Penulis: Louise Richardson, Judul Buku: What Terrorists Want: Understanding the Enemy, Containing the Threat, Penerbit: Farrar, Straus and Giroux, Kota Terbit: New York, Tahun Terbit: 2006, Tebal Buku: 336 halaman, ISBN: 978-0-374-53745-3/978-0-374-53746-0, Peresensi: Jessica Stern.
Harakatuna.com – Di tengah dunia yang terus dibayangi ledakan, bom bunuh diri, dan retorika perang tanpa ujung, terorisme sering kali dipahami secara serba hitam-putih. Ia diposisikan sebagai kejahatan mutlak yang dilakukan oleh manusia irasional, fanatik, dan tidak bermoral. Mereka adalah musuh yang tak perlu dipahami, hanya untuk dihancurkan.
Louise Richardson, melalui buku What Terrorists Want, mengajak pembaca keluar dari jebakan berpikir tersebut. Bukan untuk membenarkan terorisme, melainkan untuk memahami logika di baliknya; langkah yang justru, menurutnya, menjadi syarat utama agar terorisme bisa dikendalikan.
Buku ini terbit pada 2006, lima tahun setelah serangan 11 September 2001 yang mengubah wajah politik global. Saat itu, AS dan banyak negara lain sedang larut dalam semangat “perang melawan teror”, sebuah paradigma yang menjanjikan keamanan lewat kekuatan militer dan pengecualian hukum. Richardson hadir sebagai suara yang tidak populer, namun jernih: terorisme bukan fenomena baru, dan cara menghadapinya tidak bisa dilepaskan dari sejarah, politik, dan kemanusiaan.
Terorisme Itu Taktik atau Penyakit Jiwa?
Salah satu kontribusi paling penting dari buku ini adalah definisi Richardson tentang terorisme. Ia menegaskan bahwa terorisme bukanlah ideologi, melainkan taktik politik: penggunaan kekerasan terhadap warga sipil oleh aktor non-negara untuk mencapai tujuan politik.
Definisi ini penting karena membongkar asumsi keliru bahwa terorisme selalu identik dengan agama tertentu atau bentuk ekstremisme tertentu. Dari Zealot Yahudi di era Romawi, Assassin Ismailiyah di Abad Pertengahan, anarkis Eropa abad ke-19, hingga kelompok bersenjata modern, terorisme hadir lintas zaman dan ideologi.
Lebih jauh, Richardson menolak pandangan bahwa teroris adalah orang gila atau tidak bermoral. Ia menunjukkan bahwa sebagian besar teroris justru merupakan aktor rasional, yang mengambil keputusan strategis berdasarkan kalkulasi biaya dan manfaat. Mereka menyusun target, memilih waktu, dan memikirkan dampak politik dari setiap aksi. Kekerasan bukan luapan emosi semata, melainkan alat komunikasi yang sengaja dipilih karena dianggap efektif.
Pandangan ini tidak nyaman, tetapi justru di situlah kekuatan buku ini. Richardson memaksa pembaca melihat musuh sebagai manusia, yakni dengan logika, emosi, dan justifikasi moral, tanpa sedikit pun merelatifkan kejahatan yang mereka lakukan.
Apa yang Diinginkan Teroris?
Tesis utama buku ini terkenal dengan rumus sederhana namun tajam: Revenge, Renown, dan Reaction.
Pertama, balas dendam. Hampir semua kelompok teroris berangkat dari rasa ketidakadilan, entah berupa penjajahan, represi negara, marginalisasi politik, atau kekerasan struktural. Terorisme menjadi cara membalas luka kolektif yang dirasakan, sekaligus sarana menghidupkan memori penderitaan tersebut.
Kedua, pengakuan atau ketenaran. Teroris ingin dilihat, didengar, dan diakui. Kekerasan terhadap warga sipil bukan hanya bertujuan menimbulkan korban, tetapi juga menarik perhatian media dan publik global. Dalam dunia yang sarat informasi, terorisme menjadi jalan pintas menuju visibilitas.
Ketiga, dan yang paling berbahaya, reaksi berlebihan dari negara. Richardson berargumen bahwa teroris sering kali berharap negara akan merespons dengan represif: penangkapan massal, pembatasan kebebasan sipil, penyiksaan, atau perang terbuka. Reaksi semacam itu memperkuat narasi teroris, memperluas basis dukungan, dan menciptakan lingkaran kekerasan yang sulit diputus.
Dengan kerangka ini, Richardson menunjukkan bahwa banyak kebijakan kontra-terorisme modern justru membantu tujuan teroris itu sendiri.
Kritik atas “Perang Melawan Teror”
Bab-bab paling politis dalam buku ini adalah kritik Richardson terhadap kebijakan Amerika Serikat pasca-9/11, khususnya Global War on Terror di era George W. Bush. Menurut Richardson, yang berubah setelah 9/11 bukanlah sifat terorisme, melainkan respons negara terhadapnya. Ketakutan kolektif mendorong kebijakan yang mengabaikan sejarah, pengalaman negara lain, dan prinsip hukum internasional.
Invasi Irak, praktik penyiksaan, penahanan tanpa pengadilan, dan retorika “bersama kami atau melawan kami” dinilai Richardson sebagai kesalahan strategis sekaligus moral. Alih-alih melemahkan terorisme, kebijakan ini justru berfungsi sebagai “poster rekrutmen” bagi kelompok-kelompok ekstremis baru.
Di titik ini, buku Richardson terasa relevan bukan hanya bagi pembuat kebijakan Barat, tetapi juga bagi negara-negara demokrasi berkembang. Ia mengingatkan bahwa dalam menghadapi teror, negara sering tergoda menukar kebebasan dengan rasa aman—dan justru kehilangan keduanya.
Meski tajam dalam kritik, What Terrorists Want bukan buku pesimistis. Richardson menawarkan seperangkat prinsip sederhana namun sulit dijalankan: hidup sesuai nilai yang kita bela, jaga legitimasi moral, libatkan komunitas, dan atasi akar ketidakadilan. Keberhasilan melawan terorisme, menurutnya, lebih sering datang dari kerja intelijen yang cermat, penegakan hukum yang sah, dan solusi politik, bukan dari kekuatan militer semata.
Ia juga realistis: terorisme tidak akan pernah sepenuhnya hilang. Seperti kemiskinan atau kejahatan, ia adalah bagian dari dunia yang kompleks. Tantangannya bukan menghapus terorisme secara total, melainkan mengendalikannya tanpa menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.
Buku Penting di Zaman Ketakutan
Keunggulan utama buku ini terletak pada bahasanya yang jernih dan empatik. Richardson menulis sebagai akademisi, tetapi juga sebagai manusia yang tumbuh di Irlandia Utara dan menyaksikan langsung bagaimana terorisme bisa menyatukan sekaligus menghancurkan komunitas. Pengalaman personal ini memberi kedalaman moral yang jarang ditemukan dalam kajian keamanan.
What Terrorists Want adalah buku yang menolak kemalasan intelektual. Ia menantang pembaca untuk berpikir lebih dalam di saat dunia justru mendorong respons instingtif. Dalam iklim politik yang mudah tergelincir ke populisme dan politik ketakutan, buku ini terasa semakin relevan.
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang terorisme. Ia adalah refleksi tentang bagaimana negara memperlakukan musuhnya, dan apa harga yang harus dibayar ketika rasa takut mengalahkan akal sehat. Membaca Richardson berarti diingatkan bahwa memahami bukan berarti memaafkan, tetapi tanpa pemahaman, kekerasan hanya akan berulang dalam bentuk yang berbeda.








Leave a Comment