Bentrokan Faksi Druze dan Suku Badui Kembali Memanas di Suwayda, Suriah

Ahmad Fairozi, M.Hum.

19/07/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Suwayda — Bentrokan sengit kembali meletus antara kelompok bersenjata dari komunitas Druze dan pasukan suku Badui di dekat pintu masuk barat Kota Suwayda, Suriah selatan. Pertempuran tersebut memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih luas di wilayah yang selama ini relatif stabil di tengah konflik Suriah yang berkepanjangan.

Menurut laporan koresponden Anadolu Agency dari lapangan, bentrokan mulai meningkat setelah kelompok bersenjata Druze yang berafiliasi dengan tokoh spiritual terkemuka, Syaikh Hikmat al-Hajri, memaksa beberapa keluarga Badui meninggalkan daerah permukiman di sekitar kota. Tindakan ini memicu ketegangan yang telah lama terpendam antara kedua komunitas.

Seorang aktivis lokal di Suwayda, yang meminta namanya dirahasiakan karena alasan keamanan, mengatakan kepada Anadolu, “Situasi di lapangan sangat tegang. Pemindahan keluarga Badui dianggap sebagai tindakan provokatif, dan sejak itu suasana terus memanas.”

Ketegangan sebenarnya sempat mereda pada Rabu (15/7) setelah pasukan pemerintah Suriah menarik diri secara singkat dari wilayah tersebut. Penarikan itu merupakan bagian dari kesepakatan lokal yang bertujuan menenangkan situasi.

Namun, ketenangan tersebut hanya berlangsung singkat. Pada Kamis malam, ratusan pejuang dari suku-suku Arab—yang datang untuk mendukung suku Badui—melancarkan serangan balik. Mereka berhasil merebut kembali beberapa desa strategis dan mendekati pintu gerbang barat Kota Suwayda.

“Pasukan Badui menunjukkan kekuatan besar. Mereka bergerak cepat dan berhasil memukul mundur pasukan Druze dari wilayah pinggiran,” ungkap seorang warga setempat yang menjadi saksi pertempuran. Ia menambahkan bahwa sebagian warga sipil kini mulai mengungsi dari daerah konflik demi keselamatan.

Sebagai respon, pasukan bersenjata Druze mundur ke pusat kota dan membentuk garis pertahanan baru. Bentrokan sporadis masih dilaporkan terjadi di sepanjang garis barat Suwayda pada Jumat pagi.

Menariknya, pasukan pemerintah Suriah hingga kini belum turun langsung dalam konflik tersebut. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan kendali atas jalur-jalur utama yang mengarah ke pusat kota dan ibu kota provinsi, sebagai upaya menjaga stabilitas secara terbatas.

Sampai saat ini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa atau kerusakan akibat pertempuran. Namun kelompok-kelompok kemanusiaan lokal menyuarakan kekhawatiran bahwa konflik ini bisa meluas jika tidak segera ditangani.

“Komunitas internasional dan para pemangku kepentingan lokal perlu bertindak cepat untuk mencegah eskalasi lebih lanjut,” kata seorang pejabat lembaga bantuan di Damaskus.

Bentrokan ini mencerminkan kompleksitas konflik di Suriah, di mana ketegangan antarsuku dan kelompok etnis dapat dengan cepat berubah menjadi kekerasan berskala besar di tengah kevakuman kekuasaan dan lemahnya peran negara.

Leave a Comment

Related Post