Catatan untuk Pemikiran “Menusantarakan Islam” Karya Aksin Wijaya

Dr. Anwar Mujahidin, MA

28/07/2024

6
Min Read
islam

On This Post

Judul Buku: Menusantarakan Islam: Menelusuri Jejak Pergumulan Islam yang Tak Kunjung Usai di Nusantara, Penulis: Prof. Dr. Aksin Wijaya, Penerbit: IRCiSoD, Tahun Terbit: 2024, ISBN: 978-623-8108-55-8, Tebal Buku: 318 Halaman, Peresensi: Dr. Anwar Mujahidin, MA.

Harakatuna.com – Buku karya Aksin Wijaya berjudul “Menusantarakan Islam” yang terbit di IRCiSoD menyatakan bahaya kolonialisasi budaya Arab terhadap budaya Nusantara. Budaya Arab didefinisikan sebagai Islam yang telah dipraktikkan di Arab yang diekspor ke Indonesia. Aksin membedakan antara Islam yang universal yang berupa pemikiran keilmuan, dan Islam historis yang telah dipraktikkan di lokal dan waktu tertentu.

Budaya Arab atau juga disebut Islam Arab dianggap akan menggusur Islam yang dipraktikkan di Indonesia. Penggusuran itu akan terjadi karena Islam Arab menganggap Islam Indonesia sebagai Islam yang menyimpang dari aslinya dan Islam Arab mengklaim sebagai Islam yang benar yang terjaga keasliannya.

Aksin menyerukan adanya dialog antara Islam dengan budaya setempat atau budaya lokal. Aksin memandang bahwa pertarungan yang terjadi pada masa kini antara Islam Arab yang dibawa oleh gerakan Islam transnasional dan Islam Nusantara adalah fenomena kekerasan baik kekerasan fisik maupun kekerasan pemikiran.

Kekerasan yang dinilai sebagai kekerasan atas nama agama tersebut dianggap akan melemahkan budaya Nusantara. Lebih dari itu, Aksin memandang bahwa hubungan Islam dengan budaya lokal yang diikuti dengan kekerasan tidak memberikan ruang kondusif bagi masyarakat beragama untuk mengekspresikan paham dan keyakinan keagamaannya.

Kerumitan pemikiran Aksin adalah pada bagaimana melihat hubungan Islam dengan budaya Arab. Apa yang dimaksud budaya Arab? Apa yang dimaksud Islam? Pertanyaan tersebut perlu didudukkan karena pertemuan antar budaya merupakan hubungan yang kompleks.

Hubungan Islam dengan budaya Arab adalah hubungan kebudayaan, hubungan antara gagasan, pemikiran, dengan praksis lokal Arab. Secara teoretis bisa disebut sebagai hubungan yang universal dengan yang lokal atau juga hubungan antara teks dengan konteks. Pemikiran muncul dari hasil dialektika dengan praksis kesejarahan sehingga teks memiliki konteks.

Secara historis, dialektika antara teks dengan konteks, antara Islam dengan budaya Arab secara dinamis ketika Islam turun di bumi Arab kemudian bergerak menuju ke luar Arab seiring sejalan dengan proses dakwah dan ekspansi dari zaman Nabi, al-khulafa’ al-rasyidun, Mu’awiyah, Abbasiyah, hingga Utsmani.

Pada zaman Abbasiyah sudah terjadi pertemuan antara Islam, Arab, dengan non-Arab bahkan Eropa sehingga terjadi masa keemasan Islam yang ditandai dengan tumbuhnya pemikiran dan ilmu-ilmu, baik keislaman maupun filsafat. Karya-karya keilmuan yang lahir di masa Abbasiyah tidak bisa disebut lagi sebagai budaya Arab, karena telah ada pertemuan dengan logika dan filsafat Yunani.

Kalau yang dimaksud Aksin sebagai Islam Arab yang membawa budaya Arab adalah gerakan Islam transnasional, maka gerakan tersebut tidak tunggal dan tidak hanya berasal dari Arab Saudi. Ragam gerakan Islam transnasional telah berinteraksi dan beradaptasi dengan budaya dari berbagai negara. Sejarah Wahabi sudah berkembang ke luar wilayah Arab bahkan ke Inggris.

Ketika Wahabi masih di tanah kelahirannya di Arab Saudi dan sebagian wilayah Timur Tengah seperti Yaman dan Yordania, gerakan paham tersebut justru kurang mampu berkembang. Jama’ah Tabligh berpusat di India Utara. Pusat jaringan Ikhwanul Muslimin berada di Mesir. Gerakan jihadi berpusat di Afghanistan, Moro, dan Sudan.

Agenda gerakan kelompok Islam transnasional juga beragam sesuai dengan ideologi masing-masing. Jama’ah Tabligh lebih ke jaringan amar makruf dengan metode kekeluargaan dengan khuruj saling bersilaturahmi. Mereka belum memiliki ambisi politik. Ikhwanul Muslimin memang memiliki ambisi politik membangun negara Islam. Sedangkan Wahabi harus dibedakan dengan jihadi, karena Wahabi lebih fokus pada pemurnian Islam melalui jalur pendidikan. Sementara itu, jihadi bertujuan meruntuhkan hegemoni Barat dengan pendekatan kemiliteran. Dengan demikian menyatakan gerakan Islam transnasional sebagai Arab-sentris merupakan suatu simplifikasi.     

