Judul Buku: Renungan bagi Aktivis Dakwah Kampus, Penulis: M. Jiva Agung W, Penerbit: Quanta, Cetakan: 2015, Tebal: xxii+200 halaman, ISBN: 979-602-02-7285, Peresensi: Sam Edy Yuswanto.
Harakatuna.com – Dakwah tidak boleh dilakukan secara serampangan tanpa membekali diri dengan keilmuan yang luas. Selain itu, seorang pendakwah juga harus memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang layak untuk ditiru oleh orang-orang yang didakwahinya. Berdakwah tanpa ilmu dan keteladanan itu sangtlah berbahaya dan bisa mendatangkan kemudaratan bahkan perpecahan antar umat.
Seorang pendakwah benar-benar harus memiliki beragam keilmuan dan pemahaman yang sangat luas, sehingga dia tidak mudah memutuskan suatu hukum hanya berdasarkan satu referensi atau satu sumber saja. Membekali diri dengan beragam referensi akan memudahkannya dalam menyikapi sederet persoalan yang dihadapi oleh umat yang memiliki karakter dan latar budaya yang begitu beragam.
Dalam buku ini diuraikan bahwa para aktivis dakwah mutlak memiliki ilmu keagamaan yang memadai. Seperti ilmu Ulumul Quran, Ulumul Hadis, Ushul Fikih, Sejarah, dan lain sebagainya. Tidak lupa pula ilmu mengenai metode berdakwah yang baik, sehingga dengan materi dan metode yang tepat maka insya Allah dakwah pun akan diterima.
Akan sangat berisiko jika berdakwah tanpa memiliki ilmu yang memadai, yang ditakutkan akan ‘memperkosa’ ayat untuk membenarkan pemahamannya. Ini sering terjadi seperti yang telah dilakukan oleh para teroris yang kurang memahami ayat—karena minimnya ilmu. Mereka membenarkan tindakan meneror bahkan kekerasan dengan menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an secara parsial (hlm. 4).
Penting dipahami bersama bahwa ketika seseorang ingin berdakwah, maka dia harus memahami bahwa ‘tidak ada paksaan dalam berdakwah’. Kita tidak boleh memaksa orang lain agar sepemahaman dengan kita, apalagi memaksa mereka agar ikut dan mengamini apa yang kita ucapkan. Berdakwah haruslah dilakukan dengan cara-cara yang santun, lemah lembut, kasih sayang, dan kebijaksanaan.
Kita semua tahu bahwa dakwah merupakan sebuah ajakan, maka di sini tidak ada yang namanya sebuah paksaan. Allah hanya menganjurkan kita untuk berdakwah sesuai kemampuan (secara terus-menerus)—dengan cara yang baik dan benar dan mengenai keimanan mereka (beriman atau tidak)—itu sudah menjadi pilihan dan tanggung jawab diri mereka masing-masing (hlm. 23-24).
Berikut ini salah satu ayat Al-Qur’an yang dijabarkan dalam buku ini tentang pentingnya berdakwah dengan cara-cara yang baik. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl [16]: 125).
Karena dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha untuk mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, maka sukses tidaknya suatu dakwah bukanlah diukur oleh gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula lewat ratap tangis mereka. Sukses tersebut diukur lewat, antara lain, pada bekas yang ditinggalkan dalam benak pendengarnya, yang kemudian tercermin dalam tingkah laku mereka. Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya semua unsur dakwah harus mendapat perhatian dari para da’i (Quraish Shihab, 2013).
Banyak hal yang perlu diketahui dan pahami oleh seseorang ketika hendak berdakwah. Salah satunya ialah memiliki ketegasan. Berdakwah memang perlu ketegasan, tetapi tetap harus berlaku lemah lembut. Bahkan usahakan jangan ada dendam atau perasaan benci terhadap mereka. Biarkan yang ada hanyalah rasa cinta dalam diri sehingga tidak ada kesempatan untuk membenci apa pun. Selanjutnya, jangan pernah meminta imbalan kepada orang yang kita dakwahi. Apa pun (harta, jabatan, dan sebagainya), tetapi bukan berarti harus menolak pemberian orang. Rasul pun seperti tidak pernah sekali pun menolak pemberian orang. Upayakan setiap dakwah kita disertai dengan niat yang tulus hanya ingin mendapat ridha Allah (hlm. 119).
Terbitnya buku karya M. Jiva Agung ini sangat tepat dijadikan sebagai salah satu buku panduan bagi para aktivis dakwah. Khususnya mereka yang masih berstatus mahasiswa. Karena tidak jarang, sebagian aktivis dakwah kampus masih terkesan grusa-grusu dan kurang memiliki kebijaksanaan dalam menyampaikan dakwahnya, sehingga dakwah yang disampaikan kurang mengena di hati para pendengarnya.
Wallahu a’lam bish-shawaab.








Leave a Comment