Benarkah Literasi Bangsa Indonesia Bisa seperti Bangsa Eropa?

Muhammad Farhan

26/10/2024

5
Min Read
Literasi Eropa

On This Post

Harakatuna.com – Ada sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa literasi bangsa Indonesia suatu hari bisa seperti bangsa Eropa dan Indonesia menjadi negara yang literasinya paling tertinggi di dunia. Apakah Anda percaya akan pernyataan tersebut? Mungkin kita yang mendengarkan hal tersebut akan mengatakan “impossible”. Tidak mungkin Indonesia yang literasinya berada di urutan kedua paling bawah di dunia bisa menjadi paling tertinggi literasinya di dunia seperti bangsa Eropa. 

Jika kita amati data yang dikeluarkan rata-rata US Career Institute, negara yang literasinya paling tinggi di dunia berasal dari negara Eropa. Ada beberapa negara di dunia yang memiliki angka literasi yang secara persentasenya hingga 100% seperti: Andorra, Finlandia, Liechtenstein, Luxemburg, Norwegia, dan Ukraina. Lalu ada 37 negara dengan angka literasi lebih dari 99,0%. Amerika Serikat memiliki angka literasi 99,0% bersama dengan negara-negara lain seperti Swedia, Australia, Jerman, Inggris, Irlandia, dan Prancis. Sehingga jika dilihat dari data tersebut rata-rata negara Eropa yang literasinya paling tinggi di dunia. 

Sedangkan Indonesia menurut data UNESCO, minat bacanya sangat memprihatinkan, yaitu hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang, hanya 1 orang saja yang rajin membaca. Miris sekali bukan? Melihat persentase tersebut rasanya Indonesia mustahil literasinya bisa menyaingi bangsa Eropa. Adanya fenomena masalah ini tentu memunculkan pertanyaan dalam benak pikiran kita benarkah literasi bangsa Indonesia suatu hari bisa seperti bangsa Eropa hari ini yang literasinya paling tertinggi dunia? Menurut penulis jawabannya bisa jika tiap individu dalam bangsa tersebut memiliki kesadaran akan pentingnya literasi. 

Saat ini, kemajuan teknologi demikian canggih. Manusia bisa menyerap informasi dari media sosial. Mereka yang membaca informasi di media sosial sejatinya sedang melakukan kegiatan literasi. Indonesia sendiri berdasarkan survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), berjudul Status Literasi Digital di Indonesia 2021, menunjukkan bahwa 73 persen responden di Indonesia menggunakan media sosial sebagai sumber utama informasi mereka.

Ini berarti bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sekarang lebih memilih mendapatkan berita dan pengetahuan melalui platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, atau WhatsApp, dibandingkan dengan media tradisional seperti televisi, radio, buku, atau surat kabar. Sehingga sejatinya literasi masyarakat Indonesia tinggi jika dilihat dari literasi digital. Tinggal diarahkan saja untuk membaca informasi yang lebih dalam yaitu dengan membaca buku. 

Saat ini sudah ada e-book yang bisa dijadikan media untuk membaca. Potensi minat baca masyarakat Indonesia sebenarnya bisa tinggi dan mengalami peningkatan. Tinggal kesadaran membaca informasi yang lebih dalam perlu ditingkatkan. Sebab kebanyakan masyarakat Indonesia hari ini hanya membaca informasi yang singkat dan kurang mendalam dalam literasi digitalnya. 

Lalu jika kita bisa berkaca dari sejarah Bangsa Eropa dahulu, apakah Bangsa Eropa sudah dari dulu literasinya bagus? Masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi dan suka menulis? Tentu jawabannya tidak. Dalam buku Imperium III karya Eko Laksono dijelaskan bahwa bangsa Eropa dahulu terjebak dalam kebodohan. Masyarakatnya tidak pandai menulis dan tidak pandai baca. Literasinya sangatlah rendah. Akibatnya masyarakat Eropa saat itu terbelakang dan jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan. Kita mengenal sejarah Eropa masa lalu ini sebagai sejarah dark age atau masa kegelapan Eropa. 

