Harakatuna.com – Ketika nama Thailand disebut, sebagian besar orang membayangkan negeri Buddhis dengan kuil-kuil megah dan tradisi yang erat dengan budaya Thai. Gambaran itu tidak salah, karena 95 persen penduduk Thailand memang beragama Buddha. Namun diwilayah selatan, tepatnya Patani, terdapat sebuah komunitas yang hidup dengan ritme berbeda yakni Melayu Muslim Patani. Mereka adalah sekelompok minoritas yang secara historis sering ditekan,tetapi justru memancarkan cahaya paling kuat dari tradisi keilmuan Islam. Dan salah satu pantulan terangnya tampak melalu karya seorang ulama Patani, Prof.Dr.Ismail Lutfi, khususnya lewat karya tafsirnya yang dikenal dengan nama al-Bayan.
Sebagai minoritas nasional, Muslim Melayu Patani telah lama mengahadapi tekanan, terutama sejak kebijakan asimilasi Jendral Phibul Songkram. Negara mendorong identitas Thai-Buddha sebagai identitas nasional tunggal. Dalam proses itu, masyarakat Patani tidak hanya kehilangan ruang politik, tetapi juga menghadapi pelabelan sebagai khaek (tamu atau orang luar ). Penyimbolan ini menyelipkan pesan bahwa Muslim bukan bagian dari inti bangsa Thailand, padahal mereka adalah penduduk lama yang diperlakukan seperti pendatang.
Kebijakan negara kemudian membatasi ruang hidup mereka mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga gerak budaya. Karena hal itu,secara ekonomi banyak keluarga yang terdesak untuk merantau ke Malaysia demi bertahan hidup. Namun kenyataan pahit tersebut tidak memadamkan identitas mereka. Justru sebaliknya, masyarakat Patani menjaga tiga hal sebagai benteng terakhir mereka yaitu agama,bahasa dan tradisi pendidikan Islam
Pendidikan Islam menjadi arena perlawanan kultural yang paling bertahan. Sejak abad ke-16, para tokoh seperti Faqih Wan Musa mendirikan pondok yang menjadi pusat transmisi ilmu. Pondok-pondok itu bukan sekedar sekolah, melainkan ruang produksi ulama, intelektual dan pemimpin masyarakat. Seperti halnya Lebai Abdul Mubin seorang cendekiawan pertama yang dihasilkan dari pondok ini yang kemudian mewariskan pondok tersebut kepada anak-anak nya dan generasi berikutnya.
Ketika pemerintah mengubah kurikulum pendidikan menjadi lebih sekuler dan memperketat kontrol terhadap lembaga agama, pondok tetap berjalan meski perlahan melemah karena tekanan ekonomi dan kebijakan negara. Namun tradisi belajar Al-Quran dan tafsir tidak pernah mati. Inilah konteks dimana tokoh-tokoh baru bermunculan untuk menghidupkan kembali semangat ilmu,salah satunya Ismail Lutfi.
Ditengah keterbatasan ruang, muncul seorang figur karismatik yakni tiada lain ialah Prof Dr .Ismail Lutfi Japakia, Rektor Universitas Islam Yala dan penggerak pengajian tafsir yang dikenal sebagai Majlis Ilmi Fatani. Ia merupakan simbol kontinuitas tradisi pondok Patani dalam bentuk yang lebih modern.
Majlisnya yang bermula dihadiri 100 orang peserta, kemudian berkembang menjadi lebih dari 5000 orang setiap pertemuan. Lebih dari sekedar pengajian, ia jadikan majlis tersebut sebagai ruang konsolidasi identitas Melayu Muslim untuk menemukan kembali kekuatan dan kepercayaan diri mereka sebagai muslim.
Disinilah sebuah kitab menjadi pusat perhatian, sebuah karya yang disebut oleh Lutfi sebagai pegangan dalam penyampaian tafsirnya,yakni tafsir al-Bayan (1995). Sebelum karya itu, Lutfi telah menulis tafsir empat jilid al-Zikr al-Hakim yang membahas surah al-Fatihah,al-Muzzammil,al-Muddatsir dan al-Ikhlas. Al-Bayan kemudian muncul sebagai tafsir yang memuat 40 surah pilihan yang dimulai daripada surah al-Waqiah.
Muncul persoalan menarik sekaligus tantangan akademik bahwa tafsir al-Bayan tidak memliki bentuk cetak resmi yang diakui pemerintah Thailand. Artinya, masyarakat hanya mengenal tafsir ini melalui pengajian lisan Ismail Lutfi. Bahkan dalam rekaman pengajian nya،, kitab tersebut tidak tampak jelas. Karena itu,muncul pertanyaan besar”Apakah benar kitab al-Bayan itu ada dalam bentuk naskah ataukah ia lebih merupakan tradisi tafsir lisan yang belum terdokumentasikan formal?
Pertanyaan ini bukan untuk meragukan otoritas Ismail Lutfi,tetapi untuk menegaskan bahwa kebutuhan dokumentasi tafsir lokal seperti ini sangat penting dalam sejarah intelektual Islam di Asia Tenggara. Tafsir yang lahir dari konteks minoritas tertekan seperti Patani, memiliki nilai sosial, historis dan politis yang tidak dapat diabaikan. Ia merekam bagaimana sebuah komunitas mempertahankan keyakinan,bahasa dan martabat budaya di tengah tekanan negara yang kerap menuntut uniformitas.
Selain itu, dakwahnya tidak hanya disampaikan dalam majlis rutinan saja. Ia justru memasuki ruang-ruang digital yang semakin menjadi arena utama pembentukan wacana keagamaan. Ribuan video kajiannya tersebar melalui akun penggiat dakwah lintas negara. Dalam hal ini, tafsir al-Bayan hidup melalui rekaman-rekaman pengajiannya sebagai tafsir digital dan oral yang menjangkau luas ke berbagai penjuru dunia.
Dan satu hal yang pasti ialah meski wujud fisiknya belum jelas,tafsir al-Bayan tetap memberikan pengaruh nyata bagi masyarakat Patani dalam merawat iman dan mempertahankan identitas mereka ditengah dominasi negara. Dari majlis pengajian hingga rekaman yang beredar luas di media sosial, ia hidup sebagai perlawanan sunyi yang menegaskan bahwa cahaya ilmu tetap bisa tumbuh bahkan ditempat yang paling dibatasi. Menjadi pengingat bagi kita yang hidup di wilayah mayoritas dan serba mudah untuk tidak berhenti meneruskan tradisi dakwah dan keilmuan dengan kesadaran dan syukur yang lebih dalam.
Referensi :
- Yuliana Nurfalina dkk,Minoritas Muslim Melayu di Patani : Perjuangan Hak dan Identitas di Thailand.
- Sanurdi,Islam di Thailand.
- Mustafa Abdullah,The Qur’an in the Malay – Indonesia World.
- Rorsuedee Salaeh dkk, Dr.Ismail Lutfi :Peranannya dalam Penulisan Tafsir Qur’an di Selatan Thailand.
Oleh: Danti Wiladatul Husni (Mahasiswa Universitas Islam Darussalam Ciamis).








Leave a Comment