Harakatuna.com – Kita sebagai warga negara Indonesia, hingga hari ini masih saja menemukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kelompok khilafah dan ekstremisme di tanah air. Padahal, sudah berbagai upaya yang dilakukan negeri kita untuk menghilangkan pengaruh gerakan kelompok khilafah dan ekstremisme. Salah satunya seperti upaya pembubaran kelompok HTI dengan mengeluarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas untuk mencabut izin ormas yang anti Pancasila.
Meskipun sudah ada berbagai upaya untuk menghilangkan pengaruh kelompok khilafah dan ekstremisme, tetap saja kegiatan kelompok ini masih diikuti oleh generasi tanah air. IDN Research Institute merilis data yang menunjukkan, sebanyak 19,5 persen kaum milenial Indonesia setuju khilafah sebagai bentuk ideal negara. Artinya masih ada generasi kita yang masih setuju akan pemikiran khilafah.
Jika generasi muda mengikuti kegiatan kelompok khilafah, maka hal tersebut sangatlah disayangkan, mengingat anak muda memiliki potensi yang besar dalam memberikan karya untuk negeri. Bung Karno dalam pidatonya pernah menyampaikan “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kutipan pidato Bung Karno bisa kita maknai bahwa anak muda memiliki potensi yang luar biasa dalam memberikan karya untuk negeri. Bahkan merdekanya Indonesia sekarang ini juga berkat para pemuda yang mendesak Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.
Usia dalam hidup manusia adalah sebuah anugerah sekaligus amanah. Kita wajib untuk mengisinya dengan ragam karya bermanfaat. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan hidup di dunia ini dengan hal yang sia-sia. Apalagi kita tak tahu kapan datang ajal menjemput.
Allah sendiri telah memperingatkan manusia dalam Al-Qur’an salah satunya pada surah Al-Ashr ayat 1-3, agar manusia jangan menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang sia-sia. Manusia harus memanfaatkan waktunya kepada hal-hal yang bermanfaat. Kesempatan yang ada terutama saat usia produktif harus terisi dengan prestasi, kontribusi, dan beragam karya. Pemuda tanah air haruslah menyibukkan dirinya untuk belajar. Dengan belajar kita bisa memberikan karya untuk negeri.
Mengapa Generasi Muda Harus Berkarya untuk Negeri?
Selain agar terhindar dari kegiatan yang mengarah pada aktivitas kelompok khilafah dan ekstremisme, Indonesia sendiri punya impian anak-anak tanah air bisa mengharumkan namanya di tingkat internasional dengan memberikan prestasi besar lewat karyanya.
Tapi tahukah Anda, meskipun Indonesia anak bangsanya telah banyak memberikan prestasi besar dari berbagai olimpiade dunia, rasanya kurang cukup jika Indonesia hingga saat ini belum pernah meraih penghargaan internasional, salah satunya penghargaan nobel.
Sejarawan asal Inggris Peter Carey melakukan perbandingan kepada 10 negara dengan populasi terbesar di dunia dan jumlah penghargaan nobel yang diterima masing-masing negara. Hasilnya dapat kita lihat dari World Population Review, The Nobel Foundation dari tahun 1901-2022. Secara posisi Amerika Serikat berada di tingkat paling atas yaitu 403 orang mendapatkan penghargaan nobel, kemudian disusul Rusia sebanyak 32 orang, India 12 orang, Tiongkok 9 orang, Meksiko 3 orang, Pakistan 2 orang, Nigeria, Brasil, Bangladesh 1 orang, dan Indonesia tidak pernah ada.
Hasil tersebut memperlihatkan Indonesia tidak pernah meraih penghargaan nobel, padahal termasuk negara populasi terbesar di dunia. Tentu sebagai anak bangsa kita seharusnya bisa mengharumkan nama bangsa kita dengan meraih penghargaan nobel tersebut. Lalu bagaimana solusi agar generasi muda Indonesia bisa berkarya untuk negeri dan mengharumkan nama bangsanya ke tingkat internasional? Maka solusinya dengan kita melakukan proses belajar berbasis masalah.
