Akses Ilmu Agama di Media Sosial, Mengapa Tidak?

Muallifah

11/05/2024

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com TikTok, saat ini menjadi aplikasi yang cukup famous di kalangan anak muda. Aplikasi yang berisi video pendek dengan penerapan FYP, untuk memperbanyak orang-orang yang menyukai mengunjungi profil dari seseorang, membuat aplikasi ini sebagai ruang menjadi selebritas cukup tinggi. Di samping itu, TikTok juga menjelma sebagai aplikasi jual-beli yang menambah minat pengguna untuk benar-benar memanfaatkan media ini.

Tidak terkecuali dengan akses agama, TikTok juga menjadi media yang sangat ciamik untuk berdakwah, karena video pendek yang disebarkan oleh penggunanya, bisa menjadi sarana dakwah. Baik oleh si penceramah langsung, atau pengguna lain dengan potongan video, yang jelas TikTok adalah aplikasi sangat bagus untuk memviralkan sesuatu, termasuk konten dakwah.

Artinya, TikTok bisa menjadi salah satu alternatif media sosial yang bisa digunakan untuk akses ilmu agama. Namun belakangan ini, algoritma TikTok yang muncul di beranda akun saya, justru adalah para penceramah Wahabi, di mana konten dakwah yang disebarkan adalah pemurnian Islam. Kalau tidak halal, ya haram.

Jangankan menghargai keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia, tradisi yang berkembang di masyarakat saja diharamkan. Alih-alih membuat masyarakat berpikiran terbuka untuk lebih menghargai keberagaman masyarakat Indonesia, para penceramah ini justru sebaliknya. Mereka adalah virus yang akan merusak Indonesia di masa yang akan datang. Na’udzubillah.

Seperti Apa Belajar Agama di Media Sosial?

Di antara banyaknya aplikasi yang bisa digunakan pada era saat ini untuk mengakses pelbagai pengetahuan agama. Kehadiran guru sebagai perantara dalam memperoleh ilmu pengetahuan agama tidak bisa dinafikkan bagi seorang pencari ilmu, meskipun menggunakan teknologi secanggih apa pun.

Jangan sampai, kita berguru kepada orang yang ternyata dakwahnya mengadu domba, menyebar kebencian, bahkan provokatif dalam penyampaiannya. Sehingga bukan menjadi guru, akan tetapi terkesan menggurui dan merasa setiap kalimat yang disampaikan adalah paling benar di antara yang lain.

Karakter guru semacam ini tidak boleh ada dalam catatan pencarian guru agama yang akan dijadikan panutan oleh kita. Apalagi jika seorang guru tersebut tidak memiliki kecerdasan sosial, seperti menolak keberagaman, menolak Pancasila, dan menolak NKRI hanya karena alasan tidak syariah. Na’udzubillah. Di TikTok, pendakwah semacam ini sangat banyak.

Para pendakwah Wahabi, misalnya, memanfatkan aplikasi TikTok sebagai sarana dakwah yang cukup ciamik. Dengan modal video pendek yang dipotong dari akun YouTube, ditambah dengan penggemarnya cukup banyak lantaran yang dibahas adalah halal-haram, semakin mempersempit ruang keberagamaan yang tercipta di algoritma TikTok.

Sanad Keilmuan Penting!

Dalam proses pencarian ilmu tersebut, sanad keilmuan penting untuk dilihat dari seorang guru yang akan dijadikan panutan dalam kehidupan kita. Di media sosial, keilmuan para ulama yang hadir dengan dakwahnya yang bertebaran di media sosial akan memudahkan kita untuk mencari tahu latar belakang kehidupan, sanad keilmuan serta bagaimana pandangan dia dalam memahami agama.

Proses mencari tahu sangat penting untuk kita lakukan sebagai seorang santri untuk melihat secara dasar seperti apa orang yang akan dijadikan panutan dalam memahami agama. Melalui media sosial, kita bisa belajar agama kepada para ulama/kiai yang memiliki kredibilitas cukup baik dalam pemahaman agama. Hal itu harus kita cari, kepada siapa kita akan berguru dan mempelajari setiap kajian yang mereka sampaikan. Wallahu a’lam.

Leave a Comment

Related Post