Harakatuna.com – Ibadah merupakan suatu aktivitas keagamaan yang dapat menimbulkan respon relaksasi melalui keimanan yang akan menyebabkan seseorang selalu berdzikir (ingat kepada allah). Kemudian dari dzikir inilah akan menimbulkan rasa tenang, tentram, dan nyaman di dalam hati. Sehingga menghilangkan rasa gelisah, putus asa, dan ketakutan. Sebagaimana dalam firman allah disebutkan
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Salah satu ibadah yang kita amalkan sehari-hari adalah sholat, hampir diseperempat waktu kita dalam sehari kita gunakan untuk sholat. Namun pertanyaannya apakah ibadah ini hanya sebatas kewajiban bagi setiap muslim, atau kebutuhan Rohani kita sebagai wasilah untuk semakin dekat kepada allah untuk menuju jalan kesuksesan dunia akhirat.? Lalu apakah benar Ketika kita dalam keadaan gelisah sholat bisa menjadi penyembuh ketenangan hati kita?
Allah SWT. Berfirman di dalam surat Al mukminun ayat 1-2 yang berbunyi:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Artinya: “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya”.
Di dalam Tafsir Ibnu Katsir beliau menjelaskan:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
Allah mengabarkan bahwa hamba-hamba-Nya yang beriman itu beruntung, sukses, dan Bahagia.
“Al-falāh” artinya keberuntungan, keselamatan, dan memperoleh apa yang dicari serta selamat dari apa yang ditakuti. Jadi, orang beriman yang memiliki sifat-sifat berikut ini adalah orang yang memperoleh keberuntungan hakiki, baik di dunia maupun akhirat.
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Yakni orang-orang yang merendahkan diri dalam salat mereka, tenang, tidak menoleh ke kanan-kiri, tidak melakukan perbuatan sia-sia. Khusyu’ berarti hati yang tenang, penuh ketundukan, serta merasakan kehadiran Allah. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: “Khusyu’ adalah kekhusyukan hati. ”Dari Ibnu Abbas, beliau berkata: “(Khusyu’) adalah takut dan tenang.”
Khusyuk dalam shalat dapat menjadi sebuah meditasi dengan tingkatan yang paling tinggi. Dikatakan tingkatan meditasi yang paling tinggi karena khusyuk dalam shalat tidak hanya melibatkan pemusatan pikiran, tetapi juga melibatkan pemikiran yang mendalam serta gerakan-gerakan tubuh yang tidak dilakukan pada saat meditasi.
Dan hal ini juga sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Saw., yang mengatakan:
عنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
“جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ”
Artinya: “Dijadikan penyejuk mataku (kebahagiaan dan ketenangan hatiku) ada dalam shalat.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad, dan lainnya; sanadnya hasan shahih).
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
Artinya: “Apabila Nabi ﷺ ditimpa kegelisahan atau kesulitan, beliau segera shalat.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya; Shahih)
Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, tapi juga sarana untuk mendapatkan ketenangan hati, kebahagiaan batin, dan solusi dari kegelisahan. Shalat adalah bentuk dzikir paling agung, sehingga ia dapat menenangkan hati orang yang melaksanakannya dengan khusyuk.
Oleh: Fatih Maulana.









Leave a Comment