebab, secara style, ia mirip dengan jurus indoktrinasi dalam dunia terorisme.
Penting dicatat bahwa Zakir Naik telah beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Pada 2017, ia disambut antusiasme dan gegap gempita, ketika menggelar safari dakwah dari Yogyakarta hingga Bekasi. Tapi hari ini situasinya tak lagi sama. Kegaduhan politik identitas, polarisasi akibat medsos, hingga perang algoritma terjadi yang dibumbui provokasi-provokasi berbahaya. Editorial Harakatuna kemarin menyebutnya ‘efek ekor jas Zakir Naik’.
Bayang-bayang gelap turut menyelimuti safari dakwah Ustaz Zakir. Di India, polisi menangkap Abubacker Siddique, ahli bom yang terlibat ledakan di kantor BJP Bengaluru, dengan aksi lone wolf yang terinspirasi Zakir Naik. Ia tidak pernah bergabung dalam organisasi teror tertentu. Ia tak hidup di kamp pelatihan. Namun, Siddique menyerap ideologi dari jauh, yakni dari layar, dari narasi dakwah Ustaz Zakir.
Beruntungnya, di Solo, PNIB dan para aktivis kebhinekaan bergerak cepat. Mereka menggelar protes: menyebar spanduk, mendesak pemerintah meninjau ulang safari Zakir Naik. Mereka menolak arus besar yang mereka nilai sedang mengancam fondasi keberagaman Indonesia: dakwah yang membentur agama lain, bukan merangkulnya. Mengapa PNIB begitu reaktif seperti itu?
Sebab, PNIB meyakini bahwa animo terhadap Ustaz Zakir merupakan babak terbaru konflik besar dua wajah Islam: yang rahmatan lil alamin dan yang berbaju apologetik-konfrontatif; dakwah yang memeluk-erat atau dakwah yang mencipta jarak. Zakir Naik berdiri di persimpangan itu, dielu-elukan sebagai dokter Islam oleh pengikutnya, tapi dianggap sebagai propagandis sektarian oleh para pengkritiknya.
Pada saat yang sama, Solo, tempat ia berorasi kemarin, merupakan tempat di mana kelompok teror tumbuh dan berkembang, mulai JI, MMI, dan lainnya. Di zaman ketika ideologi tidak lagi disebar lewat panji dan pedang, melainkan lewat video viral dan retorika sistematis, masyarakat perlu bertanya ulang: apakah ada keterkaitan terselubung antara safari dakwah apologetik Ustaz Zakir dengan kebangkitan kembali ABB dan terorisme?
Membaca Zakir Naik dan Style Dakwahnya
Zakir Naik bukan penceramah biasa. Ia pendakwah yang menjadikan agama sebagai arena debat, dan kebenaran sebagai sesuatu yang bisa dikalkulasi secara matematis. Dengan setelan jas rapi dan style retoris yang memukau, Ustaz Zakir tidak menasehati umat dengan kelembutan. Ia tampil bak jaksa di ruang sidang, memanggil Injil, Veda, dan Tripitaka sebagai barang bukti, lalu menghantamnya dengan hujah-hujah Al-Qur’an sebagai ‘bukti utama’.
Banyak orang memuja style semacam itu sebagai wujud kebangkitan Islam modern. Style apologetik jadi jurus jitu menjawab tantangan zaman: penuh data, rasional, dan ofensif. Ustaz Zakir menjelma ‘pembela Islam’ yang bicara dengan statistik dan kutipan kitab suci berbagai agama, hafal sampai nomor halaman, lengkap dengan efek dramatis: “Buka Injil Yohanes, pasal sekian, ayat sekian…,” seolah-olah agama adalah arena duel kitab suci.
Padahal, di balik tepuk tangan menggelegar dan lautan pengikut yang terkagum-kagum, ada problem: cara berpikir yang ia tanamkan. Zakir Naik tidak mengajak berpikir kritis, ia mengajak untuk menang. Pada setiap ceramahnya, kebenaran tak dicari, melainkan diklaim. Dialog bukan untuk memahami, namun untuk membungkam. Dakwah berubah jadi adu argumen, dan agama direduksi jadi kompetisi superioritas antarteks.
