Berjuang, Meski Telah Merdeka

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

12/08/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com Weekend kemarin saya bersama keluarga jalan-jalan ke Car Free Day (CFD) di Southcity. CFD kemarin terlihat berbeda dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Saya dibuat kaget dengan area CFD yang pengunjungnya tampak membludak. Area parkiran padat dengan motor dan mobil. Bahkan, uniknya dan ini yang mencuri perhatian saya adalah para pengunjung hampir semuanya mengenakan kaos berwarna merah dan putih dengan simbol kemerdekaan Indonesia.

Saya tiba-tiba dibuat sadar bahwa sekarang sedang memasuki bulan Agustus, bulan di mana kemerdekaan Indonesia diraihnya dan segala syukur tumpah dan bergemuruh di pelosok negeri ini. Bulan ini mengingatkan saya atas perjuangan para pahlawan yang rela menggadaikan nyawanya demi kemerdekaan tanah kelahirannya dari para penjajah.

Pertanyaannya, sekarang Indonesia sudah merdeka dari penjajah Belanda dan Jepang, apakah perjuangan sudah berakhir? Meski Indonesia telah merdeka, perjuangan tidak pernah berakhir. Karena, penjajah yang paling berat selain Belanda dan Jepang adalah hawa nafsu. Hawa nafsu termasuk musuh yang paling berbahaya. Nabi sendiri pernah menegaskan kepada para sahabatnya selepas pulang dari kemenangan di Perang Badar, bahwa kita baru saja pulang dari perang kecil menuju perang besar.

Mendengar pernyataan Nabi tersebut, para sahabat kaget dan bertanya-tanya, “Masa iya? Bukankah Perang Badar adalah perang paling besar dibandingkan perang-perang yang pernah dilalui?” Nabi menjelaskan, bahwa ada musuh paling besar dan butuh perjuangan yang gigih untuk mengalahkannya, yaitu hawa nafsu.

Hawa nafsu disebut musuh yang cukup berbahaya karena ia berada dalam diri seseorang. Artinya, seseorang dituntut untuk memerangi diri sendiri dan biasanya perang melawan diri sendiri sangat susah. Al-Ghazali menyebutkan, bahwa hawa nafsu adalah musuh yang dicintai. Maka, kecintaan terhadap diri sendiri biasanya akan melemahkan perjuangan melawannya.

Kembali ke perjuangan selepas kemerdekaan Indonesia kemudian dilanjutkan perjuangan melawan hawa nafsu adalah sesuatu yang penting diperhatikan oleh seluruh umat manusia, terlebih bangsa Indonesia. Kekalahan melawan hawa nafsu akan mengantarkannya menjadi pribadi yang menyesal di kemudian hari. Lihat saja, banyak bangsa Indonesia yang terjebak dalam ideologi radikalisme yang menjajah negeri ini sekarang. Kenapa mereka terpapar radikalisme? Mereka kalah melawan hawa nafsunya. Ego berkuasa mendorongnya melakukan sesuatu, meski itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Akibatnya, kemerdekaan bangsa Indonesia mulai terusik. Mereka hidup penuh kekhawatiran dan ketakutan. Mereka hidup penuh bayang-bayang para teroris yang berideologi radikalisme. Mereka takut dibantai habis oleh aksi-aksi biadab teroris dengan pengeboman dan bom bunuh diri. Permusuhan menggema di mana-mana. Perpecahan tak dapat dihindari.

Maka, meski kemerdekaan telah diraihnya, tugas perjuangan tetap wajib dikerahkan, karena musuh yang sedang dilawan adalah musuh besar. Jika dibiarkan, maka akan berakibat pada dampak yang jauh lebih besar, baik kepada negeri dan bangsa ini. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika secara tidak langsung dilawannya.

Sebagai penutup, tetap berjuang, meski telah menang. Tetap maju, meski telah merdeka. Jangan jadikan kemerdekaan sebagai zona nyaman yang membunuh masa depan bangsa dari dalam. Hidup bagaikan mengayuh sepeda. Sekali berhenti mengayuh, maka tinggal menunggu waktu jatuh. Teruslah bangkit dan berjuang, wahai bangsa di negeri ini. Selamat merdeka, Indonesia![] Shallallahu ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post