China dan PBB Peringatkan Pakistan soal Ancaman Terorisme dari Afghanistan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

03/02/2026

4
Min Read
China dan PBB Peringatkan Pakistan soal Ancaman Terorisme dari Afghanistan

On This Post

Harakatuna.com. Islamabad – Pemerintah China dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara terpisah memperingatkan Pakistan mengenai meningkatnya ancaman terorisme yang berasal dari Afghanistan, serta dampak kekerasan kelompok militan terhadap stabilitas kawasan dan keamanan Pakistan.

Peringatan tersebut disampaikan Duta Besar China untuk PBB, Sun Lei, dalam pembekalan tingkat tinggi terkait Jaringan Peringatan Dini Terorisme untuk Asia Tengah yang digelar pada Jumat. Sun Lei menyebutkan bahwa meskipun kawasan Asia Tengah secara umum masih relatif stabil, namun tetap terdampak oleh efek berantai dari ancaman terorisme lintas negara. “Saat ini, wilayah Asia Tengah tetap secara umum stabil, namun masih sangat dipengaruhi oleh efek meluapnya ancaman teroris,” ujar Sun Lei, seperti dilaporkan media Pakistan, Dawn.

Dalam kesempatan itu, utusan China mendorong Pakistan untuk memperkuat kerja sama dengan Afghanistan guna menanggulangi persoalan keamanan tersebut. Menurutnya, keterlibatan aktif dengan Kabul diperlukan agar Afghanistan tidak kembali menjadi tempat aman bagi kelompok teroris. “Kita perlu memperkuat keterlibatan dan kerja sama dengan Afghanistan untuk mencegahnya sekali lagi menjadi tempat aman bagi organisasi teroris, serta secara bersama-sama mencegah dan menangani kembalinya pejuang teroris asing,” katanya.

Sehari sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyampaikan peringatan serupa kepada Pakistan saat berada di New York. Guterres menegaskan bahwa PBB tetap berkomitmen terhadap empat tujuan utama di Afghanistan, meski menyatakan kekecewaan atas minimnya kemajuan yang dicapai Taliban dalam hal inklusivitas, hak asasi manusia, dan keamanan wilayah.

“Kita harus memastikan bahwa lembaga-lembaga Afghanistan benar-benar inklusif, bahwa semua kelompok etnis diwakili, dan bahwa semua sektor masyarakat diwakili,” ujar Guterres, seraya menyebut hal tersebut sebagai “kondisi dasar bagi konsolidasi perdamaian.”

Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam terkait pembatasan berkelanjutan terhadap hak-hak perempuan di Afghanistan. Dalam aspek keamanan, Guterres menyoroti ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok militan yang beroperasi dari wilayah Afghanistan dan dampaknya terhadap negara-negara tetangga, termasuk Pakistan.

“Segi lainnya adalah kebutuhan untuk memastikan bahwa tidak ada organisasi teroris yang dapat beroperasi dari Afghanistan ke negara lain. Kami sangat prihatin tentang apa yang terjadi dengan Tehrik-e-Taliban Pakistan dan dukungan yang mungkin mereka terima,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Menteri Khyber Pakhtunkhwa, Sohail Afridi, sebelumnya menyatakan bahwa tuduhan Pakistan terkait penggunaan wilayah Afghanistan untuk menyerang negaranya merupakan persoalan serius yang harus didukung oleh bukti kredibel dari pemerintah federal, sebagaimana dilaporkan Tolo News.

Dalam sebuah pertemuan, Afridi menekankan bahwa Afghanistan berbatasan dengan sejumlah negara lain, namun tidak ada negara yang menyampaikan keluhan serupa seperti yang disampaikan Pakistan. “Negara-negara lain juga berbagi perbatasan dengan Afghanistan, tetapi mereka tidak pernah mengajukan keluhan seperti itu. Jika ada klaim bahwa tanah Afghanistan digunakan terhadap Pakistan, bukti harus disajikan. Tanggung jawab pemerintah untuk melakukannya,” ujar Afridi.

Selain itu, Afridi juga mengungkapkan keprihatinan atas deportasi berkelanjutan imigran Afghanistan dari Pakistan. Ia mengkritik cara pengusiran yang dinilai keras dan tidak manusiawi, meskipun banyak warga Afghanistan yang masuk secara legal dan berkontribusi terhadap perekonomian Pakistan.

“Mereka yang datang secara legal, yang bekerja dan telah menciptakan kesempatan kerja bagi orang lain, sedang diusir secara paksa dan kasar. Ada pendekatan diskriminatif di sini antara ‘baik’ dan ‘buruk’ orang Afghanistan, padahal kebijakan seharusnya seragam dan konsisten,” katanya.

Di sisi lain, analis politik Dawood Shiraz memperingatkan bahwa tuduhan berulang dari Pakistan telah berdampak negatif terhadap hubungan Kabul dan Islamabad. Ia mendorong dialog sebagai jalan keluar untuk meredakan ketegangan antara kedua pihak. “Kami memiliki hubungan dengan Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Iran, Pakistan, dan bahkan Tiongkok, namun kami tidak memiliki masalah dengan negara tetangga mana pun. Permasalahan sesungguhnya terletak pada kurangnya perundingan,” ujar Shiraz.

Analis politik lainnya, Fareedullah Zazai, turut menolak tuduhan terhadap Afghanistan. Menurutnya, narasi yang menyebut wilayah Afghanistan digunakan untuk melawan Pakistan atau bahwa pemerintah Afghanistan saat ini bersikap anti-Pakistan tidak memiliki dasar yang kuat. “Naratif bahwa tanah Afghanistan digunakan terhadap Pakistan atau bahwa pemerintah Afghanistan saat ini memiliki sikap anti-Pakistan merupakan tuduhan yang tidak berdasar dan sebagian besar didorong oleh motif politik,” katanya.

Sementara itu, pejabat Emirat Islam Afghanistan secara konsisten membantah klaim Pakistan dan menegaskan bahwa wilayah Afghanistan tidak akan diizinkan digunakan untuk menyerang negara mana pun, sebagaimana dilaporkan Tolo News.

Leave a Comment

Related Post