Harakatuna.com. Palembang — Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Sumatera Selatan Densus 88 Antiteror Polri menggelar kegiatan Wawasan Kebangsaan dalam rangka pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) bagi siswa dan siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Palembang, Kamis (5/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan MAN 3 Palembang tersebut diikuti oleh sekitar 650 peserta. Program ini merupakan hasil kerja sama antara Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri dengan pihak sekolah, serta melibatkan influencer Kota Palembang, Rondot, sebagai bentuk pendekatan edukatif yang komunikatif dan relevan dengan karakter generasi muda.
Acara tersebut dihadiri jajaran manajemen MAN 3 Palembang, di antaranya Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Fitrah Gunawan, M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas H. Andarusni Alfansyur, S.Pd., M.Pd., perwakilan guru, serta seluruh siswa dan siswi peserta kegiatan.
Kegiatan dipimpin oleh Ipda Fachrurozi, S.H., dengan menghadirkan narasumber dari Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri, yakni Ipda Fachrurozi, Briptu M. Alfarezi, S.H., Briptu Nicolas Saputra, S.H., serta influencer Rondot.
Dalam penyampaian materinya, Tim Pencegahan menekankan pentingnya pemahaman dasar hukum pelaksanaan tugas pencegahan oleh Densus 88 AT Polri, penguatan nilai-nilai Pancasila, serta peningkatan kewaspadaan pelajar terhadap ancaman ideologi radikal, kekerasan, dan terorisme.
“Radikalisme dan intoleransi bisa muncul dari berbagai latar belakang. Karena itu, penguatan nilai kebangsaan dan toleransi harus ditanamkan sejak dini, terutama di kalangan pelajar,” ujar Ipda Fachrurozi dalam pemaparannya.
Selain itu, materi juga membahas tantangan penguatan nilai kebangsaan di era digital. Para peserta diberikan pemahaman mengenai sarana dan pola penyebaran paham radikal, mulai dari media sosial, situs web, akun digital, hingga permainan daring (game online).
Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel juga menjelaskan bahwa terorisme merupakan sebuah proses yang dikenal dengan istilah IRET. Peserta diajak mengenali contoh-contoh perilaku intoleransi dan radikalisme yang dapat ditemui dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan pelajar, serta dampak negatifnya terhadap dunia pendidikan.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan berkelanjutan, kegiatan ini menekankan peran strategis generasi muda, pihak sekolah, dan orang tua dalam mengawasi serta membimbing aktivitas digital anak agar tidak terpapar paham IRET.
“Pengawasan dan pendampingan dari sekolah dan orang tua sangat penting agar anak-anak tidak terjerumus pada konten-konten yang mengarah pada intoleransi dan radikalisme,” kata salah satu narasumber.
Secara keseluruhan, kegiatan Wawasan Kebangsaan Pencegahan Paham IRET di MAN 3 Kota Palembang berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi langkah preventif yang efektif serta mendorong para pelajar untuk menerapkan dan menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.








Leave a Comment