Apakah Kualitas dan Kuantitas Tulisan Bisa Berjalan Beriringan?

Wahid Kurniawan

07/09/2024

5
Min Read
kualitas

On This Post

Harakatuna.com – Jumlah dan kualitas. Dua hal ini bisa saja berseberangan, tetapi juga bisa pula berjalan beriringan. Perkara menulis memang sesuatu yang sederhana sekaligus kompleks. Sederhana, sebab kita tinggal menuangkan apa-apa yang ingin kita sampaikan, mulai dari pendapat, opini, gugatan, kritik, ulasan, dan lain-lain. Tapi laku itu pun menuntut kompleksitas, sebab apa-apa yang kita tuangkan tidak serta-merta tertuang begitu saja.

Kita memerlukan bahan, entah itu riset, hasil wawancara, atau proses pembacaan yang komprehensif. Kompleksitas juga menuntut ketekunan, lantaran menulis tidak selesai manakala kita usai menuliskannya. Kita perlu melewati fase lain, yaitu penyuntingan, dan fase ini tidak jarang menuntut sebuah perombakan atau perbaikan. Perkara kesederhanan dan kompleksitas itu, lebih lanjut, juga beririsan dengan kualitas dan jumlah karya yang kita hasilkan. Tapi, pertanyaannya, apakah keduanya dapat berjalan beriringan?

Sebelum menjawabnya, saya punya cerita. Berbulan-bulan yang lalu, saya aktif menulis esai dan ulasan buku serta film di salah satu media online. Saya menargetkan dua tulisan dibuat dalam satu hari. Topiknya pun beragam, tapi topik mengenai kesusastraan, terutama kesusastraan Jepang, menjadi topik yang sering saya eksekusi.

Hampir sepuluh hari saya rutin menulis di media tersebut. Rutinitas itu pun tetap berjalan di sela jam kuliah, rapat organisasi, dan sekian tanggungan lain sebagai seorang mahasiswa. Sehari, dua tulisan memang kerap saya selesaikan, dan tulisan itu saya tulis memenuhi jumlah kata yang selalu saya pasang: minimal 700 kata. Itu target jumlah kata yang saya pasang untuk media tersebut. 

Tapi laku itu kemudian membuat saya tersadar akan hal lain, bahwa saya menulis justru seperti hanya mengejar target dan menyelesaikannya. Tentu, dalam situasi tertentu, hal ini bukanlah masalah. Seorang penulis memerlukan target dan menyelesaikan karyanya memang menjadi keharusan yang mesti dipenuhi. Masalahnya, sering kali apa yang saya kerjakan semata menyelesaikan sebuah karya, tanpa menyimpan terlebih dahalu karya-karya tersebut.

Ya, saya memang percaya dengan ucapan Dee Lestari suatu kali, bahwa karya yang disimpan setelah ditulis, atau dalam istilahnya ‘diendapkan’, membuat karya itu ketahuan belangnya. Belang di sini bermacam-macam rupanya: dari mulai kesalahan ketik, logika data yang aneh, data yang tak terkonfirmasi, kalimat yang tak koheren, sampai paragraf yang tak nyambung. Intinya, beragam kekurangan atau kecacatan dalam tulisan yang kita buat. 

Dan ketika proses ini dilewatkan, tulisan yang dibuat hampir pasti tampak seperti karya mentah. Memang, dalam kasus menulis di media, ada editor yang bakal mengecek karya kita. Tapi, bahkan untuk perkara salah ketik fatal, beberapa kali saya mendapati editor di media itu luput untuk memperbaikinya. Perkara mereka lalai atau tidak tentu bukan poin yang mesti saya bahas. Sebaliknya, kepengrajinan itu mestinya terlebih dahulu harus dirampungkan oleh si penulis. Tugas mereka, termasuk saya, tidak hanya menyelesaikan tulisan, lalu mengirimkannya. Lebih dari itu, proses penyuntingan penting dilakukan, dan dikerjakan seserius kala kita menulis karya tersebut. 

