Alarm September Hitam: NGO dan Aktivis, Apakah Benar Mewakili Kepentingan Rakyat?

Muallifah

13/09/2025

4
Min Read
September Hitam

On This Post

Harakatuna.com – Media sosial sedang ramai memberitakan kondisi Nepal. Kota Kathmandu bergejolak. Rabu, 9 September 2025, ribuan Gen Z turun ke jalanan melakukan aksi protes. Puncaknya, gedung pemerintah, rumah politisi, bahkan perdana menteri dibakar penuh kemarahan.

Korban berjatuhan dan banyak yang meninggal. Bahkan dalam sebuah video yang beredar, terlihat beberapa kelompok elite dievakuasi oleh helikopter karena bandara tidak bisa beroperasi. Pemberontakan tersebut dilakukan karena terinspirasi dari Indonesia, katanya.

Sebab akhir Agustus lalu, pemberontakan yang sama terjadi di Indonesia. Meskipun tidak sampai menurunkan pemerintahan, namun sebuah pemberontakan akan terus terjadi pada sebuah negara yang memiliki ketimpangan begitu besar, korupsi yang tidak pernah selesai, serta pengangguran yang semakin meningkat, dan masalah-masalah lainnya.

Demonstrasi akhir Agustus lalu yang sudah berakhir, sebetulnya tidak benar-benar selesai. Pengawasan dan pengawalan terhadap tuntutan yang diajukan oleh demonstran harus terus dilakukan untuk melihat komitmen pemerintah dalam mempertimbangkan tuntutan 17+8.

Pemerintah adalah lembaga negara yang harus bertanggung jawab terhadap adanya demonstrasi dan berbagai kekacauan yang terjadi pada akhir Agustus 2025. Namun, bagaimana tanggung jawab masyarakat sipil yang seharusnya melakukan konsolidasi gerakan pasca demonstrasi terjadi? Kelompok aktivis ataupun NGO, adalah kelompok elite yang tidak bisa dilepaskan dari jalannya demonstrasi yang berujung pada berbagai kekacauan dan tujuan elitis yang tidak dimiliki oleh akar rumput.

Kalimat tersebut hadir karena ruang dan aksesibilitas NGO dan para aktivis untuk bertemu secara langsung para pemangku kebijakan. Mereka hadir sebagai penampung suara demonstran untuk disampaikan kepada pemerintah secara langsung dalam mengawal kebijakan/perbaikan kebijakan pemerintah.

Dalam konteks gerakan sosial, Charles Tilly memiliki pendapat kuat terkait kelompok sosial yang bergerak dalam bidang ini. Menurutnya, ada beberapa unsur dalam gerakan sosial, seperti: kampanye yang membuat klaim terhadap identitas yang kuat, repertoar tindakan (pertemuan/konsolidasi), hingga pertunjukan publik. Charles Tilly menaruh perhatian besar terhadap gerakan sosial karena menunjukkan sebuah kekuatan dalam melakukan perubahan.

Namun, menurutnya gerakan sosial akan sering gagal kalau hanya fokus terhadap momen aksi, bukan organisasi jangka panjang. Oleh karena itu, demonstrasi yang dilakukan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, harus bisa diorganisir dengan baik, utamanya pasca demonstrasi selesai.

Aktivis dan NGO di pusat tidak boleh merasa besar dibandingkan dengan masyarakat/aktivis pinggiran di daerah. Sebab pengetahuan tentang isu lebih banyak didapatkan di pusat. Terjadi ketimpangan informasi antara pusat dan wilayah. Keterlibatan NGO dan para aktivis dalam aksi demonstrasi, harus benar-benar menunjukkan perwakilan dari suara akar rumput.

Dalam konteks skala wilayah, misalnya. Apakah gaungan demo dengan tuntutan yang sama, sampai ke daerah? Jangan sampai hanya ramai di kota besar namun gaungnya lemah di daerah. Oleh karena itu, konsolidasi isu di berbagai daerah, dengan melibatkan aktivis dan NGO daerah harus terus dilakukan untuk memperkuat dan menyatukan suara di pusat dan daerah.

Utamanya NGO. Dalam menerjemahkan isu yang menjadi tuntutan aksi demonstrasi, jangan sampai ada kepentingan politis yang berpengaruh terhadap keuntungan lembaga ataupun kelompoknya sendiri. Potensi politisasi yang terjadi adalah terdapat NGO yang dekat dengan kekuasaan atau pemerintah tertentu, bahkan lembaga asing yang memiliki tujuan berbeda. Maka potensi bahwa demonstrasi ditunggangi oleh kelompok tertentu/kepentingan tertentu, sangat besar. Dan kita tidak boleh denial dengan kenyataan ini.  

Tidak hanya itu, pasca Agustus berakhir dengan tuntutan 17+8, apakah semua NGO dan aktivis benar-benar mengawal hal itu? NGO harus benar-benar melanjutkan pengorganisasian jangka panjang di komunitas untuk mengawal kebijakan yang akan ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan tuntutan tersebut. Kritik di atas tidak menghilangkan rasa solidaritas yang tinggi terhadap perjuangan para aktivis dan NGO dalam mengawal gerakan sosial yang terjadi selama ini.

Namun, kita perlu untuk terus berbenah diri dan pondasi dasar melakukan reminder terhadap gerakan yang sudah dilakukan. Gerakan sosial masyarakat tetap hidup sampai hari ini karena adanya para aktivis dan NGO. Namun, jangan sampai kita melupakan potensi-potensi besar yang akan merusak gerakan sosial itu sendiri.

Sudahkah gerakan kita melihat suara dan kebutuhan akar rumput? Apakah gerakan kita tidak ditunggangi oleh kepentingan tertentu? Wallahu a’lam.

Leave a Comment

Related Post