Alasan Kenapa Tidak Penting Debat Nasab Ba’alawi

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

15/05/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Nahdlatul Ulama akhir-akhir ini terpecah menjadi dua poros. Ada NU garis penentang nasab Ba’alawi yang disebut-sebut bersambung kepada Nabi Muhammad SAW sehingga Ba’alawi menyebut dirinya dengan sebutan habib. Ada NU garis setia haba’ib sebagai keturunan Nabi. Kelompok penentang nasab Ba’alawi ini dikampanyekan oleh Kyai Imaduddin al-Bantani, sementara kelompok setia haba’ib dikendalikan oleh Kyai Idrus Romli.

Kehadiran poros NU yang berbeda-beda ini secara tidak langsung memperlihatkan simpatisan NU akhir-akhir ini terpecah. Bahkan, perpecahan ini sudah merambah ke pelosok-pelosok yang sesungguhnya mereka sangat NU. Bahkan, saking NU-nya mereka melihat kelompok lain bukan bagian darinya. Maka, di tengah perpecahan ini penting dihadirkan problem solving (solusi masalah) yang baik agar tidak berlarut-larut.

Alasan pertama, memperdebatkan soal nasab itu tidak penting dihadirkan di era sekarang yang serba maju. Semestinya diskusi yang penting dihadirkan adalah seputar masa depan bangsa dihadapkan dengan kemajuan teknologi, bukan bagaimana sikap bangsa dihadapkan dengan nasab Ba’alawi. Jika perdebatan nasab tetap disuguhkan, maka perpecahan di antara warga negara, terlebih di kalangan NU sendiri akan semakin melebar. Padahal, Islam sendiri tidak menyukai perpecahan terjadi.

Bayangkan, mengapa Barat cenderung lebih maju dibandingkan negara merah putih ini? Barat lebih fokus melihat peluang kemajuan di masa mendatang. Sehingga, hasil penelitian Barat dapat diterima oleh seluruh penduduk di penjuru dunia. Beda dengan perdebatan nasab yang bukan menghadirkan maslahat, malahan menghadirkan mafsadat: perpecahan.

Alasan kedua, hindari memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas. Tan Malaka dalam bukunya, Madilog menyebutkan bahwa satu-satunya pencegah kemajuan warga negara Indonesia adalah terjebak dalam logika mistika. Logika ini hanya berkutat pada perdebatan sesuatu yang mistik atau tidak saintifik. Padahal, kemajuan itu hanya ditentukan oleh sains, bukan mistik. Debat nasab Ba’alawi adalah bagian dari kerja-kerja yang mistik. Karena, yang tahu soal nasab Ba’alawi hanyalah orang yang bersangkutan, bukan orang lain, bahkan tidak dapat nasab seseorang dibatalkan sebab tiadanya manuskrip yang menginformasikannya.

Alasan ketiga, kemuliaan seseorang tidak cukup ditentukan oleh nasabnya. Makanya, tidak perlu mempersoalkan nasab seseorang. Kemuliaan seseorang di sisi Allah hanya ditentukan oleh kualitas amal ibadahnya. Siapa pun, Ba’alawi atau bukan, jika bertakwa kepada Allah, maka takwa itu akan membawa mereka kepada tingkat kemuliaan. Jadi, debat nasab dirasa tidak perlu. Sebaiknya dihentikan saja.

Alasan keempat, ada yang lebih penting diperhatikan daripada debat nasab, yaitu menjaga persaudaraan. Sebagaimana dijelaskan di awal, bahwa debat nasab telah memecah-belah umat. Padahal, semua manusia tanpa terkecuali saling bersaudara. Mereka memiliki ikatan persaudaraan antar sesama manusia, sehingga sebagai saudara tidak pantas saling menyakiti satu sama lain.

Sebagai penutup, hentikan membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berdaya guna, seperti debat nasab Ba’alawi yang berkepanjangan. Larut dalam debat ini akan banyak menghadirkan mafsadat, bukan maslahah. Kyai Imad sebagai pelopor kemunculan debat nasab Ba’alawi hendaknya lebih berfokus kepada tema lain yang lebih edukatif.[] Shallallahu ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post