Antara Intelektual Media Sosial dan Intelektual yang Serius

Harakatuna

21/09/2019

3
Min Read

On This Post

Hari ini, 18 Juni 2019, filsuf Jürgen Habermas berusia 90 tahun. Dalam kesempatan ulang tahun ini, majalah filsafat Hohe Luft mewawancarai Stefan Müller-Doohm, penulis biografi Habermas yang baru terbit dua tahun lalu, dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Müller-Doohm adalah juga professor intelektual sosiologi yang telah pensiun dari Universitas Oldenburg, Jerman.

Dalam pandangan Müller-Doohm, Habermas tetap berpendapat bahwa dalam era postmetafisika filsafat tetap bertugas untuk memberi penjelasan mengenai dunia dan diri manusia. Tidak ada ilmu pengetahuan yang menjadikan kedua hal ini sebagai obyek materialnya. Karena setiap ilmu hanya meneliti aspek tertentu dari kenyataan dan dari sudut pandang (obyek formal) tertentu yang terbatas.

Habermas juga tidak begitu setuju dengan reformasi pendidikan Eropa yang dikenal dengan Bologna-Reform. Reformasi pendidikan ini sering dikritik sebagai sebuah bentuk Amerikanisasi pendidikan karena sangat berorientasi pasar kerja. Reformasi ini antara lain menyatakan penghapusan gelar pendikan tradisional (Jerman) MA (Magister Artium) menjadi Master of Science (MSc). Durasi pendidikan untuk program S-2 dan S-3 juga dipersingkat. Program master umumnya 2 tahun, bahkan sering hanya1 tahun, sementara doktor 3-4 tahun. Dalam program pendidikan tradisional Jerman, program doktor umumnya 6 atau 7 tahun. Habermas menyatakan, dalam Reformasi Bologna, ide-ide Humboldt mengenai universitas hampir tidak kelihatan lagi.

Habermas juga melihat bahaya munculnya ideologi-ideologi seperti nasionalisme, populisme kanan dan politik „American First“.

Pemikiran Intelektual Habermas

Habermas seorang pendukung kosmopolitanisme. Karena itu ia mendukung sikap pemerintah Jerman untuk menerima pengungsi, dengan harapan Jerman dapat „mendidik“ para pengungsi itu dengan nilai-nilai demokrasi dan HAM, sehingga generasi kedua atau ketiga pengungsi tersebut kelak bisa sepenuhnya menerima nilai-nilai demokratis Barat/Jerman (Habermas menyatakan ini dalam kesempatan yang lain). Sekarang ini, bila kita melihat fakta mengenai kondisi pengungsi di negara Eropa/Jerman, harapan tersebut tampaknya tidak terpenuhi.

Habermas mengatakan bahwa intelektual publik yang serius dewasa ini, karena kemunculan sosial media, adalah spesies yang hampir mati. Intelektual yang serius, yang muncul ke ruang publik dengan argumentasi yang rasional, adalah sosok yang sekarang ini sekarat, katanya. Ruang publik dipenuhi oleh intelektual-intelektual media yang menampilkan dan menonjolkan dirinya sendiri di ruang publik dan tidak membawa pencerahan.

Sebagai seorang penggagas teori diskursus yang bersandar pada rasionalitas argumentasi, Habermas sangat percaya pada „daya paksa yang tidak dipaksakan dari argumen yang lebih baik» (zwanglosen Zwang des besseren Arguments«). Artinya, kalau sebuah argumen itu lebih baik, maka seharusnya kita menerima argumen tersebut dengan sadar, sekalipun penerimaan itu tidak dipaksakan pihak lain. Kelebih-baikan argumen itu sendirilah yang memaksa kita untuk menerimanya, dan bukan yang lain. Itulah yang dimaksud dengan „daya paksa argumen yang lebih baik yang tidak dipaksakan“. Yang terjadi dimasyarakat kita tentu lain dan konyol: dalam keriuhan di sosial media, yang berperan adalah keras kepala dan ngeyel, bukan argumen yang lebih baik. Sekalipun argumen itu dinilai lebih baik, tetap saja ada pihak yang menyangkalnya. Ini tentu bukan sikap yang rasional.

Habermas juga skeptis terhadap tesis postdemokrasi, yakni demokrasi yang telah keluar rel dalam dunia yang dikonstruksi oleh relasi-relasi media sosial. Masalahnya adalah dalam relasi-relasi melalui sosial media tersebut, kebutuhan publik akan argumen-argumen rasional, yang berfungsi untuk mencerahkan publik dalam rangka mencapai solusi-solusi yang cerdas atas persoalan bersama, justru tidak tercapai. Dengan kata lain, demokrasi yang ditopang oleh media-media sosial justru didasarkan atas sikap-sikap yang tidak cerdas dan rasional.

Habermas telah menulis sekitar 60 buku, dan bulan September nanti akan terbit dua jilid bukunya setebal 1.500 halaman mengenai filsafat dan agama.

F.K. Sitorus

Related Post