BNPT Ungkap 110 Anak Terpapar Upaya Perekrutan Terorisme Lewat Gim Online dan Medsos

Ahmad Fairozi, M.Hum.

02/12/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Densus 88 Antiteror Polri mengungkap temuan terbaru terkait pola perekrutan kelompok teror di ruang digital. Sebanyak 110 anak berusia 10 hingga 18 tahun diketahui telah terpapar upaya perekrutan melalui gim online dan platform media sosial.

Deputi bidang pencegahan BNPT menjelaskan bahwa kelompok teror kini memanfaatkan fitur interaksi pada gim—seperti voice chat dan private chat—sebagai pintu masuk mendekati anak. Setelah itu, komunikasi biasanya dialihkan ke ruang yang lebih tertutup seperti Telegram atau WhatsApp.

“Kami mendapati bahwa pola pendekatan dilakukan secara personal, dimulai dari percakapan biasa di gim hingga membangun kedekatan emosional,” ujar pejabat BNPT tersebut dalam penjelasan resminya. Ia menegaskan bahwa para pelaku membidik anak-anak karena dianggap lebih mudah dipengaruhi.

Densus 88 menambahkan, sejak akhir tahun lalu hingga November 2025, polisi telah menangkap sedikitnya lima orang yang diduga terlibat dalam jaringan perekrutan tersebut. “Ini adalah eksploitasi berbasis psikologis. Anak-anak yang mengalami tekanan di rumah, bullying, atau mencari identitas diri lebih rentan dijadikan target,” kata perwakilan Densus 88. Ia menilai situasi ini sebagai ancaman serius bagi keamanan digital keluarga.

Kasus keterpaparan ini ditemukan di lebih dari 23 provinsi di Indonesia. Menurut aparat, sebagian besar korban diketahui tidak menyadari bahwa percakapan atau ajakan yang mereka terima terkait dengan ideologi kekerasan.

BNPT menegaskan bahwa anak-anak yang terlibat dalam kasus ini diperlakukan sebagai korban dan akan mendapatkan pendampingan psikologis serta perlindungan sesuai ketentuan hukum. “Kami meminta orang tua lebih aktif mengawasi aktivitas daring anak. Gim online bukan lagi sekadar hiburan; ada pihak yang memanfaatkannya untuk propaganda,” ujar pejabat BNPT, menekankan pentingnya literasi digital keluarga.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut mengapresiasi langkah cepat aparat dalam mengungkap jaringan ini dan menekankan perlunya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Leave a Comment

Related Post