Big Data, Big Responsibility: Etika Muslim di Era Informasi

Harakatuna

23/10/2025

3
Min Read
Ahmad Fairozi, M.Hum Big Data, Big Responsibility: Etika Muslim di Era Informasi

On This Post

Harakatuna.com – Kehidupan manusia modern hari ini tak bisa dipisahkan dari data. Setiap aktivitas digital mulai dari berbelanja daring, bekerja, hingga beribadah secara virtual meninggalkan jejak informasi yang dikumpulkan, disimpan, dan diolah oleh sistem algoritmik. Data kini telah menjadi “minyak baru” yang menggerakkan ekonomi, politik, bahkan kebiasaan sosial kita.

Namun di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan, muncul persoalan yang lebih mendasar: siapa yang menguasai data, dan untuk tujuan apa data itu digunakan? Pertanyaan ini menuntut refleksi moral yang dalam, sebab kekuasaan atas data berarti kekuasaan atas perilaku manusia.

Dalam dunia modern, data telah berubah menjadi bentuk kekuasaan baru. Perusahaan teknologi global seperti Google, Meta, atau TikTok bukan hanya penyedia hiburan, melainkan pengatur perilaku sosial dan ekonomi. Melalui algoritma, mereka menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, bahkan percayai. Inilah bentuk kekuasaan yang lebih halus dari penjajahan fisik, namun tak kalah kuat dalam memengaruhi kesadaran manusia.

Bagi umat Islam, fenomena ini bukan semata isu teknologi, melainkan persoalan etika dan tanggung jawab moral. Islam sejak awal menempatkan ilmu (‘ilm) sebagai cahaya penuntun, bukan alat untuk menundukkan manusia. Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra [17]: 36)

Ayat ini menegaskan prinsip pertanggungjawaban pengetahuan: setiap bentuk informasi, termasuk data digital, adalah amanah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Maka ketika sains data berkembang tanpa arah etika, ia berisiko menjerumuskan manusia pada penyalahgunaan pengetahuan.

Islam mengajarkan bahwa pengetahuan adalah amanah, bukan komoditas. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sampaikanlah amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Seorang data scientist dalam perspektif Islam bukan sekadar pengolah angka, melainkan penjaga amanah informasi. Ia harus memastikan bahwa data digunakan untuk kemaslahatan (maslahah), bukan sekadar keuntungan ekonomi atau kepentingan politik. Prinsip ini sejalan dengan nilai ‘adl (keadilan) yang menjadi inti etika sosial dalam Islam.

Masalahnya, di era digital, batas antara hak pribadi dan publik semakin kabur. Data kesehatan, misalnya, bisa digunakan untuk penelitian medis yang bermanfaat, tetapi juga bisa disalahgunakan untuk diskriminasi atau eksploitasi. Dalam konteks ini, nilai keadilan dan hikmah menjadi panduan moral agar teknologi tetap memanusiakan manusia.

Kesadaran taqwa juga menjadi benteng penting di tengah budaya pengawasan digital (digital surveillance). Dunia bisa merekam setiap gerak-gerik manusia, tapi pengawasan sejati berasal dari Allah ﷻ. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

Artinya: “Tidaklah engkau berada dalam suatu keadaan dan tidaklah engkau membaca suatu ayat dari Al-Qur’an, dan tidak pula kamu mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya.” (QS. Yunus [10]: 61)

Konsep taqwa menanamkan kesadaran batin bahwa teknologi tidak boleh menggantikan nurani. Bahwa di balik setiap inovasi, ada tanggung jawab spiritual untuk menjaga martabat manusia.

Dalam konteks Indonesia, di mana transformasi digital tengah melaju cepat, nilai-nilai etika Islam harus hadir dalam kebijakan dan pendidikan teknologi. Umat Islam Indonesia, dengan semangat moderasi dan kearifan lokal, memiliki potensi besar untuk menghadirkan wajah data science yang berkeadilan dan beradab.

Sains data yang etis adalah sains yang berpihak pada kemanusiaan. Ketika umat Islam ikut terlibat dalam membangun sistem pengetahuan berbasis nilai rahmatan lil ‘alamin, teknologi bisa menjadi sarana dakwah yang lembut, bukan alat dominasi yang kejam.

Akhirnya, tantangan terbesar kita di era big data bukanlah menguasai algoritma, melainkan menjaga moralitas di tengah derasnya informasi. Data hanyalah alat; manusialah yang menentukan arah dan maknanya. Karena di balik setiap byte data, tersimpan amanah kemanusiaan yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Oleh: Chairul (Pemerhati isu teknologi, sains data, dan etika Islam kontemporer. Menulis refleksi tentang pertemuan antara ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan nilai spiritual di era digital).

Leave a Comment

Related Post