Alissa Wahid Minta Perempuan Terlibat Aktif Tangkal Radikalisme

Ahmad Fairozi, M.Hum.

26/04/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta– Aktivis perempuan dan sosial keagamaan, Alissa Wahid, menekankan pentingnya peran perempuan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan paham radikal terorisme. Menurutnya, sejalan dengan semangat perjuangan R.A. Kartini, perempuan Indonesia harus memiliki daya tahan ideologis yang kuat serta mampu berkontribusi aktif di ruang publik.

“Dalam membumikan semangat Kartini, perempuan harus terus diperkuat imunitasnya dari penyebaran paham radikal terorisme,” ujar Alissa Wahid di Jakarta, Kamis (24/4/2025).

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian ini menyampaikan bahwa keterlibatan perempuan dalam penanggulangan terorisme masih menjadi tantangan besar. Ia menilai, perempuan kerap menjadi kelompok yang rentan terhadap pengaruh ideologi ekstrem karena faktor psikologis dan budaya. “Perempuan memiliki ikatan emosional yang sangat kuat, terutama karena perannya sebagai ibu. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk mengeksploitasi sisi loyalitas dan militansi mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ketika seorang perempuan telah terpapar ideologi radikal, tingkat militansinya bisa melebihi laki-laki.Lebih jauh, Alissa menyoroti masih kuatnya budaya patriarki di masyarakat yang meremehkan kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan. Menurutnya, hal ini memperbesar peluang manipulasi terhadap perempuan oleh kelompok radikal.“

Ada tradisi yang menganggap perempuan tidak rasional. Labeling seperti ini justru membuat perempuan semakin tersisih dari proses pengambilan keputusan,” tuturnya.

Namun, Alissa percaya bahwa jika perempuan diberi ruang untuk berkembang dan mengambil peran kepemimpinan, mereka dapat menjadi agen perubahan yang kuat. Ia meyakini bahwa naluri merawat dan loyalitas yang dimiliki perempuan bisa diarahkan untuk membela nilai-nilai kebangsaan.

“Jika diarahkan secara positif, perempuan bisa menjadi garda depan dalam menanamkan cinta pada Pancasila, bela negara, dan wawasan kebangsaan,” ucapnya.

Menurutnya, langkah ini bukan hanya akan memperkuat ketahanan bangsa terhadap ancaman ideologi transnasional, tapi juga mengangkat posisi perempuan sebagai pemimpin di komunitasnya. Alissa juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat Kartini dalam konteks kekinian. Ia menyebut, perempuan harus terus mengembangkan diri, membuka wawasan, dan mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman.

“Perempuan harus berdaya. Tapi sering kali, hambatan justru datang dari dalam diri sendiri,” kata putri sulung Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Ia menyayangkan masih adanya perempuan yang merasa tidak cukup mampu untuk terlibat di ruang publik karena konstruksi sosial yang menempatkan perempuan di posisi subordinat. “Banyak yang masih percaya bahwa perempuan itu tidak cukup pintar, tidak rasional, dan tidak layak memimpin. Ini tantangan mental dan psikis yang harus ditaklukkan,” tegasnya.

Untuk itu, Alissa mendorong pemerintah agar memberikan dukungan nyata kepada perempuan, terutama dalam hal pendidikan dan partisipasi politik. “Pemerintah harus hadir melalui kebijakan yang membuka ruang partisipasi bagi perempuan. Misalnya dengan mendorong akses pendidikan tinggi di pedesaan dan melibatkan perempuan dalam musrenbang dari level desa hingga nasional,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post