Fenomena Bullying dan Bahaya Ekstremisme di Kalangan Gen Z

Ahmad Khairi

03/12/2025

6
Min Read
bullying

On This Post

Harakatuna.comBullying telah lama menjadi persoalan psikologis-sosial di lingkungan sekolah. Apa yang terjadi di SMAN 72 beberapa waktu lalu menghentakkan publik dari lamunan panjang, yakni bahwa generasi bangsa tengah mengalami krisis besar. Bullying berkembang jadi pintu masuk menuju ekstremisme di kalangan anak muda. Luka psikis akibat perundungan menghasilkan generasi yang gemar mencari pelarian ke ruang digital tanpa pengawasan. Kelompok-kelompok ekstremis bak menemukan celah dengan menjadikan trauma bullying sebagai fondasi radikalisasi.

Menarik dicatat, Gen Z tumbuh dalam ekosistem digital yang memungkinkan pelarian instan dari perasaan teralienasi. Game, forum anonim, dan geng virtual memberi ruang untuk itu, ketika dunia nyata justru membuat depresi diri. Ironisnya, ruang virtual jadi pasar ideologis di mana narasi kebencian, konspirasi, dan kekerasan ditawarkan secara persuasif, terutama kepada anak muda yang emosionalnya terluka. Banyak yang bergabung karena ingin diterima, setelah tertolak di dunia nyata.

Riset psikologi sosial menunjukkan, korban bullying butuh afiliasi kelompok, validasi sosial, dan ruang aman simbolik, sebagai ‘pelindung semu’. Sayang sekali, kebutuhan itu dengan cepat dieksploitasi para ekstremis. Mereka diperlakukan ibarat ‘pejuang yang sedang bangkit’, bukan sebagai pelajar atau remaja kesepian. Sangat manipulatif. Rasa marah, rendah diri, dan kehilangan harga diri dikemas ulang jadi energi perjuangan. Ekstremisme tidak dimulai dari doktrin, tetapi dari kebutuhan akan pelampiasan. Anak muda tak lagi peduli ideologi. Yang penting, mereka bisa balas dendam.

Narasi radikal yang dibagikan kepada korban bullying nyaris selalu mengikuti pola emosional. Seolah, ia dimusuhi dunia, dan para ekstremis di platform daringlah saudara-saudara seperjuangan mereka. Ketika ideologi kemudian diperkenalkan, penerima pesan telah merasakan kedekatan emosional sebelum mengenali struktur ideologi. Karena itulah, ekstremisme generasi muda begitu berbahaya karena tumbuh dari rasa haus akan segala bentuk kekerasan.

Tren di berbagai negara menunjukkan bahwa remaja dan pelajar yang direkrut ekstremis digital tidak berangkat dari keluarga radikal atau lingkungan religius-politis tertentu, melainkan dari riwayat bullying, depresi, dan tertolak secara sosial. Radikalisasi seolah merupakan respons psikologis terhadap keterlukaan. Itulah mengapa pendekatan penanggulangannya tidak dapat mengandalkan penegakan hukum semata, tetapi juga kerja pemulihan sosial.

Fakta bahwa ekstremisme telah menemukan reservoir terbesar rekrutmennya pada mereka yang menjadi korban bullying menandai pergeseran besar lanskap ancaman radikalisasi. Ekstremisme menargetkan mereka yang butuh didengar dan dipeluk secara psikis. Inilah fenomena baru ketika perundungan menghancurkan masa depan anak sekaligus menjadikan mereka pion dalam agenda radikal yang besar dan berbahaya, yaitu ketika alienasi sosial mewujud ekstremisme.

Dari Alienasi Sosial ke Ekstremisme

Bahwa bullying di kalangan anak muda telah menjelma menjadi pintu masuk radikalisasi itu merupakan sesuatu yang tak bisa disangkal. Remaja yang teralienasi, sering dipermalukan di kelas, atau terbungkam di semua pergaulannya hingga mengalami kekerasan psikologis, cenderung lari ke dunia maya sebagai tempat berlabuh. Di game online, forum anonim, Discord, dan lainnya, mereka disambut sebagai keluarga dengan catatan: mareka harus rela solid bahkan soal kekerasan.

Alienasi dialihkan dan dimanipulasi. Anak muda yang sebelumnya dicemooh karena dianggap lemah, aneh, atau berbeda, tiba-tiba dirayakan karena keberaniannya melawan sistem, negara, agama, atau segala yang dipersepsikan musuh seperti sekolah misalnya pada kasus SMAN 72. Bullying bergeser dari penindasan horizontal antarpelajar jadi pemantik solidaritas palsu di antara geng daring para ekstremis. Di sana, video kekerasan, kebencian, dan narasi konspirasi bertabrakan, dan melahirkan solidaritas negatif, yaitu mereka bersatu sebagai ‘calon ekstremis’.

