Awasi Proses Belajar Anak! Upaya Perlindungan dari Paham Ekstrem

Ghufronullah

13/08/2024

5
Min Read
Anak

On This Post

Harakatuna.com – Tanggal 31 Juli kemarin Tim Densus 88 Antiteror menangkap pelajar berusia 19 tahun beserta kedua orang tuanya di Kota Batu. Pasalnya, mereka sedang berupaya melakukan bom bunuh diri di dua gereja Kota Malang. Diinfokan bahwa mereka adalah simpatisan Daulah Islamiyah yang terafiliasi dengan ISIS. Al Chaidar, peneliti terorisme dari Indonesia Terorrist Watch, mengatakan bahwa Daulah Islamiyah sendiri adalah kelompok sempalan dari JAD dan JI. Anggota di dalamnya pun adalah eks JAD dan eks JI.

Sebelumnya saya menemukan sebuah postingan di Facebook dengan paham yang agak ngawur. Terlihat dalam beberapa postingannya ia menyampaikan kritik kepada Gus Baha, yang sebenarnya, bagi saya, adalah tuduhan tak berdasar. Dengan tegas ia menilai Gus Baha sombong karena perkataannya yang menolak untuk berdebat dengan orang yang masih belum hapal Al-Qur’an.

Dalam beberapa postingan yang lain ia juga sempat menyinggung soal khilafah; bahwa ia terdapat dalam konsep fikih. Selain itu juga menyatakan bahwa hilangnya Islam berawal dari hilangnya sebuah negara Islam. Kurang lebih demikian fakta yang saya temukan.

Sempat saya coba cari tahu soal pendidikan dia melalui kolom komentar. Ia menjawab bahwa pemahamannya adalah hasil belajar otodidak kepada kitab-kitab ulama melalui terjemahan. Ini adalah fakta bahwa minimnya pendidikan memberikan sumbangsih terhadap perkembangan paham ekstremisme. Fenomena ini membuktikan bahwa paham ekstrem pada hakikatnya mulai tumbuh sejak masa kanak-kanak.

Terlihat sebenarnya orang-orang demikian memiliki hati yang tulus untuk berjuang. Namun, sedikit membuat risih jika orang-orang setulus dia justru berjuang di jalan yang salah. Ketulusan dia ini yang kemudian melahirkan fanatik buta terhadap apa yang dipahami. Dari itu, yang salah sebenarnya bukan hati mereka, melainkan akses pendidikan kita yang kurang menyeluruh, atau kemungkinan kedua, yaitu doktrin untuk melepas pendidikan yang sedang menyergapnya.

Oleh karena itu, peran pendidikan dalam melawan radikalisme tidak hanya pada aspek kurikulum saja, melainkan juga bertugas mengatasi akses pendidikan yang lemah serta doktrin untuk melepas pendidikan sama sekali. Tentu untuk yang terakhir bukan menjadi tanggung jawab Kemendikbudristek dan pemerintah lainnya, melainkan keluarga. Dari ini, pentingnya pendidikan harus ditekankan kepada semua pihak, bukan hanya pelajar.

Perhatian terhadap pendidikan harus ada karena ia yang menjadi wadah sebuah pengetahuan dan pemahaman. Sebelum itu harus disadari bahwa ilmu agama adalah agama itu sendiri, sehingga tidak bisa sembarangan dalam memperolehnya. Sanad perlu diperhatikan, agar kemudian tidak merusak ajaran Islam yang sebenarnya.

Dari itu, pendidikan dalam kaitannya dengan mencegah paham ekstrem tidak melulu soal kurikulum yang mengajarkan nasionalisme dan toleransi. Lebih penting dari itu, orang yang tepat untuk dijadikan sebagai guru adalah bagian dari langkah mencegah ekstremisme dan perpecahan. Ibnu Sirain pernah mengatakan:

إن هذا العلم دين، فانظروا عمن تأخذون دينكم

Artinya: Ilmu ini (agama) adalah agama itu sendiri, maka perhatikanlah dari siapa kalian memperoleh (pemahaman) agama kalian.

