Agama di Layar Ponsel: Membaca Fenomena Keagamaan di Instagram Melalui Kacamata Cliffort Geertz

Uni Sa'adati

21/11/2025

4
Min Read
Instagram

On This Post

Harakatuna.com – Saat ini medsos, khususnya Instagram, telah menjadi tempat yang paling aktif untuk munculnya ekspresi dan representasi keagamaan. Instagram yang merupakan gabungan dari instan dan telegram, dapat dengan cepat mengunggah informasi dengan menggunakan jaringan internet (Meutia, 2017).

Fenomena seperti dakwah visual, quote islami yang diunggah, dan gaya hidup religius melalui hijab adalah contoh baru dari religiositas yang beradaptasi dengan budaya populer. Simbol keagamaan sekarang tidak hanya ditemukan di ruang ibadah, tetapi juga di layar ponsel, dalam bentuk gambar, video, dan cerita digital yang menyampaikan nilai spiritual.

Kaum religius telah menggunakan medsos untuk mempromosikan iman mereka dan berkomunikasi secara spiritual dengan masyarakat umum. Beberapa contoh platform medsos yang dapat digunakan termasuk YouTube, Instagram, dan Facebook mereka biasanya membuat renungan atau katekese setiap hari, dan ada beberapa yang sangat populer di medsos tertentu sampai memiliki ribuan pengguna (David, 2023).

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Instagram berfungsi sebagai media pewartaan dan ritual digital, di mana praktik keagamaan dipraktikkan dalam bentuk konten visual yang menarik, modern, dan mudah diakses. Melalui unggahan yang memadukan teks, simbol, dan gambar, pengguna tidak hanya menyebarkan pesan keagamaan, tetapi juga membangun identitas religius kolektif di ruang digital.

Dalam kacamata Clifford Geertz, ekspresi keagamaan seperti ini dapat dibaca sebagai bentuk dari agama sebagai sistem simbol. Menurut Geertz, agama berfungsi untuk membentuk etos (pola hidup) dan worldview (cara pandang terhadap dunia) melalui simbol-simbol yang memiliki makna mendalam. Dalam Agama Jawa, Geertz menulis bahwa agama meneguhkan “suasana hati dan motivasi manusia dengan cara memformulasikan konsepsi tentang tatanan keberadaan” (Geertz, 2014).

Bagaimana agama digambarkan dan dimaknai ulang di media online, khususnya Instagram, adalah pembahasan utama dalam kajian ini. Medsos adalah media yang memungkinkan setiap orang berinteraksi dan bersosialisasi tanpa terhalang ruang dan waktu (Cantika, 2022).

Namun bukan hanya sebagai alat untuk berkomunikasi tetapi juga ruang budaya di mana simbol-simbol religius digunakan, ditafsirkan, dan dipraktikkan kembali dalam cara-cara yang mencerminkan kepercayaan modern. Tujuannya adalah untuk menjelaskan representasi agama dalam budaya populer digital dengan menggunakan pendekatan antropologi agama Clifford Geertz, yakni dengan melihat bagaimana simbol-simbol keagamaan di media digital berfungsi sebagai sistem makna yang menggambarkan cara masyarakat modern memahami, mengekspresikan, dan mempertahankan identitas religius mereka.

Dalam konteks media digital seperti Instagram, simbol-simbol keagamaan muncul dalam berbagai bentuk visual dan naratif, seperti quotes islami, pakaian hijab, doa singkat dalam unggahan, dan konten dakwah visual. Dan dari perspektif Clifford Geertz, masing-masing dari hal tersebut tadi merupakan sistem simbol modern yang berfungsi untuk memasukkan makna dan nilai religius ke dalam budaya populer.

Seperti adanya quotes islami yang berfungsi sebagai representasi moral dan spiritual yang meneguhkan perasaan dan dorongan seseorang dalam keseharian, karena kalimatnya yang singkat dan didesain menarik, melalui medsos motivator atau pendakwah dapat dengan mudah menyebarkan pesan-pesan tersebut (Cantika, 2022).

Relevan dengan perumpamaan ‘mendekatkan yang jauh dan mempermudah komunikasi’, di mana medsos termasuk Instagram dapat mempertemukan pengguna satu dengan pengguna lainnya di penjuru tempat (Meutia, 2017).

Fashion Muslimah dan hijab berfungsi sebagai simbol identitas religius, dan gaya hidup kontemporer menunjukkan bagaimana ajaran agama diintegrasikan ke dalam konteks sosial dan estetika baru. Doa dan dakwah visual menunjukkan bagaimana prinsip agama diterjemahkan ke dalam bentuk visual yang mudah diakses oleh masyarakat digital.

Instagram menyajikan media dakwah dalam sebuah konten, yang dapat dibagikan dengan mengunggahnya dan membagikannya kepada pengguna Instagram lain untuk menyaksikan pesan dakwah yang dikirim melalui video dan berbagai foto di Instagram (Muzayyanah, 2021).

Instagram dilihat dari sudut pandang antropologi agama ditempatkan sebagai ritual baru di mana nilai-nilai religius diwakili, dihayati, dan dibagikan secara simbolik. Di era digital, ekspresi religius beralih ke ruang virtual melalui doa, dakwah, atau simbol kesalehan visual seperti hijab dan quotes islami, yang mana era digital semua akses dapat secara cepat terjangkau oleh para pengguna medsos (Cantika, 2022).

Ini berbeda dengan cara ritual tradisional dilakukan di masjid, langgar, atau majelis. Clifford Geertz menyatakan bahwa agama hidup melalui simbol-simbol yang memberikan makna dan stabilitas emosional. Dengan demikian, Instagram berfungsi sebagai ruang ritual modern, tempat seseorang menetapkan identitas religiusnya, berbagi makna keimanan, dan membangun solidaritas spiritual di tengah budaya digital.

Ritual-ritual digital ini mungkin tidak berbentuk fisik, tetapi tetap menghadirkan suasana sakral dan rasa keagamaan yang nyata di dunia maya. Sehingga di Instagram, agama direpresentasikan melalui transformasi simbol keagamaan. Dan melalui pendekatan Geertz membantu untuk melihat bahwa agama tidak hilang di dunia digital, justru dihidupkan kembali dalam bentuk budaya populer.

Referensi

Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa, (Depok, Komunitas Bambu), 2014.

Ndruru, D. J., Mulyatno, C. B., Subali, Y., & Antony, R. (2023). Pengalaman Bermedia Sosial Kaum Religius di Era Digital. Jurnal Kewarganegaraan7(1), 213-221.

Maharani, C., Nubagja, H. M., Theofilus, K. N., & Natasya, R. (2022). Quotes Of The Day: Implementasi Model Dakwah Islam Melalui Sosial Media Di Era Digital. Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955| p-ISSN 2809-05433(5), 367-374.

Yuliasih, M. (2021). Pemanfaatan Instagram sebagai Media Dakwah bagi Generasi Milenial. Jurnal Da’wah: Risalah Merintis, Da’wah Melanjutkan4(2), 65-76.

Leave a Comment

Related Post