Budaya Membaca: Langkah Awal Anak-anak Mengenal Literasi

Dwi Noviyanti

06/07/2024

5
Min Read
literasi baca

On This Post

Harakatuna.com – Dalam KBBI, literasi memiliki beberapa arti, salah satunya kemampuan menulis dan membaca. Dua kemampuan dasar manusia yang selalu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun teknologi kian canggih. Kemampuan seorang menulis masih sangat dibutuhkan. Misalnya ketika ingin membeli bakso, tapi malas jalan. Cukup mengirim pesan singkat dan bakso pun sampai secepat kilat. Hanya perlu menulis sedikit kata, tak perlu banyak usaha.

Begitu pun dengan membaca. Coba sebutkan hal apa yang tidak diawali dengan membaca. Rasanya tidak ada, kan? Semua aktivitas diawali dengan membaca. Ingin memesan makanan harus membaca menu. Menggunakan moda transportasi umum yang pertama dilakukan baca rute jurusan. Bahkan sebelum makan pun diwajibkan membaca doa. Artinya, budaya membaca itu penting.

Sebagai seorang Muslim, hal pertama yang malaikat tegaskan kepada Rasulullah dalam menerima wahyu adalah iqra’ yang berarti bacalah. Membaca jadi modal untuk mewujudkan peradaban manusia yang lebih baik. Berawal dari membaca melahirkan kemampuan lainnya seperti menulis, berhitung, dan mengolah informasi untuk kehidupan.

Membangun literasi dalam kehidupan sehari-hari bekal utamaya adalah membaca. Baca saja dulu, kemudian telaah apa yang mampu diserap dari sebuah bacaan. Seseorang yang mampu membaca dengan baik, pastinya akan menyerap ilmu yang terkandung dalam bacaan.

Itu sebabnya, para orang tua yang memiliki anak kecil berusia lima sampai enam tahun berusaha agar anaknya dapat membaca. Bekal memasuki jenjang pendidikan dasar agar kelak sang anak dapat menyerap ilmu dari banyaknya bacaan di sekolah. Memasukkan anak ke lembaga pelatihan calistung: baca tulis hitung, jadi tujuan utama mereka.

Ada banyak anak dengan mudahnya belajar baca. Namun, tidak kalah sedikit anak-anak yang tidak suka membaca. Lebih tertarik dengan berhitung. Mungkin saja karena berhitung adalah ilmu pasti dan menggunakan logika. Sehingga belajarnya pun lebih mudah dipelajari.

Sedangkan membaca, anak-anak butuh effort. Usaha untuk menghafal 26 huruf yang dirangkai menjadi sebuah kata. Huruf besar dan kecil yang memiliki bentuk berbeda. Harus tahu mana huruf vokal dan konsonan. Teknik merangkai huruf yang berbunyi sengau atau imbuhan. Kesukaran seperti itu yang akhirnya membuat sebagian anak membenci belajar baca.

Sejujurnya, ini jadi pengalaman pribadi saya menghadapi anak yang tidak suka belajar membaca. Anak lebih suka berhitung. Diberi soal satu halaman berhitung dengan variasi penambahan dan pengurangan, hanya butuh lima menit sudah selesai dikerjakan.

Namun, saat diberi satu baris kalimat terdiri empat kata, butuh waktu setengah jam baru bisa dibaca. Melihat usia anak sudah hampir memasuki sekolah dasar. Memaksa dia belajar baca kerap kali dilakukan. Hingga akhirnya, tiap kali mengeluarkan buku belajar baca, anak kabur, berdrama, atau kadang menangis.

Tanpa disadari ternyata cara saya memaksa merupakan sumber masalah anak tidak suka belajar baca. Rasanya memang tidak ada yang suka kalau dipaksa melakukan sesuatu. Lalu apa yang harus dilakukan agar anak mau belajar baca dengan sukarela?

Awalnya saya berhenti memaksa anak belajar baca. Namun, kemudian mengalihkan paksaan menjadi hal menyenangkan. Anak menyukai angka, jadi saya buat angka besar dengan pensil warna di kertas A4. Di bawahnya tulis ejaan huruf angkanya. Cara ini cukup berhasil membuat anak mengeja huruf.

Kemudian beri anak buku bacaan penuh gambar dan warna dengan sedikit kalimat. Kalimat di setiap halaman, maksimal hanya terdiri dari tiga sampai enam kata. Ini sangat efektif merangsang rasa ingin tahu. Dengan melihat gambar penuh warna akan muncul rasa penasaran dalam benaknya. Ini ceritanya tentang apa, ya? Jika muncul pertanyaan dari anak, dorong mereka untuk mengeja huruf dan membaca tiap katanya. Selalu kasih pujian tiap berhasil membaca satu kata. Pujian bagi anak-anak jadi penyemangat belajar.

Saat anak kesulitan merangkai huruf menjadi kata, usahakan jangan mengoreksi di saat itu. Sabar. Tunggu sampai anak berusaha maksimal memecahkan kesulitannya. Orang tua cukup memberi clue. Hal ini memang sangat sulit dilakukan. Rasanya gereget ingin membantunya menyelesaikan bacaan.

Jika setelah usaha yang dilakukan anak tidak berhasil dan tetap salah baca, saat itulah waktu yang tepat membantunya. Apakah anak tidak dapat membedakan huruf kecil (d) dengan (b), sulit membunyikan huruf sengau, atau kebingungan karena satu kata terdapat huruf konsonan gabungan. Pasti orang tua akan tahu kesulitan yang dihadapi karena telah mendampinginya dengan sabar tanpa menginterupsi di tengah jalan.

Biasanya setelah anak mulai lancar membaca, muncul rasa antusias menemukan buku bacaan baru. Jika demikian ajak ke taman baca atau perpustakaan. Biarkan dia pilih buku yang ingin dibaca. Apabila buku yang dipilih jumlah katanya terlalu banyak, tawarkan diri untuk berkolaborasi saat membaca. Tentukan bagian mana saja yang menjadi jatahnya anak baca.

Melakukan kolaborasi membaca buku, memberi perasaan menyenangkan. Tidak hanya membangkitkan semangat anak belajar baca, tapi juga membuat rasa percaya dirinya meningkat karena mampu membaca bersama.

Benang merah dari apa yang terurai di atas ialah, ternyata belajar membaca tidak bisa dengan cara memaksa. Semakin dipaksa, anak akan merasa tertekan dan berpikir bahwa membaca adalah hal yang tidak menyenangkan. Pemaksaan jadi salah satu kesalahan fatal yang banyak dilakukan orang tua, tanpa terkecuali saya.

Mari ajak anak melakukan aktivitas membaca dan menulis dengan cara-cara yang menyenangkan. Hingga akhirnya terbentuk kebiasaan baik. Diharap, kelak dapat menerapkan literasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak baca, banyak ilmu yang diserap. Ayo budayakan membaca buku bersama anak.

Leave a Comment

Related Post