Harakatuna.com – Jon Morrow, pendiri Smart Blogger, menderita keterbatasan langka yang perlahan mengganggu kemampuannya menggerakkan tubuhnya kecuali wajah. Dengan bantuan teknologi, ia sanggup menjadi penulis top bahkan menghasilkan uang berlimpah. Bila Anda membaca tulisan ini, kemungkinan besar Anda bisa menulis, apa pun profesi Anda.
Anda mungkin sering menulis, sekurang-kurangnya menulis obrolan di ponsel pintar, menulis terkait pekerjaan Anda, dll. Apakah Anda mau melakukan lebih? Mengapa Anda harus menulis (lebih, jika Anda merasa bisa begitu)? Artikel serupa di Harakatuna telah membahasnya, saya ingin memperkaya bahasan.
Menulis di sini luas, dari fiksi sampai nonfiksi maupun yang lain, asal tujuannya baik.
Graham, Gillespie, dan McKeown dalam Reading and Writing (2013) mengidentifikasi alasan mengapa menulis penting. Menulis bisa digunakan untuk berbagai tujuan: alat terkoneksi dengan orang tersayang, membuat dunia imajinasi, membagikan informasi dan cerita, mencatat pengalaman, dan sebagainya.
Menulis penting untuk pembelajaran menurut Graham dan koleganya. Kita menulis untuk mengumpulkan dan mempertahankan informasi. Kita bisa menyebarkan informasi secara luas lewat tulisan. Dengan menulis, kita menghadirkan pikiran kita yang dapat ditinjau serta ditingkatkan.
Simak ilustrasi ini. Seorang penulis mengkaji dan mengumpulkan bahan tertulis untuk tulisannya sendiri. Sesudah kreasinya selesai, ia menerbitkannya di media daring untuk umum. Kala dirinya berkegiatan dan tidur, tulisannya berguna bagi khalayak seraya ditingkatkan. Bentuk tertulis memudahkan pembaca mencerna isi. Siapa saja boleh mengkritisi tulisan itu. Orang merespons dengan diskusi dan karya yang memperdalam pemahaman.
Ilmu pengetahuan berkembang juga sebab penelaahan, penyebaran, dan pengembangan terus-menerus. Tulis-menulis menyokong semuanya.
Graham dan rekannya melanjutkan, menulis dapat menjadi alat memengaruhi orang lain. Menurut organisasi non-profit 80,000 Hours, komunikasi gagasan, termasuk melalui tulisan, bisa berdampak positif dan besar, apalagi saat informasi dapat cepat dan luas nian tersebar seperti sekarang. Menulis mampu memantik orang lain berbuat hal yang tak dapat dilakukan penulis sendiri.
Contohnya, 80,000 Hours dapat mengubah rencana karier individu menjadi makin potensial untuk impak berguna via tulisan mereka. Mereka melaporkan lebih dari sepuluh juta orang mengunjungi situs mereka dan lebih dari tiga ribu orang telah mengubah rencana karier berdasarkan saran mereka. Selain tulisan, organisasi ini menyediakan siniar (podcast) dan konsultasi (advising).
Saya pikir tulisan merupakan bagian atas bagaimana 80,000 Hours mewariskan dampak. Situs web mereka kaya akan tulisan strategis dan berkualitas yang bebas biaya. Selagi pihak yang terinspirasi melahirkan impak positif yang kian besar, ini juga berkat tulisan 80,000 Hours.
Pengaruh bermakna luas. Selain cara di atas, berbagai rute pengaruh tersedia, di antaranya akan kita singgung.
Manfaat menulis di atas bisa berlaku bagi fiksi serta jurnal personal; pribadi. Fiksi berpeluang memberikan pembelajaran dan pengaruh. “Fiksi menawarkan kesempatan tak terbatas untuk petualangan, keterhubungan, dan pencerahan, dan, lebih dari itu, kenyamanan dan perlindungan,” sebut Marshall dalam The British Journal of General Practice (2020).
Berikut anekdot efek fiksi. Teman dekat saya mengonfirmasi ia masuk jurusan psikologi (S-1) akibat tokoh Naruto favoritnya menjadi mahasiswa psikologi di suatu fiksi penggemar (fanfiction).
Berdasarkan Ayers dalam laporan deskriptifnya di English in Texas (2022), menulis jurnal pribadi dapat memberikan manfaat personal, termasuk untuk kesejahteraan emosi, refleksi, pembelajaran, pengembangan diri, dll. Ini barangkali bermanfaat bagi yang lain pula setelah diproses atau dibagikan.
Contoh nyatanya, saat hendak mengoreksi kebiasaan atau perilaku tertentu, saya mencatat progres dan refleksi sembari terus mengevaluasi dan bereksperimen. Saya jadi ingat kelemahan dan kekuatan saya, apa pemicu perilaku yang diinginkan/tidak, dan bagaimana strategi selanjutnya. Ini mempermudah perbaikan diri.
Anda memiliki ihwal positif atau kelebihan yang ditawarkan untuk dunia, sekitar, atau setidaknya diri sendiri. Ini berpotensi menjadi pembelajaran. Syukur kalau ini mampu menumbuhkan kian banyak pengaruh bajik. Apa yang bisa Anda beri lewat menulis, entah sebagai pembelajaran, pengaruh, atau pemberian lain?
Alasan di atas menarik hati, serta berimplikasi pada aspek yang layak saya ingatkan.
Menulis bisa amat berpengaruh sehingga berhati-hatilah. Tanyakan sesuatu sebagai konsiderasi apakah kita patut menulis sesuatu. “Apakah saya bisa membuat tulisan yang akurat informasinya dan etis?”
Informasi atau narasi yang melenceng dapat salah memandu orang hingga berefek nyata. Misalnya, seseorang menulis hal keliru soal pengobatan alternatif yang memicu pembaca menunda penyembuhan yang wajib segera dijalankan. Ini membahayakan kesehatannya.
Bila Anda belum menguasai sesuatu apalagi perkara berat atau rawan, ini menjadi pertimbangan untuk tidak atau menunda menulis. Tentu, Anda boleh mempelajarinya sambil menulis pembelajaran untuk diri sendiri semata; “writing is thinking (menulis adalah berpikir),” kata David McCullough. Namun, secara realistis, sebarkan tulisan yang setidaknya cukup matang bagi orang lain.
Iwan Kurniawan, redaktur Tempo, mengingatkan masalah etika berikut via kursus daring. Tulis dengan bijak. Hindari tulisan yang melanggar hukum dan bisa berdampak hukum yang tak dikehendaki. Jauhi ujaran kebencian.
Menulis hanya untuk diri sendiri pun bukan nihil risiko. Contohnya, seseorang menulis jurnal personal mengenai traumanya, tetapi lebih banyak efek buruknya. Pada kasus semacam ini, pertimbangkan menyetop aktivitas tersebut dan mencari bantuan profesional jikalau perlu.
Alasan tidak menulis lain mungkin ada. Misalnya, seseorang ingin mengerjakan urusan yang diduga jauh lebih berdampak daripada menulis karya sebab ia jauh lebih lihai di bidang lain.
Menulis adalah alat yang sangat diperlukan dan berpengaruh untuk diri dan orang lain. Menulis bagaikan pisau bermata dua yang harus diasah jua agar tajam dan dimanfaatkan secara bijak. Jadi, mau menulis (lebih)? Apa alasan Anda?







Leave a Comment