Pada zaman dark age, bangsa Eropa selama sekitar 900 tahun, yaitu dari abad ke-5 hingga abad ke-14 terjebak dalam kebodohan.  Masyarakatnya tidak pandai baca dan menulis.  Artinya dulu Bangsa Eropa yang saat ini literasinya tertinggi di dunia juga pernah berada di posisi Indonesia saat ini yang literasinya sangatlah rendah. Lalu apa yang membuat bangsa Eropa mengalami peningkatan literasi? Jawabannya hanya satu yaitu kesadaran akan pentingya literasi untuk bisa lepas dari belenggu kebodohan.

Kesadaran literasi adalah kunci utama yang membawa perubahan besar dalam sejarah Eropa. Pada masa Renaissance, yaitu pada abad ke-14 hingga ke-17 terjadi kebangkitan besar dalam dunia literasi dan ilmu pengetahuan. Para intelektual Eropa mulai menyadari bahwa kemampuan membaca dan menulis adalah jalan menuju kemajuan. Masyarakat mulai membuka diri terhadap pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, baik sains, seni, maupun filsafat. Kesadaran literasi terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi percetakan oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15, yang mempercepat distribusi buku dan informasi secara luas. Hasilnya, masyarakat Eropa yang dulunya terbelakang pada zaman dark age perlahan-lahan berubah menjadi bangsa yang maju bahkan menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika kita membandingkan perjalanan literasi di Eropa dengan kondisi Indonesia saat ini, kita bisa melihat adanya kesamaan situasi. Masyarakat Indonesia, meskipun masih tertinggal dalam hal minat baca, tapi masih memiliki peluang yang besar untuk berubah. Dengan akses teknologi yang semakin luas, dengan memanfaatkan media digital, seperti e-book dan artikel daring, kesadaran literasi di Indonesia bisa ditingkatkan.

Namun, perlu kita sadari bahwa kuncinya terletak pada kesadaran masyarakat untuk beralih dari konsumsi informasi yang dangkal di media sosial ke bentuk literasi yang lebih mendalam dan kritis. Meskipun membaca informasi singkat di media sosial termasuk bagian dari literasi digital, hal ini belum cukup untuk membangun literasi yang kuat. Indonesia perlu mengembangkan budaya membaca yang serius dan berkelanjutan, di mana masyarakat tidak hanya membaca sekilas tetapi juga memahami dan menganalisis informasi dengan lebih mendalam.

Peran pemerintah dan lembaga pendidikan juga sangat penting dalam mendorong literasi di Indonesia. Program-program literasi harus diperkuat dengan menyediakan akses buku, perpustakaan, serta fasilitas pendidikan yang memadai di seluruh penjuru negeri. Selain itu, pendidikan literasi digital yang baik harus diajarkan sejak dini agar masyarakat dapat membedakan informasi yang valid dan tidak termakan oleh berita palsu atau hoaks.

Dengan belajar dari sejarah Eropa, kita bisa optimis bahwa perubahan besar dalam literasi di Indonesia bisa terjadi. Sama seperti Eropa yang pernah mengalami masa-masa kegelapan sebelum akhirnya bangkit. Indonesia juga memiliki kesempatan untuk memperbaiki literasi bangsanya. Proses ini mungkin memerlukan waktu dan usaha, tetapi dengan kesadaran kolektif, perubahan bisa dimulai.

Kita harus ingat pernyataan yang Allah sampaikan dalam QS. al-Ra’d ayat 11 yakni: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia

Pada akhirnya, mengenai pertanyaan benarkah literasi bangsa Indonesia bisa mencapai tingkat literasi seperti Bangsa Eropa? Jawabannya adalah pasti bisa. Tinggal kita sebagai anak-anak muda Indonesia yang memulainya. Semoga tulisan ini menjadi motivasi bagi para pejuang literasi Indonesia. Semangat berliterasi.

Leave a Comment

Related Post