Harakatuna.com – Di era yang serba digital ini, segala hal terasa begitu mudah. Apa yang kita inginkan dan kita butuhkan dapat kita akses tanpa perlu merasa kesulitan. Berkat teknologi yang begitu maju, hidup kita benar-benar terasa dimanjakan. Kita tidak perlu repot-repot memasak ketika hendak makan, tidak perlu keluar rumah untuk membeli pakaian atau barang yang sedang kita perlukan, dan bahkan jasa pun dengan mudah kita dapatkan hanya melalui pesan. Hanya perlu “klik, klik, klik” dan… selesai.
Dengan mengakses internet, kita dengan mudah memperoleh berbagai informasi. Berita-berita terkini, gosip artis, informasi beasiswa, lapangan pekerjaan, diskon belanjaan, dan seminar dari motivator yang kita kagumi. Semua itu tersiar dalam satu benda kecil, yang dulunya hanya barang tersier, sekarang beralih fungsi menjadi barang primer. Yang bilamana tertinggal, akan dicari hingga ke belahan dunia mana pun. Dan bagi sebagian orang, benda tersebut bisa menentukan antara hidup dan mati.
Di era digital ini, segala hal menjadi serba online. Belanja online, sekolah online, meeting online, atau bahkan kajian online. Ngomong-ngomong soal kajian online, semenjak segala sesuatu yang serba online ini merajalela, ternyata begitu banyak manfaatnya. Contohnya, zaman sekarang banyak sekali para dai muda yang berdakwah melalui media sosial. Mereka memulai dari video pendek berisi narasi-narasi tentang keagamaan. Ada pula nasihat yang mereka sampaikan untuk sesama kaum muda.
Apalagi dengan generasi muda sekarang, atau yang biasa disebut Gen Z. Mereka adalah sekelompok anak muda yang lahir dari tahun 1997 sampai dengan 2012 dengan kecenderungan menyukai hal yang serba instan dan anti-ribet. Sebenarnya banyak juga ustaz-ustaz berpengalaman, kiai pondok pesantren, dan beberapa ulama besar yang sudah memulai berdakwah melalui media sosial. Namun, yang namanya anak muda, kadangkala cara penyampaian pun menjadi pertimbangan. Selain mempunyai segudang manfaat, media sosial juga dapat menimbulkan mudarat.
Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial juga bisa menjadi ajang persaingan dalam hidup. Mereka berbondong-bondong memperlihatkan kesuksesan, pencapaian di usia muda, dan kebahagiaan mereka. Tanpa diketahui apa yang telah mereka korbankan, jatuh bangun mereka, dan berapa banyak air mata bercucuran menangisi kegagalan. Personal branding yang mereka bangun dan tunjukkan di layar kadangkala tidak sama dengan kenyataan dalam hidup mereka.
Mari coba kita renungkan.
Berapa banyak kasus yang beredar di media sosial. Berapa banyak orang yang memperlihatkan keharmonisan keluarga yang mereka bangun, lalu tiba-tiba muncul pemberitaan tentang perselingkuhan, KDRT, atau bahkan penyimpangan.
Lalu kadangkala kita dihadapkan dengan kesuksesan harta yang melimpah ruah, kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan dan sebarkan di media. Katanya “sebagai motivasi untuk orang lain agar lebih semangat dan lebih berusaha dalam berbagi”. Tetapi tetap saja, niat dalam hati tidak bisa sepenuhnya kita ketahui.
Lalu berapa banyak laki-laki dan perempuan yang membangun personal branding dengan titel “dai, ustaz, ustazah” muda. Membicarakan ilmu agama seolah-olah begitu lihai, tetapi ternyata mendapatkan sumber dari hasil searching Google dan ChatGPT. Sebenarnya tidak ada yang salah, akan tetapi bukankah itu kurang tepat? Mereka jelas sudah disegani oleh anak-anak muda, namun bila ternyata tidak belajar sama sekali dengan ahlinya, bukankah itu termasuk bentuk ketidakjujuran?
Banyak sekali yang berpenampilan begitu meyakinkan, dengan gamis dan hijab panjang, dengan sarung dan peci yang begitu tampan. Memegang buku bacaan bertema keislaman. Ah, terlihat mengagumkan. Lalu video mereka lewat di FYP-mu, membuatmu terkagum-kagum bahkan jatuh cinta dengan apa yang kamu lihat di layar. Tentang keindahan akhlaknya, santun tata bicaranya, dan begitu saleh-salehahnya. Tiba-tiba datang seseorang yang mengaku sebagai kenalannya, membuka aib-aibnya, dan menceritakan keburukannya.
Ya, sebenarnya kita pun harus bijak dalam memproses segala bentuk informasi dan sebisa mungkin berprasangka baik. Mungkin itu masa lalunya, atau mungkin itu sebuah fitnah yang datang dari rasa iri dengki. Atau bilamana itu adalah kebenaran, maka cukup bagi kita untuk mengagumi apa yang telah mereka sampaikan. Lihat apa yang mereka ucapkan, jangan lihat siapa yang menyampaikan, dan selesai, bukan?
Dalam simpang siur media dan segala keindahan yang terlihat di dalamnya, tidak semuanya pasti nyata. Kadangkala orang yang benar-benar baik membagikan keseharian mereka melalui media dengan niat menyampaikan kebaikan, justru diterpa badai fitnah yang begitu kejam. Komentar-komentar sarkas disematkan, hujatan berlebihan dilontarkan, dan kejahatan lainnya dilakukan. Akibat rasa kalah dan iri dengki yang membekas dalam hati, tanpa belas kasih mereka nekat melakukan hal keji untuk menjatuhkan orang yang mereka benci. Sungguh mengerikan dunia zaman ini.
Dahulu kala Rasulullah berjuang dan mengorbankan banyak hal dalam menyebarkan agama Islam. Hartanya habis untuk berdakwah, begitu banyak darah yang bercucuran, dan keluarganya turut menjadi bagian dari perjuangan. Bersama istri tercintanya, Khadijah, yang selalu menemani dan mendukung Rasulullah dalam keadaan apa pun. Sungguh, betapa hinanya seseorang apabila berani mempermainkan syariat dalam agama Islam.
Itulah, saudaraku, pentingnya kita untuk bijak dalam memilih, memperoleh, dan menyampaikan apa yang sudah kita dapatkan. Boleh mengagumi, tetapi tidak berlebihan. Apalagi pada hal-hal yang hanya kita ketahui dari apa yang ditampakkan sekilas. Tidak baik berlarut-larut dan begitu berlebihan dalam menyimpan perasaan. Barangkali nanti kita dikecewakan, siapa yang tahu, bukan?
Seperti yang pernah Ali bin Abi Thalib sampaikan, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” Sesungguhnya tempat paling baik untuk berharap hanyalah kepada Tuhan yang telah menciptakan dan memberi kita kehidupan. Hanya kepada-Nya kita memohon sebanyak apa yang kita inginkan. Dan bila belum mendapatkan, mungkin itu bukan takdir kita. Dan satu-satunya manusia yang harus kita cintai melebihi diri kita adalah sang Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW.
Siti Zulaikhah, lahir dan besar jauh dari hiruk pikuk perkotaan, tetapi pendidikan adalah prioritas yang selalu ia utamakan. Menjadi penulis adalah salah satu cita-cita yang selalu menjadi landasan.
Oleh: Siti Zulaikha.









Leave a Comment