Sudah maklum bahwa ajaran Islam pasti moderat, hanya saja manusianya yang terkadang salah memahami. Narasi demikian kerap kali dijadikan opini bandingan terhadap paham radikalisme dan liberalisme. Banyak yang salah paham bahwa Islam dengan sifatnya moderat berada di tengah-tengah antara keduanya.

Saya tegaskan pemahaman demikian salah. Mengapa, karena jika moderat harus berada di tengah-tengah antara kedua paham yang ekstrem maka itu sama saja dengan memaksa Islam untuk memiliki pemahaman tertentu. Sejauh mana ekstrem kanan/kiri memosisikan diri, maka sejauh itulah Islam harus berada di tengah antara keduanya. Islam moderat adalah ajaran yang sesuai dan konsisten dengan Al-Qur’an dan hadis.

Nah, pada titik inilah pemahaman agama butuh sanad. Mungkin semua sepakat bahwa teks keagamaan seperti Al-Qur’an dan hadis butuh sanad. Dan memang demikian wajibnya. Selain teks keagamaan, pemahaman soal agama juga memerlukan sanad. Kumpulan kitab turats tentang bagaimana pemahaman suatu ayat perlu dieksplorasi dalam pendidikan agama Islam.

Ini sebagai bentuk sikap mengambil pelajaran terhadap fenomena di atas. Dalam hal pemahaman masih banyak yang mengira cukup menggunakan akal, sehingga paham moderat Islam menjadi ternodai. Di sinilah paham ekstrem kerap kali muncul.

Kembali kepada sanad. Jika belajar terhadap kemunculan opini pentingnya sanad, kita akan menemukan fakta sejarah ia sebagai bentuk melindungi umat dari kebohongan-kebohongan atas ajaran Islam dengan kepentingan politik. Pasalnya, dulu banyak orang yang untuk menarik hati jemaah melakukan kebohongan tentang Islam sebagai tunggangan politiknya. Hadis palsu bermunculan di mana-mana. Maka tak heran, di masa itu para ulama membuat kriteria hadis sahih, baik secara sanad maupun matan.

Kembali kepada fenomena di atas. Ia adalah sebentuk sikap egois dalam memahami agama. Sikap apatis terhadap seorang guru (hanya mengandalkan kemampuan akal) berpotensi memunculkan ajaran Islam yang tidak sesuai kehendak syariat. Puncaknya, ia akan menjadi paham yang mengakar dan memunculkan sikap fanatik dan ekstrem. Untuk itu, pendidikan saat ini sudah saatnya untuk kembali diperhatikan.

Nabi sudah pernah mewanti-wanti sebelumnya. Hadis riwayat Anas mengatakan bahwa:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Artinya: “Barang siapa yang berbohong atas nama aku, maka bersiaplah akan tempatnya di neraka”.

Hadis tersebut mengandung edukasi kepada siapa pun yang hendak memahami agama untuk tidak semena-mena dalam belajar. Hal ini karena adanya unsur ketidaksengajaan dalam mengetahui sesuatu juga termasuk golongan man kadzaba alayya. Dalam kitab Al-Mu’lim fi Fawaidi Muslim, Abu Abdillah At-Tamimi menjelaskan soal hadis tersebut; bahwa kebohongan yang disengaja maupun tanpa sepengetahuan dirinya adalah termasuk dari orang-orang yang diwanti-wanti dalam hadis tersebut.

Artinya, adalah salah juga kita mengajarkan sesuatu yang kita dapat dari orang yang salah, meskipun kita tidak menyadari bahwa ia tidak layak untuk menjadi guru. Selaras dengan wanti-wanti nabi, Ibnul Mubarok juga mengatakan:

الإسناد من الدين، لولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Artinya: “Isnad merupakan bagian dari agama, seandainya tidak karena isnad niscaya siapa pun akan berbicara apa pun menurut kehendaknya”.

Maqolah tersebut sebagai bukti akan pentingnya sebuah verifikasi terhadap suatu pemahaman akan Islam.  

Waspada pendidikan sejak dini adalah untuk melindungi pemahaman anak dari paham ekstrem. Sebagai bentuk ikhtiar kita, perhatian terhadap sanad perlu kita genjot kembali. Ini semua agar fenomena seperti di atas tidak terulang lagi.

Leave a Comment

Related Post