Asumsi Belajar Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai sebuah proses mencari jawaban untuk menyelesaikan pertanyaan, keingintahuan, keraguan, dan ketidakpastian tentang fenomena yang kompleks dalam kehidupan (Daniel Tillman, 2013). Dalam proses mencari jawaban, kita dituntut untuk belajar berpikir kritis dalam memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah, diskusi, dan riset.
Belajar berbasis masalah merupakan cara belajarnya para ilmuwan. Dalam buku Belajar seperti Polimatik karya Peter Hollins, dijelaskan bahwa orang-orang yang mampu menguasai berbagai bidang ilmu secara mendalam itu sebabnya mereka belajar dari sebuah masalah. Mereka bisa menjadi seorang ahli karena sudah terbiasa mempertanyakan sebuah realitas masalah untuk dicari tahu jawabannya.
Kita bisa ambil contoh belajar berbasis masalah dari kisahnya Isaac Newton dalam menemukan hukum gravitasi. Dia bisa memunculkan teori hukum gravitasi karena mempertanyakan sebuah apel yang jatuh dari atas pohon. Dirinya mempertanyakan kenapa apel bisa jatuh dari pohon? Pertanyaannya inilah yang akhirnya menjadi sebuah masalah dan ingin dicari tahu jawabannya.
Dari pertanyaan itu, dia mencoba memahami prinsip-prinsip dasar yang mengatur gerakan benda-benda di alam semesta. Lalu kemudian Newton melakukan kegiatan riset seperti observasi dan eksperimen. Dia juga mempelajari karya sebelumnya seperti teori gerak planet dari Johannes Kepler dan teori gaya tarik dari Galileo. Dia juga berdiskusi dengan rekan-rekan sezamannya dan meninjau karya ilmuwan lain untuk memperkuat pemahamannya.
Melalui proses itulah, Newton mengembangkan teori gravitasi universal yang menyatakan bahwa setiap partikel di alam semesta menarik setiap partikel lainnya dengan gaya yang sebanding dengan massa mereka dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya, sehingga proses belajarnya ini menghasilkan teori hukum gravitasi.
Ilmu yang ia kembangkan ini akhirnya membuat dia bisa dikenang berkat karya-karya yang dia berikan untuk masyarakat. Mungkin jika dia hidup di tahun 1901 sampai sekarang ini, sudah pasti dirinya mendapatkan penghargaan nobel, sebab teorinya itu sangat bermanfaat untuk kemajuan peradaban dunia.
Jika kita ingin bisa memberikan karya hebat untuk negeri ini, maka belajarlah cara belajarnya para ilmuwan dunia. Salah satunya belajar berbasis masalah.
Strategi Kontra-Khilafah dan Ekstremisme
Sebagai generasi muda yang punya cita-cita besar, tentu ingin sekali harapannya bisa memberikan karya terbaik untuk bangsa. Khususnya bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang bisa meraih penghargaan nobel.
Kita sadari bahwa untuk meraih penghargaan tersebut tidaklah mudah. Waktu yang kita habiskan akan banyak digunakan untuk belajar, bahkan waktu luang yang kita miliki dimanfaatkan untuk belajar, sehingga tidak ada satu pun waktu yang kita gunakan untuk mengikuti kegiatan khilafah dan ekstremisme.
Dengan belajar berbasis masalah bukan berarti kita meninggalkan pengetahuan agama, dan tidak ikut kegiatan agama. Justru dengan belajar berbasis masalah, kita akan terlatih untuk berpikir kritis dan ilmiah. Sehingga dalam mempelajari agama Islam, kita tidak akan mudah terjebak pada pemikiran khilafah dan ekstremisme yang disampaikan dengan doktrin-doktrin agama.
Jika kita sudah terbiasa menerapkan belajar berbasis masalah dalam kehidupan, kita justru bisa mempelajari agama secara mendalam berdasarkan ilmu pengetahuan yang benar dengan landasan ilmiah.
Semoga tulisan ini bisa membuat kita terhindar dari kegiatan khilafah dan ekstremisme, serta bisa membuat kita fokus belajar menghasilkan karya untuk negeri. Amin.








Leave a Comment