Harakatuna.com – Bagi penulis, pesantren merupakan warisan sejarah Indonesia yang sangat penting. Pesantren memiliki akar sejarah yang panjang di Republik Indonesia, bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir, pesantren telah memberikan kontribusi besar kepada masyarakat pada masa itu melalui pengajaran pendidikan Islam di wilayah Nusantara.
Pesantren menjadi tempat awal penyebaran ajaran Islam. Penulis menggambarkan pesantren sebagai laboratorium peradaban Islam di Indonesia, karena dari sanalah lahir ulama-ulama, ahli fiqih, mujtahid, dan pejuang-pejuang besar.
Kita tentu tidak asing dengan nama Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, tokoh besar bagi kalangan warga Nahdliyin sekaligus pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama. Ada pula K.H. Wahid Hasyim, putra beliau yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama pertama Republik Indonesia. Kemudian K.H. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, mantan Presiden Indonesia, bapak pluralisme, dan tokoh Islam yang dikenal dengan pemikiran maju, moderat, serta unik.
Nama-nama ulama lain seperti K.H. Bisri Syansuri, K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Bisri Mustofa, K.H. Hasyim Muzadi, hingga K.H. Ahmad Dahlan, yang juga pendiri organisasi Islam Muhammadiyah, semuanya adalah santri jebolan pesantren.
Penulis mengutip pandangan Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of Java: Abangan, Santri, Priyayi in Javanese Culture. Ia mengklasifikasikan masyarakat Islam-Jawa ke dalam tiga varian, yaitu; abangan, santri, dan priyayi. Santri yang merupakan salah satu substruktur sosial masyarakat Jawa diasumsikan oleh Geertz sebagai golongan yang berusaha mengamalkan Islam sesuai ajaran yang pertama kali datang kepada mereka.
Geertz juga menyebut golongan ini sebagai Islam yang berada dalam lingkaran fundamentalisme ajaran Islam. Tradisi keagamaan kalangan santri tidak terbatas pada pelaksanaan yang cermat dan teratur atas pokok-pokok peribadatan Islam, tetapi juga mencakup keseluruhan kompleks organisasi sosial, kedermawanan, dan politik Islam.
Kegiatan santri di dalam pesantren adalah mendalami ilmu agama Islam secara utuh. Di pesantren-pesantren, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku Utara, Sulawesi, maupun wilayah lain di Indonesia, santri selalu disibukkan dengan pendidikan ajaran Islam.
Metode pendidikan Islam di pesantren-pesantren Indonesia secara turun-temurun, dari generasi ke generasi, dari tahun ke tahun memiliki pola yang relatif sama. Biasanya, sistem pendidikan Islam di pesantren diajarkan dengan beberapa metode, yakni Sorogan (di mana santri berlatih membaca kitab kuning kepada kiai atau ustadznya), Bandongan (metode di mana santri menyimak bacaan kitab dari sang kiai), serta metode hafalan (di mana santri menghafal kitab tertentu, nazham tertentu, dan Al-Qur’an).
Kajian mencakup kitab Islam klasik dari berbagai silabus, mulai dari ilmu fiqih, ushul fiqih, hadis, tafsir, nahwu, balaghah, bahasa Arab, mantiq, warisan, faraid, dan seterusnya. Kitab-kitab tersebut antara lain Fath al-Wahhab, Fath al-Mu‘in, Tafsir al-Jalalain, Alfiyyah Ibn Malik, Ghoyat al-Wushul, Tarikh at-Tasyri’, serta berbagai kajian kitab Islam lainnya. Metode pendidikan Islam seperti di pesantren ini terbukti manjur dan berkualitas dalam meregenerasi santri sebagai calon penerus ulama yang berilmu dari masa ke masa.
Revolusi Industri 5.0 menandai perubahan paradigma teknologi yang menempatkan manusia sebagai pusat kolaborasi dengan mesin cerdas. Era ini mengintegrasikan AI, yakni sistem komputer yang mampu belajar, bernalar, mengenali pola, dan mengambil keputusan, bersama Internet of Things (IoT), big data analytics, robotika, dan cyber-physical systems untuk menciptakan proses produksi yang lebih personal, adaptif, dan berkelanjutan.
Berbeda dengan Industri 4.0 yang berfokus pada otomatisasi, Industri 5.0 memosisikan AI bukan lagi sekadar alat, melainkan mitra kolaboratif yang mampu beradaptasi, memahami konteks, dan bekerja dengan mempertimbangkan aspek etika.