Adapun dalam kasus saya, lantaran proses penyuntingan hanya saya lakukan begitu karya itu jadi, atau beberapa jam setelah karya itu ditulis, masih didapati beberapa kecacatan di dalam karya itu. Sialnya, saya kerap menyadari kesalahan itu begitu karya tersebut telah terbit. Apakah itu menandakan kalau saya tak teliti? Saya akui, saya lemah soal ketelitian, termasuk dalam laku menulis.

Bisa dalam satu karya, salah ketik yang dibuat kerap muncul dalam rupa yang sungguh tak disangka-sangka. Misalnya, susunan kata yang aneh seperti kata “dalam” yang saya tulis menjadi “ladam”. Tapi, upaya untuk menangani ketidaktelitian itu selalu saya lakukan. Di sinilah, peran dari proses penyuntingan, sebab ia bisa menanganinya. Menjadi berbeda ketika proses itu tak begitu saya anggap demi mengejar target sekian tulisan, sehingga memengaruhi kualitas tulisan yang saya buat. 

Kendati begitu, hal itu tidak lantas membuat perkara kuantitas dan kualitas tidak bisa berjalan beriringan. Di luar kasus saya tadi, keduanya bisa saling melengkapi, tapi dengan beberapa catatan tertentu. Kualitas, dalam hal ini, mesti dikedepankan ketimbang hanya mengejar jumlah atau kuantitas semata.

Sebagaimana masakan, bila ia tidak dimasak dengan persiapan yang matang, juga diolah dengan ketekunan yang tinggi, maka akan sulit mencapai cita rasa atau kualitas rasa yang diinginkan. Mungkin soal bakat memainkan peran dalam hal ini, sebab bisa saja ada seorang koki yang memasak berbagai menu dalam satu hari di restorannya. Tapi toh, untuk mencapai kepiawaian semacam itu, ia tidak serta-merta mendapatkannya. 

Kepiawaian mengolah masakan dalam kuantitas yang tak sedikit tanpa mengurangi citarasa atau kualitas rasa itu dipengarungi oleh ketekunan, jam terbang, dan pengalaman bertahun-tahun. Dan saya kira, posisi penulis sama seperti si koki ini. Untuk membuat satu tulisan yang berkualitas, tentu proses yang dilewatinya tidak sembarangan. Diperlukan riset mendalam atas satu topik tertentu sebelum kita berjibaku menjahit kata demi kata, entah dalam bentuk apa pun tulisan kita nantinya.

Usai tulisan dibuat pun masih ada proses yang mesti dilakukan, sebab kita perlu melakukan penyuntingan demi memperbaiki sejumlah lubang atau kesalahan. Apabila proses ini menjadi satu paket atas apa-apa yang kita lakukan dalam laku menulis kita, maka itu tetap berlaku sekalipun kita menargetkan jumlah tertentu atau membuat goal tulisan.

Oleh karenanya, saya kira, keduanya masih tetap bisa berjalan beriringan asalkan kita tak melepaskan satu catatan ini: bahwa kita mengejar kualitas, bukan saja cuma kuantitas. Itu yang mesti didahulukan. Kalaupun untuk mencapai kualitas tertentu, kita memerlukan lebih banyak waktu, toh juga tak masalah. Berarti kita tinggal meluangkan lebih banyak waktu lagi untuk menulis.

Lagi pula, bukankah hakikat menulis memang pengorbanan? Kita mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan perkara finansial. Seorang penulis bisa saja pergi ke suatu tempat, bahkan luar negeri, demi satu riset untuk tulisan mereka. Penulis lain rela tidak tidur berhari-hari demi menyelesaikan proyek mereka. Ada juga penulis lain yang menghabiskan ribuan jam di perpustakaan demi menelisik bahan tulisan mereka. Semua itu dicapai demi satu hal: bahwa mereka memastikan apa yang diselesaikan nanti memiliki kualitas terbaik—kadang dengan catatan, versi mereka sendiri. 

Leave a Comment

Related Post