Style dakwah Ustaz Zakir memang tampaknya efektif memuaskan dahaga psikologis sebagian Muslim yang selama ini merasa teralienasi di tengah arus globalisasi dan dominasi Barat—termasuk arogansi Zionisme di Israel. Zakir Naik menawarkan semacam ‘pembalasan simbolik’, membalik stigma dengan menguraikan kecacatan Kristen, Yahudi, dan lainnya. Bagi pengikutnya, Ustaz Zakir merupakan juru selamat intelektual.
Kendati demikian, apologi ala Zakir Naik akan menyempitkan agama jadi arena identitas: yang berbeda adalah lawan, dan yang tidak sejalan adalah sesat. Style dakwahnya membentangkan arena konfrontasi, tidak mengajak memahami kemajemukan, namun menanamkan rasa ‘egois’ terhadap perbedaan. Dan dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, jelas narasi semacam itu sangat problematis dan berbahaya.
Dakwah Apologetik dalam Terorisme
Apa benang merah antara style dakwah apologetik dan terorisme? Banyak orang takut untuk mengaitkannya secara langsung. Toh, tidak semua pendengar Zakir Naik berubah jadi ekstremis. Namun, sejarah radikalisasi menunjukkan, terorisme kerap sekali lahir dari konstruksi berpikir, dari cara pandang terhadap dunia yang dikotakkan menjadi hitam dan putih, benar dan sesat, kawan dan lawan. Al-wala’ wa al-bara’, fondasinya.
Dalam konteks itulah, dakwah apologetik jadi mirip dengan indoktrinasi teroris. Bukan karena substansinya mengajak membunuh, tetapi karena narasinya menciptakan dikotomi dunia yang begitu ekstrem. Bayangkan bahwa kebenaran akan dianggap absolut, lawan dianggap ancaman yang halal didebat bahkan diperangi, dan misi dakwah bergeser jadi proyek pembuktian kebenaran dan penghakiman atas mereka yang berbeda.
Masyarakat perlu tahu satu fakta, bahwa indoktrinasi terorisme juga tak selalu dilakukan dengan i’dad ‘askari. Radikalisasi dimulai dari wacana. Dari rekaman suara, ceramah daring, video pendek, hingga potongan khotbah yang memicu resonansi psikologis pendengarnya. Pelaku lone wolf memulai perjalanannya dari konsumsi konten semacam itu, lalu mentalnya terpapar ideologi hitam-putih, dan akhirnya ikut terjun jadi teroris.
Harus diakui, bahwa sebagian narasi Zakir Naik sangat mirip mekanisme kognitif dalam rekrutmen teroris. Pola pikir ngotot atas kebenaran tunggal, glorifikasi atas penderitaan umat, dan komparasi ofensif agama-agama bukanlah dakwah yang mengajak kedamaian, dan justru bisa membentuk karakter keagamaan yang agresif, penuh dendam, dan kehilangan empati pada siapa pun yang dipandang berbeda.
Kasus Siddique di India adalah contoh mutakhir. Bukankah Ustaz Zakir tidak pernah menyuruh membunuh? Betul, tapi tidak berarti ceramahnya steril dari efek kekerasan. Seperti ideologi, dakwah apologetik akan menjelma jadi peluru di benak umat yang rapuh, frustrasi, atau kehilangan arah. Bagi mereka yang rentan radikalisasi, retorika ala Ustaz Zakir adalah pisau yang mengiris batas antara yang haq dan yang bathil.
Jika Indonesia ingin mempertahankan pluralisme, maka masyarakat mesti berani mengkritisi style dakwah yang secara struktural mengikis toleransi. Harus ada pertanyaan kritis dan tajam: apakah style apologetik benar-benar menyebarkan Islam sebagai rahmat, atau justru menjadikannya proyek dominasi simbolik yang menyulut ketegangan antarumat? Kalau itu terjadi di Indonesia, maka konflik seperti di Ambon dan Poso akan terulang.
Ustaz Zakir Naik merupakan cermin eksklusivisme. Kendati ia tidak bisa menjadi penyebab tunggal, ia tetaplah simbol style dakwah yang perlu kita waspadai. Sebab jika masyarakat hanya menilai dakwah dari jumlah audiens dan gemuruh tepuk tangan, mereka akan lupa bertanya: berapa banyak dari jemaah Ustaz Zakir yang diam-diam membawa pulang kebencian yang terdandani dengan dalil apologis? Semoga negara ini aman dari terorisme.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment