Benarkah Budaya Literasi Indonesia Rendah? Atau Hanya Berevolusi?

Muhammad Farhan

13/12/2025

4
Min Read
Literasi Indonesia

On This Post

Harakatuna.com – Bagaimana sebenarnya kita memaknai literasi? Apakah literasi identik dengan membaca buku cetak? Lalu, mengapa sebagian orang masih memandang rendah anak-anak yang lebih memilih bermain smartphone dibanding duduk membaca di perpustakaan? Dan yang lebih penting lagi: kehancuran macam apa yang selalu dijadikan ancaman ketika orang berbicara soal “rendahnya literasi” di negeri ini? 

Banyak tudingan tentang rendahnya literasi Indonesia bersumber pada laporan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012. Dalam laporan tersebut, Indonesia disebut berada di posisi ke-64 dari 65 negara untuk kemampuan memahami, menggunakan, dan merefleksikan bacaan. Namun, jika kita melihat lebih dalam, indikator PISA pada dasarnya masih bertumpu pada teks cetak sebagai ukuran utamanya. Padahal, cara manusia mengakses informasi telah berubah sangat cepat.

Di era teknologi seperti sekarang, pemaknaan literasi yang hanya terpaku pada buku fisik rasanya tidak lagi memadai. Perpustakaan digital seperti archive.org telah memindai lebih dari 12 juta buku yang dapat diakses siapa saja secara gratis. Banyak konten pengetahuan kini hadir dalam bentuk visual, audio, hingga video edukasi. Jutaan jurnal ilmiah pun bisa dibuka hanya dengan satu klik melalui internet. Maka, bukankah semua aktivitas ini juga bentuk literasi? Mengapa literasi harus dibatasi pada kertas, halaman, dan tinta? 

Inilah poin pentingnya: budaya literasi di Indonesia sebenarnya tidak rendah, ia hanya sedang berevolusi. Membaca buku bukan lagi satu-satunya pintu untuk mendapatkan pengetahuan. Teknologi telah membuka jendela-jendela literasi baru yang lebih variatif dan lebih inklusif.

Pahami Pola Pikir Gen Z dan Gen Alpha!

Tidak adil jika kita menyalahkan anak-anak masa kini yang lebih suka mengakses internet daripada membaca buku di perpustakaan. Mereka adalah generasi yang lahir dan besar bersama layar digital. Menuntut mereka untuk meninggalkan internet dan kembali ke metode belajar tahun 1980-an tentu tidak realistis.

Generasi Z dan Alpha sangat dekat dengan teknologi dan lebih menyukai pembelajaran yang praktis serta visual. Mereka lebih nyaman belajar melalui YouTube dibanding membaca buku tebal berhalaman ratusan. Mereka suka hal yang konkret, menarik, dan relevan dengan kehidupan mereka.

Sayangnya, generasi yang lebih tua terkadang gagal memahami pola pikir ini. Banyak orang tua dan guru masih menilai literasi dari cara lama seperti duduk tenang dengan buku. Ketika anak-anak lebih memilih literasi digital, mereka langsung dicap tidak suka membaca. Padahal justru sebaliknya, gen Z dan Alpha adalah generasi yang paling sering bersentuhan dengan literasi, hanya saja bentuk media yang mereka konsumsi sudah berubah.

Oleh karena itu, sangat keliru jika generasi tua terus memaksakan model pendidikan lama. Teknologi telah mengubah cara manusia belajar, dan generasi muda memerlukan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Literasi digital tidak bisa dihindari; yang perlu dilakukan adalah mengarahkannya.

Jangan Hanya Mengkritik!

Mengkritik “rendahnya literasi” tanpa memberikan jalan keluar hanya akan menjadi wacana kosong. Jika ingin literasi Indonesia berkembang, semua pihak terutama sekolah dan lembaga pendidikan harus terlibat aktif mencari solusi.

Pertama, guru tidak perlu melarang penggunaan internet di sekolah. Yang dibutuhkan justru pendampingan agar siswa mampu memilih konten yang bermanfaat. Sekolah bisa membuat kurikulum digital yang memanfaatkan platform seperti YouTube untuk menjelaskan materi pelajaran dengan visual yang menarik. Konten audio-visual sering kali lebih mudah dipahami oleh generasi kini dibanding teks panjang.

Kedua, jika perpustakaan ingin kembali ramai, ubahlah suasananya. Banyak perpustakaan sekolah masih berwajah muram dan kaku. Bayangkan jika perpustakaan didesain seperti cafe: ada tempat duduk nyaman, musik ringan, dan ruang diskusi. Perpustakaan harus dirancang sebagai ruang kreatif, bukan ruang sunyi yang menakutkan.

Ketiga, siswa perlu diajarkan literasi digital, kemampuan membedakan informasi valid dan hoaks. Mereka harus memahami cara memeriksa sumber, melihat kredibilitas penulis, dan menafsirkan gambar atau judul yang seringkali menyesatkan. Jika hal ini dilakukan, generasi muda tidak akan mudah terjebak dalam arus informasi yang kacau.

Tentu, solusi tidak hanya datang dari sekolah. Keluarga, pemerintah, lembaga keagamaan, hingga komunitas lokal juga memiliki peran penting. Setiap elemen bisa berkontribusi menguatkan ekosistem literasi, baik digital maupun konvensional. Sehingga, masih pantaskah kita menyimpulkan bahwa budaya literasi Indonesia rendah? Menurut saya, tidak. Justru yang terjadi adalah perubahan pola literasi dari cetak ke digital, dari teks ke visual, dari linear ke interaktif.

Generasi baru membaca dunia dengan cara yang baru. Pengetahuan kini tidak hanya ditemukan dalam buku, tetapi juga di layar. Dan literasi bukan lagi sebatas kemampuan membaca, melainkan kemampuan mengolah informasi. Maka jelas, budaya literasi Indonesia tidak rendah. Ia hanya sedang berevolusi. Tantangan kita bukan mempertahankannya dalam bentuk lama, tetapi mengarahkannya agar tumbuh sehat dalam bentuk baru.

Leave a Comment

Related Post