Harakatuna.com – Menulis adalah salah satu cara menyalurkan pemikiran ke dalam tulisan, tingkat produktif menulis seseorang juga dipengaruhi oleh literasinya. Sebelum menulis, sebaiknya kenali terlebih dahulu alasan apa yang mendorong seseorang untuk menulis. Hal ini sangat penting, karena sering kali seseorang ketika ditanya mengapa mereka menulis tidak bisa menjelaskan dengan baik. Adapun beberapa alasan untuk menulis, seperti kebutuhan tugas, mengirimkan ke media, menggunggah di akun sosmed, atau mencari cuan.
Seseorang yang gemar menulis pasti ia adalah orang yang gemar membaca. Namun, ada juga seseorang yang hanya gemar membaca, tapi tidak suka menulis. Ketika seseorang gemar membaca, tapi tidak menulis ini menjadi suatu hal yang disayangkan. Karena pasti seseorang yang gemar membaca akan mampu menghasilkan tulisan yang baik setelah menemukan kosa kata dari bacaan yang ia peroleh.
Ada pula yang menjadikan menulis sebagai jalan untuk terkenal. Misal seseorang aktif menulis dan mengirimkan karya-karyanya di media hanya untuk dikenal sebagai penulis. Itu bukan hal yang salah. Menjadi penulis adalah bukan suatu pekerjaan yang mudah. Meskipun hanya terlihat duduk di depan layar maupun kertas, tapi itu sangat menguras tenaga.
Pengalaman saya sebelum menyukai dunia literasi adalah selalu malas untuk membaca, apalagi menulis. Namun, saya terinspirasi dari sesesorang teman dekat saya yang sangat rajin mengunggah hasil tulisannya yang dimuat di media. Teman dekat saya tersebut sangat rajin menulis dan membaca. Karya-karyanya telah tersebar di berbagai media. Sehingga hal tersebut memicu saya untuk produktif menulis dan terus membaca.
Bukan suatu proses yang mudah untuk menulis. Menulis membutuhkan banyak tenaga. Ada pun saya ingin mengikuti jejak teman dekat saya yang karya-karyanya dimuat di berbagai media tersebut. Saya ingat betul ketika mengalami penolakan dari berbagai media terhadap tulisan yang saya kirim, baik penolakan dengan balasan dan saran, maupun penolakan yang tidak mendapat balasan.
Namun, suatu ketika saya mengirim sebuah tulisan di media dan akhirnya dimuat. Itu yang membuat hati saya berbunga-bunga, meskipun tidak ada honornya, tapi saya sangat senang sekali waktu itu.
Ada pun setelah tulisan pertama saya dimuat saya menjadi lebih aktif menghasilkan tulisan dan membaca lebih giat untuk mencari kosa kata baru. Di sini saya semakin rajin mengirimkan karya-karya saya kepada media. Memang benar usaha tidak akan mengkhianati proses betul adanya. Setelah tulisan pertama saya yang dimuat di media tersebut, ada beberapa tulisan saya yang menyusul dimuat di media pula.
Namun, jangan salah sangka, setelah pemuatan berikutnya tersebut saya juga menemui tulisan-tulisan saya yang ditolak oleh media. Saya mencoba menguatkan hati saya ketika menerima penolakan, karena ketika menerima pemuatan saya siap, itu menandakan saya juga harus siap menerima penolakan. Hal ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi diri saya dalam menulis.
Awalnya saya sempat bangga kepada pujian-pujian yang dilontarkan teman-teman saya. Mereka menyebut saya seorang penulis karena karya-karya saya sering dimuat di media. Namun, pujian-pujian tersebut hanya berlangsung tidak lama. Di situ saya mulai menyadari bahwa sebuah awal memang membutuhkan sebuah pujian untuk meletupkan semangat, tapi ketika sudah berjalan proses saran dan kritik lebih dibutuhkan.
Saat saya semakin produktif menulis ada banyak sekali saran dari orang terdekat saya yang lebih dulu kompeten di bidang tulis menulis. Saran dan kritik tersebut membuat saya semakin terpacu untuk terus berbenah.
Saya mencoba menulis untuk dikirim ke media yang memberikan honor setiap tulisan yang dimuat. Awalnya saya masih nekat mengirim ke media-media besar dengan tulisan saya yang masih banyak kekurangan. Alhasil, tulisan saya tidak dimuat dan tidak mendapat balasan sama sekali dari redaksi. Di sini saya mulai belajar dan terus belajar. Ternyata untuk bisa dimuat di media tertentu harus bisa menyesuaikan dengan media yang akan dituju.
Setelah mengalami paceklik tulisan saya tidak dimuat sama sekali di media berhonor, akhirnya tulisan saya nampang di media berhonor tersebut. Tulisan saya yang pertama kali dimuat di media berhonor tersebut adalah berupa cerita pendek. Tulisan-tulisan saya yang dimuat di media memang lebih dominan tentang sastra. Di situ saya mulai semakin giat menulis dan membaca setelah mengetahui hasil dari honor yang saya terima, bahwa menulis bisa untuk hidup dan hidup bisa untuk menulis.
Dengan ini saya produktif menulis untuk hidup dan menulis untuk hidup. Semenjak tulisan-tulisan saya dimuat di media saya memberanikan diri untuk ikut lomba. Saya pernah mendengar sebuah ucapan, “Ikutlah lomba untuk mengetahui tingkat kualitas tulisanmu.” Hal ini membuat saya terlecut untuk mengikuti lomba menulis.
Dalam lomba kategori menulis cerita pendek yang diadakan dalam rangka Pekan Sastra Nasional 2021 yang diadakan oleh HIMA Sastra Indonesia Universitas Udayana tersebut saya mendapat juara 3. Hal ini membuat saya berbunga-bunga karena tulisan saya mampu bersaing dengan beberapa peserta, meskipun mendapat juara III.
Semenjak itu saya semakin gencar mengikuti berbagai perlombaan, tapi baru pertama kali itu saya memenangkan lomba dalam menulis. Namun, saya tetap menulis dan membaca. Kegagalan membuat saya semakin terpacu untuk terus menulis dan membaca. Perlahan saya mulai membangun tulisan-tulisan saya agar tetap hidup dan lebih baik.
Ada beberapa teman yang meminta saya untuk mengisi tentang kepenulisan. Meskipun masih dalam lingkup organisasi teman dekat, tapi itu menjadi modal awal saya untuk terus terjun di dalam dunia literasi.
Sampai sekarang saya masih di tahap untuk terus belajar dan berkembang dalam dunia tulis menulis. Jadi, ketika ada beberapa teman yang ingin menulis, tapi masih ragu sebisa mungkin ingatkan dan beri semangat agar ia mau membaca dan menulis. Karena sejatinya membaca dan menulis juga dianjurkan oleh agama dan sebagai jendela pengetahuan. Dengan ini produktif menulis seseorang tergantung dengan karakter pribadinya.







Leave a Comment