Harakatuna.com. Barito Utara – SMP Negeri 1 Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, menggelar kegiatan sosialisasi mengenai bahaya paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme, serta dampak negatif penggunaan media sosial, permainan daring (game online), dan perundungan (bullying) di kalangan pelajar.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror melalui Kepala Tim Pencegahan Satgaswil Kalimantan Tengah, Iptu Ganjar Satriyono. Dalam kesempatan itu, para siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Kepala SMP Negeri 1 Muara Teweh, Maslan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Densus 88 Antiteror yang telah memberikan edukasi kepada para siswa terkait berbagai ancaman ideologi yang dapat memengaruhi generasi muda.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Densus 88 yang telah meluangkan waktu untuk memberikan sosialisasi terkait bahaya paham intoleransi, radikalisme, terorisme, serta dampak negatif media sosial dan game online kepada para siswa, khususnya di SMPN 1 Muara Teweh,” ujar Maslan, Kamis.
Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam membina akhlak dan adab peserta didik sehingga mereka mampu menjadi penyaring terhadap berbagai paham yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus kita rawat dan lindungi bersama. Sekolah memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter siswa agar tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan dan toleransi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Tim Pencegahan Satgaswil Kalimantan Tengah Densus 88 Antiteror, Iptu Ganjar Satriyono, menekankan bahwa perkembangan teknologi informasi dan media sosial saat ini harus disikapi secara bijak oleh para pelajar.
Menurutnya, berbagai konten kekerasan maupun paham radikal dapat menyebar melalui beragam platform digital, termasuk media sosial dan permainan daring.
“Kita berkaca pada kejadian percobaan bom bunuh diri di SMA Negeri 72 Jakarta pada November 2025 lalu. Paham kekerasan dan sadistik dapat disebarkan melalui berbagai media, termasuk media sosial maupun game online. Permainan game online sebenarnya tidak salah, namun terkadang dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran paham kekerasan,” jelas Ganjar.
Ia juga menegaskan pentingnya peran sekolah dan guru dalam membimbing siswa agar mampu menyaring berbagai informasi yang mereka terima di ruang digital.
Selain itu, Ganjar mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga generasi muda dari berbagai pengaruh negatif yang berpotensi merusak masa depan mereka.
“Guru tidak hanya menjalankan tugas sebagai pengajar, tetapi juga dapat menjadi teman, orang tua, sahabat, sekaligus tempat bagi siswa untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi,” ungkapnya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Utara, Syahmiluddin A. Surapati, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan sosialisasi tersebut.
Menurutnya, kegiatan edukatif seperti ini sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai bahaya radikalisme, intoleransi, serta pentingnya menggunakan media sosial secara bijak.
“Kami sangat mendukung kegiatan edukasi seperti ini karena dapat memberikan pemahaman kepada para siswa agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta mampu menghindari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan mereka,” ujar Syahmiluddin.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di berbagai sekolah di wilayah Kabupaten Barito Utara sebagai bagian dari upaya membangun karakter generasi muda yang berakhlak, toleran, serta memiliki rasa cinta tanah air.








Leave a Comment