Agama sebagai Kodrat Manusia

Prof. Sukron Kamil

25/10/2024

7
Min Read
Agama Kodrat

On This Post

Harakatuna.com – Ada ramalan dari para ilmuwan modern seperti Karl Marx dan Max Weber, bahwa semakin manusia terasionalkan atau tersainskan, maka agama akan kehilangan relevansinya. Agama akan menghilang dari muka bumi manusia. Thomas H. Huxley (1825-1895) secara harfiah bahkan berujar bahwa manusia pada masa modern harus memilih antara mitos-mitos agama dan kebenaran ilmu pengetahuan. Agama, bagi Huxley, tampaknya merupakan bagian dari dunia lama yang ditakdirkan untuk menghilang.

Namun, hingga hari ini, agama nyatanya masih tetap eksis, seolah agama punya seribu nyawa, meski diserang dalam berbagai masa. Dalam konteks Indonesia, sebagaimana disebut para ahli, kini kaum abangan (Muslim nominal/KTP) yang tak punya komitmen pada agama malah makin kehilangan signifikansinya, tidak seperti dekade 1950-an. Terjadi pergeseran dari kaum abangan bahkan Kejawen (beragama Jawa kuno) menjadi kalangan santri (Muslim yang taat). Agama di Indonesia makin semarak. Di antara jawabannya adalah karena agama merupakan fitrah/kodrat manusia yang tak bisa hilang.

Dalam Sains dan Filsafat

Dalam sains, paling tidak dalam ilmu antropologi dan linguistik, agama sebagai kodrat/fitrah manusia bisa dilihat dari arti agama secara bahasa. Kata agama berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu dari kata a yang berarti tidak, dan gam yang berarti pergi. Agama adalah tetap di tempat, tidak pergi, diwarisi secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi setelahnya. Ini artinya agama terkait pola rasa dan pola pikir yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya dan agama juga suatu hal yang tak pernah bisa hilang dari peradaban manusia, karena manusia adalah makhluk rohaniah, di samping jasmaniah. Bahkan, inti kemanusiaan adalah rohaninya dan itu berarti agama.

Agama sebagai kodrat (kecenderungan manusia untuk beragama) bukan saja diakui oleh para ahli filsafat yang memang di antara bidangnya adalah metafisika, melainkan juga oleh para ahli biologi, salah satu ilmu empiris, atau lebih tepatnya oleh para ahli genom, semacam autobiografi yang tertulis dengan sendirinya berupa sebuah catatan dalam bahasa genetik tentang semua nasib yang dialami manusia sepanjang sejarahnya.

Berdasarkan genomnya itu, alih-alih perilaku dikendalikan oleh biologi, biologi manusia malah sering dikendalikan oleh perilaku (sikap). Faktor psikologis/rohaniah mendahului faktor fisik (biologis). Pikiran menggerakkan tubuh, yang pada gilirannya menggerakkan genom. Karenanya, agama selalu menyertai dan mewarnai sejarah hidup manusia.

Tentu saja dalam ilmu filsafat, agama sebagai fitrah/kodrat manusia (kecenderungan beragama pada manusia) lebih nyaring lagi. Pandangan Henri-Louis Bergson, filsuf kenamaan Prancis (1859-1941) misalnya memperlihatkan hal itu. Ia menyatakan: “Bisa saja berkurang atau menghilang apa saja yang kita sukai dari kenikmatan hidup, tetapi mustahil agama dapat menghilang dari kehidupan manusia.

Bisa jadi, dahulu atau masa kini, kita menemukan masyarakat yang tidak mengenal ilmu pengetahuan atau seni atau filsafat, tetapi tidak ada masyarakat yang tanpa agama”. Bergson dalam pernyataan itu menggunakan kalimat: ”mustahil agama dapat menghilang”, sebuah pernyataan kebalikan dari Huxley di atas.

Dalam Islam atau Al-Qur’an-Hadis

Bisa dipastikan, karenanya, manusia adalah makhluk theomorfis (homo religius) yang harus memenuhi kebutuhan rohaniah/ilahiahnya, selain sebagai makhluk jasmaniah/biologi yang harus memenuhi kebutuhan materialnya, minimal kebutuhan pokok: sandang, pangan, dan papan. Baik jasmani yang material maupun rohani yang bersifat spiritual, harus saling melengkapi (lihat Al-Hijr/15: 28-29).

Dalam ayat ini, secara harfiah, roh manusia yang Allah berikan kepada manusia saat mereka berumur 4 bulan dalam kandungan ibunya berasal dari alam ketuhanan. Maka, manusia seperti disebut penyair Indonesia modern Chairil Anwar dalam akhir puisinya berjudul “Doa”, manusia tak bisa berpaling dari Tuhannya, tak bisa berpaling dari agama, tak bisa berpaling dari kebenaran ilahi.

Kebahagiaan manusia bahkan sesungguhnya terletak pada kebahagiaan batin, dimana manusia akan nestapa, tak akan berbahagia, jika hanya memenuhi kebutuhan jasmaninya saja, tanpa memenuhi kebutuhan rohani.

Alasannya, karena roh manusia sebagai elemen manusia yang kedudukannya lebih penting ketimbang jasmaninya, berasal dari alam ketuhanan dan agama karenanya dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai fitrah, asal kejadian manusia (lihat QS. Al-A’raf/7: 172). Dalam ayat ini tampak bahwa saat di alam arwah, manusia ditanya Tuhannya: “Apakah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab, ya (Engkau adalah Tuhan kami)”.

