Bersikap Husnudzon sebagai Afirmasi Diri

Ahmad Fairozi, M.Hum.

25/09/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Salah satu ajaran Islam yang senantiasa ditanamkan kepada para umatnya adalah bersikap husnudzon. Husnudzon sendiri memiliki arti “berprasangka baik” kepada orang lain. Hal ini dimaksudkan agar seorang muslim terhindar dari prasangka buruk, yang justru akan dapat mencelakakan dirinya sendiri.

Sedangkan lawan dari sikap husnudzon sendiri adalah suudzon berprasangka buruk, yang mana sikap ini dapat diketahui tatkala seseorang memiliki mental yang negatif dan cenderung menduga-duga hal yang buruk atau justru mempunyai asumsi negatif terhadap niat dan perilaku seseorang tanpa adanya alasan yang kuat. Sehingga efek yang ditimbulkan dari sikap suudzon ini sendiri akan mengganggu hubungan sosial, menciptakan konflik antar sesama dan dapat merusak keseimbangan mental dan emosional.

Al-Qur’an sendiri telah memerintahkan kepada umat muslim untuk senantiasa bersikap husnudzon terhadap sesama, karena bersikap suudzon justru akan memberikan masalah-masalah yang menyebabkan perselisihan antara sesama muslim itu sendiri. Hal tersebut dikisahkan oleh Al-Qur’an pada surah Al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Afirmasi Diri dengan Senantiasa Husnudzon

Husnudzon sendiri tidak selalu mengenai prasangka baik kita terhadap orang lain, tetapi justru ada kalanya sikap husnudzon harus dapat diterapkan terhadap segala hal, termasuk soal takdir yang menyertai kehidupan kita sendiri. Salah satu bentuk berpikir positif terhadap segala suratan takdir yang telah digariskan pada kita, adalah dengan kita menerima dengan lapang dada dan disertai dengan sikap husnudzon, karena hal ini menjadi sebuah cerminan hati yang bersih yang dimiliki oleh seorang muslim.

Dalam Islam, husnudzon memiliki banyak arti. Ibnu Arabi menyatakan bahwa refleksi atas proses penciptaan yang dilakukan oleh Allah adalah mekanisme untuk merasakan kebesaran-Nya. Hal ini juga akan menumbuhkan prasangka positif (husnudzon) kepada Allah. Selain itu, menyatakan bahwa ekspresi husnudzon kepada Allah adalah melalui dzikir kepada-Nya. Cara lain untuk menerapkan husnudzon dalam Islam adalah dengan menjadikannya sebagai afirmasi diri positif, yakni memandang diri dan kehidupan dengan prasangka baik terhadap ketetapan Allah serta kemampuan diri sendiri.

Dengan menerapkan husnudzon sebagai afirmasi diri positif, mahasiswa dapat mengembangkan kesehatan mental yang lebih sehat dan juga positif. Ketika mahasiswa menghadapi permasalahan seperti tekanan sosial, tantangan akademik, dan stres dalam kehidupan sehari-hari, sikap husnuzan bisa sangat membantu mereka untuk tidak mudah berputus asa dan menghindari pikiran negatif yang dapat memicu kecemasan atau depresi.

Husnudzon dalam Islam banyak diterangkan dalam Al-Qur‟an dan hadis, salah satu hadis qudsi yang menjelaskan tentang sikap husnuzan kepada Allah berbunyi:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

Artinya: “Sesungguhnya Allah berkata : Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya.” (HR. Muslim no. 4849)

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ

Artinya: Dari Abu Hurairah R.A dia berkata, Nabi Muhammad bersabda: “Allah berfirman, ‘Aku tergantung prasangka hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalua dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Muslim dan Bukhari no. 4850)

Kedua hadis di atas menunjukkan bahwa sikap husnudzon sangatlah penting dalam segala bentuk kehidupan seorang muslim secara individu. Sehingga dengan senantiasa berprasangka baik kepada Allah, diri sendiri, dan lingkungan sekitar kita akan menjadi lebih baik tatkala menjalani segala aktivitas kehidupan.

Oleh: Dimas Setyawan Saputro.

Leave a Comment

Related Post