Dalam konteks hubungan Islam dengan budaya Nusantara, perjumpaan dengan budaya Arab tentunya sudah berlangsung sejak kehadiran Islam di Nusantara itu sendiri. Islam yang datang ke Nusantara, sebelum Indonesia merdeka tidaklah tunggal. Berbagai varian Islam baik yang Sunni maupun Syiah datang ke Nusantara.

Sunni yang datang ke Nusantara juga berbagai ragam mazhab keagamaan dan pemikiran, baik yang berbasis fikih, tasawuf, maupun filsafat. Mereka mengalami dinamika baik sesama Islam maupun dalam berhubungan dengan budaya lokal Nusantara. Hubungan Islam dengan masyarakat yang berpegang teguh pada tradisi lokal Jawa misalnya, tergambarkan dengan apik oleh Clifford Geertz sebagai hubungan santri-abangan.  

Dengan demikian, proyek Aksin menusantarakan Islam dalam pengertian melepaskan agama dari bayang-bayang budaya Arab adalah proyek yang absurd. Pertama, Islam sendiri secara generik dan kontekstual sulit dipisahkan dengan budaya Arab. Bahasa Arab adalah bagian budaya sedangkan orang yang memeluk Islam senantiasa berinteraksi dengan bahasa Arab, karena sumber keagamaannya berbahasa Arab, nabinya orang Arab, pemikir-pemikiran keagamaannya juga berbahasa Arab.

Kedua, gerakan Islam transnasional juga merupakan hasil interaksi antara pemikiran tokoh tentang Islam dengan problem masyarakat baik tingkat lokal maupun global yang tersebar tidak hanya di Arab. Kehadiran Islam transnasional di Indonesia juga tidak mesti kolonialisasi Arab yang menggusur budaya lokal. Mereka akan berdialog dan berinteraksi sehingga terjadi proses kebudayaan yang memungkinkan diterima atau ditolak. 

Ketiga, interaksi Islam dengan berbagai varian pemikirannya dengan budaya lokal Nusantara telah berlangsung dalam waktu yang panjang sejak Islam masuk ke Nusantara. Bangsa Indonesia telah memiliki pengalaman mengenai bagaimana berinteraksi dengan budaya dan pemikiran dari ‘Arab” dan budaya pemikiran Islam lainnya. Pertanyaanya apakah interaksi tersebut menghasilkan bentuk Islam Nusantara yang progesif atau konservatif?

Bisa jadi kekhawatiran datangnya gerakan Islam transnasional adalah bentuk ketidakpercayaan diri. Bila memang gerakan Islam Indonesia progresif, kritis dan rasional selayaknya menyambut gerakan Islam transnasional dengan percaya diri dan siap berinteraksi dengan berbagai ragam budaya. Percaya diri dapat menangkal segala bentuk residu ketika berinteraksi dengan budaya lain.

Pemikiran Aksin menusantarakan Islam sama dengan memasuki gang buntu. Cita-cita untuk menghindari kekerasan dan membiarkan Islam tumbuh dengan bebas sehingga muncul kreativitas yang genuine adalah cita-cita yang mulia. Namun Aksin mengalami blunder ketika mengkritik kehadiran Islam transnasional sebagai kolonialisasi budaya Arab. Perubahan kebudayaan membutuhkan perjumpaan antar kebudayaan.

Produktivitas dan anti-kekerasan terjadi bila perjumpaan dan interaksi tersebut berlangsung dengan negosiasi yang damai, setara tidak ada dominasi dan hegemoni. Anggapan Aksin bahwa gerakan Islam transnasional sebagai Islam Arab yang berbahaya akan memicu kekerasan kepada budaya Arab.

Penolakan Aksin terhadap budaya Arab justru kontradiktif dengan usahanya untuk menusantarakan Islam. Alih-alih terwujud model Islam yang menjawab berbagai persoalan dalam dunia modern dan menghindari kekerasan, yang terjadi justru sebaliknya, tumbuh sikap arogansi lokal, sikap tertutup karena merasa yang Nusantara yang baik dan benar. Kekerasan justru menjadi-jadi akibat resistansi atau penolakan terhadap organisasi-organisasi keagamaan atau pemikiran dari luar terutama yang berafiliasi dengan gerakan Islam transnasional. Kasus GP Ansor membubarkan berbagai pengajian yang diindikasi garis keras.

Selain itu, organisasi-organisasi keagamaan mainstream di Indonesia, sebut saja NU dan Muhammadiyah justru akan semakin arogan dan menjadi status quo. Ormas keagamaan tersebut merasa yang paling cocok berada di Indonesia dan paling mampu berinteraksi dengan budaya lokal. Sikap arogan tersebut menutup terjadinya dialog untuk perubahan kebudayaan ke arah yang lebih progresif.

Leave a Comment

Related Post