Harakatuna.com – Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki keanekaragaman paling heterogen di seantero jagat raya. Mulai dari suku, budaya, ras, agama, bahasa, hingga ideologi, setiap keragaman tersebut terintegrasi di dalam Bhinneka Tunggal Ika. Saking heterogennya, etika tasamuh pun melekat pada tokoh-tokoh agama beserta masyarakat pada umumnya.
Misalnya, ketika di momen Idulfitri seluruh umat muslim berbondong-bondong menjalankan shalat ‘ied. Sementara, orang-orang Kristen bertugas menjaga ketertiban di sekitar lingkungan shalat agar pelaksanaan ibadah tetap kondusif dan aman. Namun, bukannya melahirkan manfaat, keanekaragaman yang tidak dapat disikapi dengan baik justru bisa menjadi bumerang penyebab konflik yang berkepanjangan.
Intoleransi: Siklus yang Berkelanjutan
Di zaman rezim yang kian otoriter, akhir-akhir ini telah terjadi kasus intoleransi di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti kasus pembubaran dan pengrusakan rumah tempat kegiatan keagamaan di Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat pada akhir Juli 2025 lalu. Ada pula penghancuran rumah doa umat Kristen di Padang, Sumatra Barat pada 27 Juli 2025. Berbagai fenomena ini dinilai melanggar hak kebebasan beragama dan berkeyakinan yang mengindikasikan merosotnya perlindungan HAM.
Tidak hanya terjadi di dunia nyata, di era internet ini intoleransi mudah terjadi di media sosial dalam bentuk verbal. Sebenarnya tindakan tasamuh dapat dengan mudahnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dibantu oleh teknologi digital yang begitu banyak jenisnya. Gambaran tindakan tasamuh dapat divisualisasikan dalam beragam konten seperti di platform YouTube.
Hal ini pula yang direalisasikan oleh seorang penulis sekaligus dai, yakni Habib Ja’far yang kini produktif menjadi content creator. Habib Husein Ja’far Al-Hadar merupakan salah satu dai yang berdakwah melalui kanal Youtube yang diberi nama Jeda Nulis.
Ajaran Tasamuh di Dalam Class Of Religion
Jeda Nulis berisi konten dakwah yang dikelola oleh Habib Ja’far sejak tahun 2018. Salah satu episode konten yang memikat perhatian warganet adalah Class of Religion. Class of Religion merupakan konten yang terinspirasi dari program yang dipersembahkan oleh Ruang Guru, yaitu Clash of Champion. Dari Class of Religion, masyarakat dapat menyaksikan enam tokoh agama yang berbeda dipadukan menjadi satu tim.
Mereka bermain di dalam sebuah kompetisi yang topiknya seputar wawasan dari enam agama di dunia. Konten dakwah digital Class of Religion dirancang untuk menyampaikan amanat dan nilai-nilai keagamaan melalui pesan verbal maupun non verbal. Enam tokoh agama yang dikumpulkan tersebut di antaranya Islam, Kristen Protestan, Katholik, Budha, Hindu, dan Konghucu. Mereka kemudian bermain games, saling berdiskusi bersama sambil berdakwah berdasarkan agama yang dianutnya.
Di Indonesia sendiri sikap intoleransi masih tampak di berbagai sudut wilayah. Masih terdapat sebagian umat yang belum begitu memahami konsep mengenai toleransi, atau jika di dalam Islam disebut dengan tasamuh. Apabila kita hobi scrolling media sosial, kita kerap menjumpai konten-konten dakwah ajaran Islam yang berasal dari dai-dai terkenal.
Seperti Ustaz Hanan Attaki, Ustaz Khalid Bassalamah, Aa Gym, Ustazah Oki Setiana Dewi, dan seterusnya. Akan tetapi, belum ada yang menciptakan konten bertemakan hakikat toleransi yang sesungguhnya. Wawasan tentang ilmu tasamuh masih diperlukan oleh masyarakat Indonesia yang sangat beragam.
Class of Religion adalah ragam konten masa kini yang bertujuan untuk menyampaikan pesan agama melalui metode kontemporer. Seri konten ini dikemas semenarik mungkin agar penonton mempunyai keinginan untuk meyaksikan sekaligus belajar. Selain itu, dapat dengan mudah dipahami terutama oleh kalangan generasi milenial. Class of Religion mengumpulkan enam tokoh agama untuk berpartisipasi di dalam adu cerdas cermat.
Pembelajaran lintas agama, toleransi, dan mempererat persatuan di tengah keberagaman merupakan fasilitas yang disediakan dari program ini. Dari Class of Religion, kita tidak hanya melihat aspek edukatifnya, tetapi juga dapat merasakan suasana positif penuh hangat dan keakraban. Konten ini mencerminkan kerukunan di antara umat beragama yang berbeda-beda. Lebih dari itu, pada puncak kompetisi Class of Religion menonjolkan esensialnya kerja tim serta menghargai perbedaan sebagai kekayaan bangsa.
Di dalam scene Class of Religion Habib Ja’far mengungkapkan bahwa setiap agama memiliki perbedaan dalam kebenaran. Namun, ada satu titik persamaannya yaitu mereka sama-sama mengajak dan mengajarkan tentang kebaikan. Dari sini kita dapat menarik benang merah bahwa setiap agama itu meyimpan perbedaan dan persamaan.
Berarti hal ini melambangkan makna toleransi dan humanisme. Toleransi mengarah pada perbedaan agama, sementara kebaikan merupakan sebuah tindakan yang diajarkan oleh semua agama. Menurut Habib Ja’far, Class of Religion ialah sebuah tontonan yang diharapkan mampu menjadi tuntunan dalam kehidupan beragama.
Secara general, kanal Youtube Jeda Nulis berhasil mempromosikan tentang tasamuh sebagaimana yang diajarkan di dalam QS. Al-Kafirun. Aspek audiovisualnya didesain secara kreatif dengan metode kolaboratif lintas agama. Episode konten yang sarat akan makna seperti Class of Religion menampilkan sinergisitas yang belum pernah diperlihatkan di belahan negara lain.
Proses interaksi yang santai, diskusi terbuka, dan aktivitas bersama antara umat beda agama dapat diimplementasikan di dalam realita kehidupan. Kegiatan ini tidak sekadar mentransfer pesan toleransi tetapi juga membangun nilai kerukunan sebagai kebenaran alamiah. Ternyata dakwah di platform media sosial berpotensi sebagai sarana efektif guna menyebarluaskan nilai-nilai moderasi beragama. Berbagai konten dapat diciptakan dengan format yang inovatif dan relevan sesuai masyarakat yang majemuk di masa modern ini.









Leave a Comment