Bagi korban bullying, paham radikal bukanlah tujuan, melainkan kendaraan psikologis untuk membalas dendam dunia yang mereka yakini telah menghinakan mereka. Maka generasi muda di berbagai negara mulai menunjukkan profil serupa: lahir dari kekecewaan, kemarahan, dan perasaan tak dianggap. Ekstremisme menawarkan peran protagonis kepada mereka yang sebelumnya ditempatkan sebagai karakter sampingan dalam kehidupan sosial dan pendidikan.

Konten yang menormalisasi kekerasan, memuja pelaku teror, atau menertawakan empati menjadi santapan harian remaja yang tengah mencari pelampiasan. Seiring berjalannya waktu, garis pembeda antara pelarian emosional dan komitmen ideologis menghilang. Anak muda yang tadinya hanya ingin tidak disakiti, malah berubah jadi orang yang ingin menyakiti, karena mereka diberi narasi bahwa kekerasan adalah cara pembebasan dari sistem thaghut.

Bullying di dunia nyata membuka luka, geng ekstremis digital menawarkan obat palsu, dan anak muda yang hancur menjelma ekstremis baru; siklus yang terus berulang. Sekolah, keluarga, dan institusi sosial kerap terlambat menyadari perubahan tersebut. Ketika perilaku agresif terdeteksi, proses radikalisasi telah akut. Dan pada fase itu, intervensi yang diperlukan ialah soal dekonstruksi ideologi kebencian yang sudah tertanam dalam-dalam.

Fenomena bullying benar-benar jadi malapetaka, jadi pintu menuju ekstremisme dan terorisme. Sementara itu, geng digital ekstremis jadi lorong, dan ekstremisme jadi ruang pelarian yang menyaru sebagai rumah. Lantas, bagaimana cara menanganinya? Tidak ada. Selama luka anak muda tidak ditangani, ideologi kekerasan akan selalu menemukan ruang tumbuh. Discord dan Roblox hanya perantara. Kalau pun kedua diblokir, cara-cara baru akan kembali mengemuka.

Anak Muda Jadi Ekstremis!

Perubahan paling mengejutkan dalam lanskap ekstremisme global satu dekade terakhir adalah bergesernya profil tipikal pelaku radikalisasi. Artinya, jika dulu ekstremis identik dengan figur dewasa, kini sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Australia, melaporkan lonjakan keterlibatan anak-anak berusia 10-18 tahun dalam ekosistem ekstremisme. Hal itu mengonfirmasi bahwa pintu masuk ekstremisme bukan lagi halakah tertutup atau sejenisnya, melainkan ruang daring yang penuh game, hiburan, dan segala yang sifatnya anonim.

Di titik paling kritis, anak-anak bisa menjadi ekstremis sebelum memahami dirinya sebagai ekstremis dan sebelum ia sadar makna ekstremisme itu sendiri. Pembentukan identitas sosial yang mestinya berlangsung secara organik lewat interaksi sehat, kini digantikan sepenuhnya oleh algoritma. Narasi-narasi ekstrem seperti heroisme aksi teror, labelling Islam vs kafir, serta glorifikasi jihad teror, dikemas dengan visual, animasi, dan meme. Hal itu karena menyesuaikan dengan bahasa budaya Gen Z dan Alpha, sehingga—sekali lagi—ekstremisme masuk pengalaman emosional sepenuhnya.

Tidak diperlukan buku ideologi, buletin atau majalah propaganda, atau ceramah provokatif. Cukup meme, ajakan di voice chat, lalu permainan peran dalam game. Di sejumlah komunitas daring internasional, narasi neo-Nazi dibungkus sebagai narasi kekerasan bernuansa agama dan dijual sebagai jalan kemuliaan. Sementara itu, narasi satanisme dikemas sebagai pemberontakan eksistensial terhadap dunia yang dianggap penuh kebohongan. Semua ideologi itu bercampur, mixed violent extremism, yang menembus sekat ideologis apa pun.

Dalam ekosistem seperti itu, peran keluarga dan sekolah tidak lagi cukup sebagai benteng perlindungan konvensional. Anak-anak kini dapat hidup tenang dan baik secara offline, namun agresif dan ekstrem secara online. ekstremisme tidak lagi dimulai dari perubahan perilaku di dunia nyata, tetapi dari pembentukan identitas digital yang sulit diamati. Tanpa kemampuan literasi digital dan identifikasi dini pola radikalisasi, orang dewasa menyadari bahaya ketika semuanya terlambat.

Jika pola mixed violence extremism dibiarkan, maka generasi muda tengah dalam bahaya seutuhnya. Dunia akan menghadapi generasi ekstremis aksidental, yaitu anak-anak baik yang berubah jadi pelaku karena kesepian, bukan kebencian; karena ingin diakui, bukan ingin membunuh. Ketika ekstremisme menjadi bahasa pelarian diri seperti itu, maka perang melawan radikalisasi adalah soal masa depan kemanusiaan. Generasi yang gagal dilindungi hari ini akan menjadi generasi yang membahayakan esok hari.

Tentu, sebagaimana dijabarkan, bukan karena mereka lahir jahat atau dari keluarga teroris, melainkan karena mereka tumbuh sendirian di tempat yang salah. Selamatkan anak muda dari jeratan ekstremisme!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post