BNPT Ajak Tokoh Muda Lintas Agama Sebarkan Narasi Damai di Dunia Maya

Ahmad Fairozi, M.Hum.

03/07/2025

3
Min Read
BNPT Ajak Tokoh Muda Lintas Agama Sebarkan Narasi Damai di Dunia Maya

On This Post

Harakatuna.com. Pontianak – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prof. Dr. Irfan Idris, M.A., menyerukan kepada para tokoh muda lintas agama untuk aktif menyebarkan pesan perdamaian dan cinta kasih di ruang digital. Menurutnya, hal ini menjadi strategi penting dalam menangkal penyebaran paham radikal dan terorisme yang kini marak melalui platform digital.

Ajakan tersebut disampaikan Prof. Irfan saat memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan “Pitutur Cinta: Implementasi Ajaran Agama dalam Bingkai NKRI dengan Semangat Cinta Kasih bagi Tokoh Muda Lintas Agama” yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat secara hibrida pada Rabu, 2 Juli 2025.

“Kita harus banjiri dunia maya dengan narasi dari para penyuluh enam agama. Intinya adalah menyebarkan rasa damai dan cinta kasih, bukan kebencian,” tegas Prof. Irfan dalam pidatonya.

Ia menekankan bahwa kelompok ekstremis kini semakin gencar memanfaatkan dunia digital untuk menyebarkan ideologi radikal, dengan menjadikan generasi muda dan perempuan sebagai target utama.

“Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dunia digital kini menjadi medium baru penyebaran paham ekstrem, di mana generasi muda menjadi sasaran empuk melalui konten-konten provokatif,” jelasnya.

Prof. Irfan menilai, radikalisme tumbuh subur di lingkungan yang miskin literasi, minim toleransi, dan dipenuhi ujaran kebencian. Ia menggambarkan proses seseorang menjadi teroris sebagai sebuah ‘anak tangga’ yang berawal dari pikiran tertutup (close minded).

“Tidak ada orang yang langsung menjadi teroris. Prosesnya bertahap: dari pikiran yang tertutup, lalu menjadi intoleran, ekstrem, radikal, hingga akhirnya melakukan aksi teror seperti bom bunuh diri,” ungkapnya.

Untuk mencegah proses tersebut, Prof. Irfan menekankan pentingnya memperkuat empat bentuk ukhuwah (persaudaraan), yakni:

  • Ukhuwah Islamiyah: Persaudaraan atas dasar ajaran Islam yang damai.
  • Ukhuwah Wathaniyah: Persaudaraan dalam bingkai kebangsaan Indonesia.
  • Ukhuwah Insaniyah: Persaudaraan antar sesama manusia.
  • Ukhuwah Khulqiyah: Persaudaraan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara bangsa, bukan negara agama, namun masyarakatnya religius. Menurutnya, inti ajaran dari semua agama yang diakui di Indonesia adalah cinta, bukan kebencian. “Makanya judul kegiatan ini adalah Pitutur Cinta, nasehat cinta. Tidak ada kata benci jika ada rasa cinta,” ujarnya.

Kepada para peserta yang terdiri dari penyuluh agama, mahasiswa, dan pelajar, Prof. Irfan berpesan agar terus memperkuat literasi dan narasi, bukan hanya aksi dan emosi, dalam merespons isu-isu kebangsaan. “Jadilah pelopor perdamaian. Gunakan ilmu, tulisan, dan suara Anda untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Karena bangsa yang cerdas dan berkarakter adalah benteng terkuat melawan segala macam bahaya,” pungkasnya.

Sebagai penutup, Prof. Irfan melantunkan sebuah pantun yang mengundang senyum para peserta, “Dari Malaysia mampir ke Dumai. Indonesia itu memang negara damai.”

Leave a Comment

Related Post