Bagi para santri, era ini membuka peluang luas untuk menghadirkan inovasi teknologi yang bernilai Islami, mulai dari chatbot tafsir dengan verifikasi sanad otomatis, smart zakat berbasis blockchain, hingga mushaf digital interaktif. Salah satu terobosan tersebut adalah Nahwu AI, program pembelajaran nahwu–sharaf berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh Universitas Alma Ata Yogyakarta, dan menjadi inovasi pertama di dunia dalam bidangnya.
Santri harus siap menghadapi tantangan zaman. Mereka dituntut untuk adaptif, inovatif, dan kreatif—meskipun tetap bergelut dengan kedalaman ilmu-ilmu Islam di pesantren. Di tengah kesibukan ngaji, santri juga harus melek informasi dan teknologi yang semakin maju agar tidak tertinggal dalam arus perubahan global.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, santri yang dalam pandangan Clifford Geertz merupakan substruktur penting masyarakat Indonesia memiliki peran besar dalam membentuk arah bangsa. Di era modern, kontribusi santri tidak lagi terbatas pada peran keagamaan. Mereka dapat hadir sebagai akademisi, intelektual publik, teknolog, ekonom, inovator sosial, hingga pemimpin di berbagai sektor strategis.
Prinsip yang sering dipegang masyarakat Islam kultural seperti NU, al-muḥāfaẓah ‘alā al-qadīmi aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīdi al-aṣlaḥ (menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik), sangat relevan dengan tuntutan zaman. Prinsip ini menegaskan bahwa santri di era Industri 5.0 tidak boleh gagap teknologi, tetapi harus mampu beradaptasi dan berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Data Kementerian Agama RI tahun 2025 mencatat terdapat 42.433 pondok pesantren aktif di Indonesia; angka yang meningkat signifikan dibanding satu dekade sebelumnya. Jawa Barat menempati posisi tertinggi dengan 13.005 pesantren, disusul Jawa Timur (7.347) dan Banten (6.776).
Angka ini menunjukkan bahwa pesantren bukan lagi entitas pinggiran dalam sistem pendidikan nasional, melainkan pilar besar yang membina jutaan santri di seluruh Indonesia. Di Jawa Timur saja terdapat lebih dari 320.000 santri mukim, sementara ratusan ribu lainnya belajar secara tidak menetap. Pesantren telah menjadi rumah kedua bagi generasi muda, tempat mereka belajar agama sekaligus membentuk karakter dan keterampilan hidup.
Di era Industri 5.0, pesantren harus mampu mempertahankan identitasnya sebagai benteng tradisi keilmuan Islam sekaligus menjadi pusat pengembangan teknologi islami. Selain mendidik calon ulama, ahli fikih, dan penjaga akidah melalui metode sorogan, bandongan, serta pengkajian kitab kuning, pesantren dapat mengembangkan ekosistem pembelajaran yang adaptif. Teknologi AI seperti Nahwu AI dari Universitas Alma Ata dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penguasaan nahwu–sharaf.
Media sosial dapat digunakan sebagai kanal dakwah resmi, melalui konten kajian, kegiatan mengaji, atau testimoni santri. Pesantren juga dapat memanfaatkan chatbot konsultasi fikih 24 jam, serta virtual reality untuk simulasi manasik haji. Dengan demikian, santri tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menguasai narasi digital dan menjadi pencipta teknologi yang beretika.
Di tengah gelombang Revolusi Industri 5.0 yang mengubah tatanan dunia, pesantren dengan 42.433 lembaga aktif dan jutaan santri sebagai denyut nadinya harus bangkit sebagai pilar peradaban Islam. Pesantren dapat menjaga warisan kitab kuning, sanad, dan akhlak mulia sembari merangkul AI, media sosial, dan teknologi mutakhir sebagai instrumen dakwah baru.
Santri bukan lagi sekadar penonton sejarah, melainkan pencipta masa depan yang mengamalkan prinsip al-muḥāfaẓah ‘alā al-qadīmi aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīdi al-aṣlaḥ. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi rumah kedua bagi jutaan anak muda Indonesia, tetapi juga menjadi laboratorium rahmatan lil ‘alamin di era algoritma—membawa Islam Nusantara tetap relevan, unggul, dan memimpin peradaban global.








Leave a Comment