Harakatuna.com. Medan — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI terus memperkuat langkah pencegahan penyebaran paham radikal di kalangan mahasiswa melalui program “Geos to Campus”. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi nasional kontra-radikalisasi, dengan menekankan pentingnya literasi digital dan kewaspadaan terhadap penyebaran ideologi ekstrem di ruang siber.
Deputi I BNPT RI, Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono, menegaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara kelompok radikal melakukan propaganda. Saat ini, media digital menjadi ruang dominan dalam penyebaran paham intoleran dan ajakan kekerasan.
“Penyebaran paham radikal saat ini paling banyak melalui media digital. Mereka memanfaatkan media sosial dan platform online untuk menyusup ke pikiran anak muda,” ujar Eddy Hartono dalam kegiatan Geos to Campus di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, sebagaimana dikutip dari digtara.com, Jumat (17/10/2025).
Menurutnya, mahasiswa sebagai generasi intelektual harus menjadi garda terdepan dalam membendung arus penyebaran ideologi radikal di dunia maya. BNPT mendorong agar setiap kampus mampu membangun budaya literasi digital yang sehat dan kritis terhadap informasi yang beredar.
“Mahasiswa harus cerdas dalam memilah informasi. Jangan mudah percaya pada konten yang mengandung ujaran kebencian, provokasi, atau menyesatkan atas nama agama,” tegasnya.
Ruang Digital Jadi Target Utama Rekrutmen
Dalam paparannya, Eddy menjelaskan bahwa perubahan strategi kelompok ekstrem telah menggeser medan gerakan dari dunia fisik ke ranah digital. Melalui platform seperti media sosial, forum daring, hingga aplikasi pesan instan, mereka membangun jaringan komunikasi tertutup untuk menyebarkan narasi kebencian dan merekrut simpatisan.
“Kalau dulu mereka melakukan rekrutmen secara langsung, kini cukup dengan satu tautan atau grup di media sosial. Ini yang berbahaya, karena menyasar anak muda yang masih mencari jati diri,” katanya.
Program Geos to Campus juga dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, dan mahasiswa. Dalam forum itu, BNPT mengajak kalangan akademisi untuk berkolaborasi dalam memperkuat sistem deteksi dini dan pengawasan terhadap penyebaran paham ekstrem.
Eddy Hartono menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil dalam membangun ekosistem digital yang aman dan produktif. “Upaya pencegahan bukan hanya tugas BNPT, tetapi tanggung jawab bersama. Kampus bisa menjadi benteng pertama yang melahirkan generasi muda yang kritis, toleran, dan cinta damai,” ujarnya.
Mahasiswa Didorong Jadi Agen Perdamaian
Melalui Geos to Campus, BNPT ingin menanamkan semangat kebangsaan dan nilai moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna digital yang aktif, tetapi juga agen perdamaian yang mampu melawan hoaks, provokasi, dan konten radikal di dunia maya.
“Generasi muda harus jadi pelopor kontra-narasi. Gunakan media sosial untuk menyebarkan pesan positif dan nilai-nilai kemanusiaan,” tutup Eddy Hartono.
Program “Geos to Campus” merupakan bagian dari inisiatif strategis BNPT dalam memperkuat pendekatan soft power di bidang pencegahan terorisme. Melalui kegiatan ini, BNPT menegaskan komitmen membangun ekosistem kampus yang aman, inklusif, dan berdaya tangkal terhadap ancaman ideologi radikal, baik di ruang nyata maupun digital.








Leave a Comment