Harakatuna.com – Manusia memang punya bakat aneh. Ketika Ramadan tiba, semua orang tiba-tiba sibuk. Jadwal kajian padat, undangan buka bersama berderet, media sosial penuh nasihat yang kadang bahkan tidak sempat dikerjakan oleh yang membagikannya. Seakan-akan semakin padat aktivitas, semakin terasa religius. Padahal dalam tradisi spiritual Islam ada satu praktik yang justru bergerak ke arah sebaliknya. Dalam tasawuf, hal itu dikenal dengan istilah uzlah.
Judulnya terdengar berat, tetapi sebenarnya maknanya sederhana. Uzlah berarti menarik diri sejenak dari keramaian untuk memberi ruang bagi hati agar kembali jernih. Bukan kabur dari masyarakat, bukan juga hidup sendirian di gunung seperti tokoh film pertapaan. Uzlah lebih mirip jeda, sebuah langkah kecil untuk menjauh dari kebisingan hidup, supaya seseorang bisa mendengar dirinya sendiri.
Menariknya, Ramadan sebenarnya menyediakan ruang yang sangat cocok untuk praktik semacam ini. Selama sebelas bulan, hidup manusia biasanya berjalan sangat cepat. Bangun pagi, mengejar pekerjaan, memikirkan berbagai target, lalu menutup hari dengan kelelahan. Banyak orang menjalani rutinitas itu hampir tanpa jeda. Bahkan ketika ada waktu luang, yang dilakukan sering kali hanya menambah kebisingan baru: membuka media sosial, menonton video pendek, atau sekadar menggulir layar tanpa arah.
Ramadan sedikit mengubah ritme itu. Puasa membuat tubuh bergerak dengan tempo yang berbeda. Energi tidak selalu penuh, aktivitas makan berkurang, dan waktu seolah berjalan sedikit lebih lambat. Di sela-sela perlambatan itulah muncul ruang yang sering tidak disadari, yakni ruang sunyi.
Kesunyian kecil ini bisa muncul kapan saja: saat sahur ketika sebagian besar orang masih terlelap, saat menunggu azan Magrib ketika waktu terasa berjalan lambat, atau setelah Salat Tarawih ketika masjid mulai lengang dan malam kembali tenang. Dalam momen seperti itu, seseorang sering kali berhadapan dengan dirinya sendiri. Di situlah uzlah sebenarnya dimulai.
Tasawuf sejak lama memandang kesunyian sebagai bagian penting dari perjalanan batin. Banyak ulama sufi menekankan bahwa hati manusia terlalu mudah dipenuhi oleh suara dunia. Ambisi, kekhawatiran, keinginan, dan berbagai urusan lain sering menumpuk tanpa sempat dipahami. Akibatnya, seseorang terus bergerak tanpa benar-benar tahu ke mana arah hidupnya.
Dengan menyepi sejenak, seseorang diberi kesempatan untuk melihat hidupnya dari jarak yang berbeda. Pertanyaan yang jarang muncul dalam kesibukan perlahan muncul ke permukaan. Apakah yang dikejar selama ini benar-benar penting? Apakah cara menjalani hidup sudah mendekatkan diri kepada Tuhan, atau justru sebaliknya?
Pertanyaan seperti ini tidak selalu nyaman. Kadang justru memunculkan kegelisahan. Namun kegelisahan itu bukan sesuatu yang harus dihindari. Dalam banyak pengalaman spiritual, kegelisahan sering menjadi awal dari kesadaran.
Masalahnya, manusia modern sering tidak terbiasa dengan kesunyian. Setiap kali ada ruang hening, refleks pertama biasanya adalah mengisinya. Ponsel segera dibuka, notifikasi dicek, atau perhatian dialihkan ke hal lain. Kesunyian dianggap membosankan, bahkan kadang menakutkan. Padahal justru dalam ruang sunyi itulah seseorang bisa bertemu dengan bagian dirinya yang paling jujur.
Ramadan sebenarnya memberi kesempatan untuk mengalami hal itu. Sayangnya, kesempatan tersebut sering terlewat. Ramadan justru berubah menjadi bulan yang penuh kesibukan baru: jadwal buka bersama yang padat, belanja menjelang Lebaran, hingga aktivitas media sosial yang semakin ramai. Tanpa sadar, keramaian itu kembali menutup ruang sunyi yang sebenarnya sangat berharga.
Padahal uzlah tidak membutuhkan sesuatu yang rumit. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: duduk tenang beberapa menit setelah salat, mengurangi sedikit kebiasaan menggulir ponsel di malam hari, atau berjalan sendirian sebentar sambil membiarkan pikiran beristirahat dari hiruk pikuk dunia.
Langkah-langkah kecil seperti itu mungkin terlihat sepele. Namun dari sanalah kesadaran sering tumbuh. Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia juga tentang memperlambat diri, memberi ruang bagi hati untuk bernapas, dan mengingat kembali arah hidup yang sering terlupakan.
Dalam bahasa tasawuf, semua itu adalah bagian dari uzlah. Bukan uzlah yang menjauh dari kehidupan, tetapi uzlah yang membantu seseorang kembali hadir secara utuh di dalamnya. Kadang manusia tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menemukan ketenangan. Cukup berhenti sejenak dari keramaian, lalu mendengarkan apa yang selama ini tertutup oleh kebisingan.
Di bulan Ramadan, kesempatan itu sebenarnya selalu ada. Tinggal apakah seseorang bersedia mengambil sedikit waktu untuk menyepi.
Oleh: Muhammad Taofik.









Leave a Comment