Namun, saat di dunia material, sebagian mereka melupakannya. Maka, ketika manusia mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah dan berzikir pun mereka akan memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman batin/hati. Bisa dipahami, ada kalangan ahli ibadah dalam berbagai agama yang kuat beribadah berjam-jam/berhari-hari kepada Tuhan. Lihat para aktivis ordo seperti Benediktus dalam Kristiani dan juga para anggota tarekat, terutama pendirinya seperti pendiri Tarekat Qadiriyyah, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Meninggalkan agama pun dengan menjauhkan diri dari kebenaran/Allah, karenanya, melanggar kodrat kemanusiaan.

Dalam QS. ar-Rum/30: 30 tertera: “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. Dalam ayat ini, harfiah disebut bahwa agama, terutama Islam, bagi manusia adalah fitrah/kodratnya, asal kejadiannya/sunnatullâh/hukum alam/nature-nya, dan ini mustahil/tak mungkin berubah sepanjang sejarah manusia. Hidup dengan tak beragama/jauh dari agama, sebab itu, menyalahi kodrat kemanusiaan. Hidup pun tak mungkin hanya memenuhi kebutuhan akan hal-hal materi seperti roti/nasi, tanpa memperhatikan kebutuhan akan hal-hal ilahi.

Karena agama merupakan fitrah manusia, maka jika seseorang melakukan dosa, batinnya sebagai tempatnya agama akan merasa tertekan, dan merasa dikejar-kejar rasa bersalah (QS. al-An’am/6: 125). Dalam diri manusia memang diilhamkan jiwa kesalehan dan kefasikan/keburukan (al-Syams/91: 7-8). Namun, manusia sesungguhnya lebih mudah melakukan hal-hal yang baik. Demikian pendapat Muhammad Abduh, ketika mengomentari QS. al-Baqarah/2: 286, dimana dalam ayat itu untuk perbuatan yang negatif/buruk/fâsiq digunakan kata iktasabat, yang menunjuk pada hal-hal yang sulit dan berat. Bukan saja dalam melaksanakannya, melainkan juga akibat yang didapat manusia setelahnya.

Sebagaimana QS. 6: 125 dan QS. 91: 7-8, dalam hadis juga terdapat pernyataan yang sama, di mana hati adalah tempat bagi agama, bahkan identik dengan agama/kebenaran ilahi. Lihat misalnya hadis riwayat Ahmad, Nabi bersabda: “Mintalah fatwa pada hatimu wahai Wabishah (bin Ma’bad Al-Aswadi).” (Nabi mengulanginya tiga kali.) “Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenteram. Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa) bimbang dalam dada.” Hadis yang isinya sama juga terdapat dalam hadis riwayat al-Turmudzi, Ahmad, dan al-Darimi, bahwa Nabi bersabda: “Kebajikan adalah akhlak yang mulia, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membuat hati engkau gundah dan takut dilihat orang lain.”

Terutama dalam perspektif Islam, manusia karenanya tidak bisa dipahami secara parsial, tidak padu/menyeluruh, seperti dalam aliran materialisme. Dalam pandangan mereka, materi adalah satu-satunya realitas. Tidak ada selainnya. Apa yang disebut rohani sebenarnya tidak lain kecuali suatu bentuk atau fungsi material belaka. Apa yang disebut pikiran merupakan hasil kerja otak, sebagaimana air seni merupakan hasil kerja ginjal.

Ada juga sebagian kaum materialis yang memandang bahwa realitas seluruhnya memang bukan hanya materi saja, tetapi faktor material-lah yang mendasari realitas kehidupan, misalnya kebutuhan ekonomi dan seksual. Dalam melihat fenomena agama, kaum materialis ini berakhir pada kesimpulan ateistik (menolak agama), karena pandangan mereka dalam melihat manusia bersifat reduksionis, sepotong-potong/parsial, tidak melihat manusia secara menyeluruh.

Manusia juga tidak bisa dipahami secara parsial seperti dalam aliran idealisme, sebagai kebalikan dari aliran materialisme, yang memandang bahwa manusia adalah realitas rohani semata, tanpa jasmani sama sekali.

Sebab itu, menurut Fazlur Rahman, Al-Qur’an tidak mengakui adanya dualisme antara jiwa dengan raga, karena manusia adalah sebuah organisme hidup yang merupakan sebuah unit utuh dan berfungsi penuh, jasmani dan rohani sekaligus. Al-Qur’an juga tidak mengakui adanya sebuah akhirat yang dihuni oleh jiwa-jiwa tanpa raga, sekalipun hal ini diyakini oleh para filosof dan sufi. Hadis riwayat Ibn ‘Asakir secara harfiah menyebut: “Bukanlah orang yang baik di antara kalian orang yang meninggalkan dunia/jasmaninya untuk akhirat/rohaninya. Juga orang yang meninggalkan akhirat/rohaninya untuk dunia/jasmaninya, sehingga mendapatkan keduanya semua. Sesungguhnya dunia/materi adalah media untuk akhirat/rohani dan janganlah menjadi beban manusia (karena mementingkan akhirat/rohani).” Wallâhu a’lam.

Leave a Comment

Related Post