Agama Dijadikan Senjata Politik? Stop! Inilah Ancamannya bagi Indonesia

Suroso, S.Ag

11/06/2025

4
Min Read
Agama Politik

On This Post

Harakatuna.com — Indonesia adalah negeri yang sejak awal berdiri menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa diletakkan sebagai sila pertama Pancasila, bukan sekadar hiasan normatif, melainkan sebagai landasan etik dan spiritual yang diharapkan membentuk watak bangsa. Dari ajaran agama, diharapkan lahir insan-insan yang santun, beradab, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Namun, kekuatan Indonesia tidak bertumpu pada dimensi religius belaka. Kita adalah bangsa yang majemuk, rumah bagi ratusan suku, bahasa, serta keyakinan. Kemajemukan bukanlah potensi konflik, melainkan modal sosial yang justru memperkokoh kedaulatan bangsa. Dalam keragaman itu, kita belajar hidup berdampingan, saling menghormati, dan membangun identitas kebangsaan yang inklusif.

Sayangnya, pilar agama dan kebangsaan tidak selalu berjalan harmonis. Di tengah dinamika politik, terutama menjelang Pemilu, kita kerap menyaksikan bagaimana agama ditarik-tarik ke dalam arena pertarungan kekuasaan. Hal itu bukan fenomena baru, tetapi belakangan gejalanya semakin kasat mata.

Seperti yang pernah disindir dengan tajam oleh Gus Dur dalam bukunya Ilusi Negara Islam, jargon “memperjuangkan Islam” sering kali hanyalah bungkus dari agenda politik tertentu. Agama dijadikan kemasan, bahkan senjata. Siapa yang melawan atau mengkritik dituduh sebagai “anti-Islam”, “musuh agama”, atau “pendukung kebatilan”. Itu merupakan strategi politik yang keji sekaligus efektif—karena menyerang lawan bukan di level gagasan, melainkan di level identitas keimanan.

Apa yang dikatakan Gus Dur sejatinya berlaku lintas agama. Fenomena instrumentalitas agama untuk kepentingan politik terjadi hampir di semua komunitas beragama di berbagai belahan dunia. Agama yang pada dasarnya mengajarkan kasih, persatuan, dan kedamaian, dipelintir menjadi alat propaganda, alat mobilisasi massa, bahkan alat persekusi sosial.

Di Indonesia, gejala tersebut kian terasa menjelang Pemilu. Kita menyaksikan bagaimana ruang publik dipenuhi retorika-retorika yang membelah umat, menggiring opini seolah hanya ada satu tafsir agama yang benar, dan satu pilihan politik yang “diridhoi” Tuhan. Yang lain dicap sesat, kafir, atau pendukung kezaliman.

Dalih-dalih keagamaan yang ditampilkan dalam narasi politik semacam itu mengandalkan ketakutan, bukan pengharapan. Narasi-narasi yang menyeramkan: jika Anda tidak memilih kandidat tertentu, Anda melawan agama; jika Anda tidak ikut gerakan ini, Anda bagian dari kezaliman global. Akibatnya, warga dengan pemahaman keagamaan yang terbatas cenderung terjebak dalam fanatisme sempit. Mereka membela mati-matian bukan program, bukan visi-misi, melainkan imaji keberpihakan kepada agama yang dibangun secara manipulatif.

Bahaya dari politisasi agama sangat nyata. Pertama, polarisasi sosial semakin tajam. Umat terbelah di bilik suara dan di meja makan, masjid, bahkan di dalam keluarga. Kedua, kualitas demokrasi menurun. Rasionalitas publik digantikan sentimen identitas. Ketiga, terkoyaknya persatuan bangsa. Alih-alih membangun konsensus nasional, kita justru diseret ke dalam arena perang simbolik yang tidak berkesudahan.

    Di tengah situasi semacam itu, penting sekali bagi kita semua untuk mengarusutamakan pemahaman tentang moderasi beragama. Moderasi tidak berarti mencairkan prinsip atau menanggalkan keimanan, melainkan menegaskan bahwa agama dan politik adalah dua ranah yang mesti dikelola dengan bijaksana.

    Moderasi beragama mengajarkan kita untuk bersikap adil, bijak, dan terbuka dalam kehidupan berbangsa. Muslim yang moderat, misalnya, memahami bahwa keberislaman tidak diukur dari pilihan politik. Seorang kristiani yang moderat tahu bahwa iman bukan alasan untuk menutup diri dari pluralitas masyarakat. Seorang budayawan yang religius paham bahwa spiritualitas bukan alat untuk menyerang sesama anak bangsa.

    Dengan memperkuat moderasi, kita mampu memetakan mana aktor yang benar-benar berdakwah untuk kebaikan bersama, dan mana yang menunggangi agama demi kepentingan elektoral. Kita juga bisa lebih cerdas memilah narasi yang benar-benar berlandaskan nilai agama, dan narasi yang sekadar membungkus syahwat politik.

    Pada akhirnya, kita harus terus mengingat bahwa agama yang sejati bukan sumber ketakutan, melainkan sumber ketenangan. Agama yang benar bukan menciptakan musuh, melainkan memperbanyak saudara. Dalam negara seberagam Indonesia, agama dan kebangsaan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus terus dirawat sebagai pilar keutuhan bangsa.

    Tugas kita bersama adalah melawan setiap upaya yang menjadikan agama sebagai alat perpecahan. Kita tidak boleh membiarkan politik jangka pendek menghancurkan warisan panjang persaudaraan dan persatuan Indonesia. Karena jika agama dijadikan senjata, maka bangsa ini bisa menjadi korban. Stop!

    Leave a Comment

    Related Post