Harakatuna.com. Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Institute for Economics and Peace (IEP) dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia menggelar diskusi panel bertajuk “Global Terrorism Index (GTI) 2025: Findings and Lessons Learned in Indonesia”, Kamis (10/4) di Jakarta.
Diskusi ini membahas perkembangan, tantangan, dan strategi dalam upaya penanggulangan terorisme di Indonesia berdasarkan laporan GTI 2025 yang dirilis IEP pada Maret lalu. Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT, Andhika Chrisnayudhanto, yang hadir mewakili Kepala BNPT Komjen Pol Eddy Hartono, S.I.K., M.H., menyatakan bahwa forum ini penting untuk memperkuat koordinasi dan kerja sama lintas sektor dalam menangani ancaman terorisme.
“Kami berharap melalui forum ini, kesadaran dan kesiapan kita dalam menangani terorisme semakin meningkat. Diskusi ini menjadi wadah penting untuk memperkuat pendekatan whole of government dan whole of society dalam strategi penanggulangan terorisme,” ujarnya.
Andhika juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan yang tepat, mengingat terorisme masih menjadi ancaman global yang dinamis. Meskipun Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan, kewaspadaan tetap diperlukan. “Meskipun upaya penanggulangan terus mengalami perkembangan positif, kita tidak boleh lengah. Terorisme tetap menjadi tantangan global yang harus kita hadapi bersama,” katanya.
Senada dengan itu, Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri menyampaikan harapannya agar diskusi ini mampu menjadi pemantik lahirnya kebijakan yang relevan dengan dinamika global. “Kami berharap forum ini bisa menghasilkan ide-ide strategis dan kebijakan yang responsif terhadap tren terorisme saat ini,” tutur Yose.
Sementara itu, pendiri dan CEO IEP Steve Killelea memaparkan sejumlah temuan penting dalam laporan GTI 2025. Salah satunya adalah meningkatnya intensitas serangan teror di kawasan Sahel, Afrika, yang kini menjadi wilayah paling terdampak di dunia. “Wilayah Sahel kini menjadi episentrum terorisme global, dengan lebih dari 50 persen kematian akibat terorisme terjadi di kawasan ini. Burkina Faso menjadi negara yang paling terdampak,” ungkap Steve.
Laporan GTI 2025 juga mencatat kemajuan positif yang dicapai Indonesia dalam dua tahun terakhir. Indonesia tidak mengalami serangan teror selama dua tahun berturut-turut, dan menempati peringkat ke-30 dunia dalam kategori “dampak sedang” terhadap terorisme. Capaian tersebut mencerminkan efektivitas kebijakan dan strategi pemerintah dalam menekan aktivitas kelompok ekstremis dan teroris di tanah air.







Leave a Comment