Harakatuna.com – Kamis (28/8) malam, Jakarta belum benar-benar tidur. Asap sisa gas air mata masih menggantung di langit Senayan, suara sirine bersahut dari Pejompongan hingga Bendungan Hilir. Di tengah jalan yang basah oleh sisa hujan dan amarah, sebuah rantis Barracuda milik Brimob Polda Metro Jaya melaju kencang membelah kerumunan. Brak! Terdengar tulang patah, kaca helm pecah; ojol dilindas aparat arogan dan tidak berperikemanusiaan.
Di sana, seorang pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan, lelaki muda yang baru saja mengantar pesanan terakhir hari itu—tak sempat menghindar. Dalam hitungan detik, tubuhnya terseret, lalu terlindas roda baja yang tak berhenti meski teriakan warga memecah malam. Pukul 19.40 WIB, nyawanya berhenti di aspal, sementara lampu-lampu kota tetap menyala seolah tak terjadi apa-apa.
Di setiap bangsa, selalu ada satu momen ketika sejarah menahan napas, menunggu sesuatu meledak. Tunisia pernah memilikinya pada Desember 2010, ketika seorang penjual buah bernama Mohamed Bouazizi membakar dirinya sendiri, mengobarkan gelombang kemarahan yang menjungkirbalikkan rezim-rezim angkuh di jazirah Arab.
Musim Semi NKRI?
Indonesia, pada malam 28 Agustus 2025, mungkin sedang memahat momennya sendiri: Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek daring yang hanya pulang mencari rezeki, meregang nyawa di bawah roda besi Barracuda Brimob, di tengah jalan Bendungan Hilir yang gelap dan gaduh.
Affan tidak berpolitik. Ia bukan agitator, bukan pemimpin massa, apalagi perusuh bayaran. Ia hanya satu dari jutaan wajah yang menopang denyut ekonomi kota: pengantar makanan saat kita lapar, pengantar paket saat kita nyaman bersantai. Namun malam itu, hidupnya diakhiri bukan oleh takdir alam, melainkan oleh kekerasan yang lahir dari sistem yang sudah terlalu lama memandang rakyat sebagai penghalang, bukan pemilik negeri ini.
Peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Ia adalah cermin retak dari sebuah negara yang mengaku demokrasi, tetapi terus merawat watak feodal dan represif. Rakyat turun ke jalan karena kecewa, marah, terdesak oleh kebijakan dan korupsi yang kian menggila. Namun seperti biasa, gedung-gedung parlemen yang berdiri gagah di Senayan lebih sibuk menjaga kepentingan dirinya daripada mendengar jerit orang di luar pagar.
Para wakil rakyat itu, yang kini lebih layak disebut makelar undang-undang dan penjaga kepentingan korporasi, menyaksikan semua ini sambil menghitung jatah proyek dan bagi-bagi anggaran. Korupsi di kementerian, di lembaga, di DPR sendiri, terus menggelembung bak abses yang tak kunjung diobati—dan ketika rakyat marah, yang turun ke jalan bukan mereka yang mencuri, melainkan mereka yang digaji untuk melindungi pencuri.
Barracuda itu, yang melindas tubuh Affan, melambangkan sesuatu yang lebih besar: betapa negara ini rela mengerahkan senjata perang melawan warganya sendiri, tetapi selalu gagap ketika berhadapan dengan kejahatan di ruang rapat dan lobi hotel berbintang.
Betapa mudahnya darah rakyat kecil tumpah, betapa sulitnya seorang pejabat korup digiring ke penjara tanpa perlawanan balik. Bukankah kita baru saja mendengar satu demi satu skandal mencuat, dari kementerian yang menggelembungkan anggaran, hingga anggota dewan yang menjual pengaruhnya seperti menjual karcis konser? Dan siapa yang membayar semua itu? Kita. Pajak kita. Tarif kita. Tenaga kita.
Kematian Affan telah menyulut api di hati ribuan pengemudi ojol yang mendatangi Mako Brimob Kwitang. Mereka tidak datang dengan senjata, hanya dengan kemarahan dan duka. Mereka tidak menuntut istana dibakar, hanya menuntut keadilan yang seharusnya otomatis berjalan dalam negara yang mengaku hukum sebagai panglimanya. Tetapi apakah kita tidak belajar dari sejarah bahwa setiap api kecil, jika terus disiram dengan kesombongan, akan mencari cara untuk menjadi kobaran?
Di Tunisia, Bouazizi bukan siapa-siapa. Hanya seorang pemuda yang bosan dihina, lelah diperas, dan muak ditampar petugas pasar. Namun satu percikan di tubuhnya menyalakan Arab Spring, menggulingkan diktator yang 23 tahun bercokol. Akankah NKRI Spring menunggu kita di depan?
Apakah kita akan menunggu hingga Affan Kurniawan menjadi Bouazizi kita? Apakah DPR akan terus berpura-pura tuli, pemerintah pura-pura sibuk, sementara aparat terus berkeliling kota dengan roda besi yang tak pernah tahu arti maaf sampai darah mengering di aspal?
Semua Perlu Berbenah
Bangsa ini sudah terlalu sering diberi janji. Setiap tragedi selalu diakhiri dengan kata-kata yang sama: “kami berduka, kami akan usut tuntas.” Tuntas itu apa? Seberapa banyak kasus yang tuntas? Berapa banyak nyawa yang harus jadi korban sebelum tuntas benar-benar berarti adil? Tujuh anggota Brimob telah diamankan.
Baik. Tapi kita sudah hafal naskahnya: akan ada dalih prosedur, akan ada laporan yang dikaburkan, akan ada hukuman ringan untuk menutup luka yang menganga. Sementara itu, yang korup di Senayan tetap tersenyum di depan kamera, yang memperkosa anggaran tetap rajin naik mimbar bicara soal moral dan etika bangsa.
Jika pemerintah masih ingin bertahan tanpa api yang membakar, ia harus berhenti menganggap rakyat sebagai kerumunan yang bisa dibubarkan. Rakyat adalah pemilik sah negeri ini, bukan penumpang gelap. Setiap nyawa yang melayang karena kesewenangan akan menambah daftar panjang alasan bagi publik untuk hilang sabar.
Arab Spring tidak lahir dari revolusioner profesional; ia lahir dari akumulasi luka, dari tawa yang dipalsukan di televisi ketika dapur rakyat kosong, dari sopir-sopir miskin yang melihat jalan raya berubah jadi medan perang melawan mereka sendiri. Affan Kurniawan tidak lagi di sini untuk bicara. Tetapi darahnya kini menjadi teks yang dibaca banyak orang.
Pertanyaannya hanya satu: apakah para penguasa membaca juga? Atau mereka masih sibuk membuat pasal baru untuk melindungi kantong sendiri? Sejarah selalu adil dalam caranya yang kejam: ia akan mengingatkan bahwa setiap penguasa yang lupa pada keadilan, pada akhirnya akan diingat dengan cara yang memalukan.








Leave a Comment