Era Mixed Violent Extremism: Ketika Kolaborasi Ideologi Ekstrem Mengancam Anak Muda

Ahmad Khairi

24/11/2025

6
Min Read
violent extremism

On This Post

Harakatuna.com – Saya baru selesai menelaah laporan Colin Rubenstein, Direktur Eksekutif Australia/Israel & Jewish Affairs Council (AIJAC) kepada Parlemen Australia. Dalam laporan itu dikatakan, istilah Ekstremisme Sayap Kanan (Right-Wing Extremism/RWE) terlalu kabur, tidak presisi, dan salah fokus.

Menurut Rubenstein, jika yang dimaksud dengan RWE adalah para Nationalist and Racist Violent Extremism (NRVE), yakni kelompok neo-Nazi, supremasi kulit putih, fasis, dan lainnya, maka ancamannya kecil. Jumlah mereka juga sedikit dan mudah dipantau. Polisi bahkan sudah punya cukup perangkat hukum untuk menangani mereka. Perilaku mereka memang ofensif, tapi jarang benar-benar berbahaya. Memusatkan perhatian negara pada NRVE akan menghasilkan over-focusing pada ancaman kecil. Kurang worthit.

Pada saat yang sama, kadang NRVE itu bukan radikalisasi ideologis, tapi persoalan kesehatan mental. Sebagian kasus NRVE, terutama di kalangan remaja, lebih tepat dikategorikan masalah mental health. Jadi bukan murni radikalisasi ideologis, melainkan gabungan persoalan psikologis-sosial dan kesehatan. Karena itu, diperlukan intervensi kesehatan mental, dukungan sosial, dan pendekatan psikososial, bukan penindakan ekstremisme semata.

Rubenstein menegaskan, fokus kebijakan yang terlalu terpaku pada kategori lama menyebabkan kebutaan pada yang jauh lebih berbahaya. Sebab di luar NRVE, ada arus baru ekstremisme yang tumbuh tanpa pola linier, tanpa bendera tunggal, bahkan tanpa kesetiaan ideologis yang jelas. Ia bergerak seperti cairan, yakni mengisi ruang kosong dalam jiwa muda yang rentan, dan menjadi apa pun yang diperlukan agar rekrutmen berhasil.

Itulah mixed violent extremism, fase baru ketika ideologi ekstrem bercampur dan membentuk ekosistem kekerasan yang sulit diidentifikasi dengan kategorisasi konvensional. Tak ada lagi ‘sayap kiri’ atau ‘sayap kanan’, tetapi dengan spektrum abu-abu yang memadukan nazisme sampai satanisme okkultis dalam satu ruang digital yang sama. Semua itu hadir melalui meme, forum tertutup, kanal gaming, atau platform obrolan yang tengah digemari remaja: Roblox.

Lanskap ancaman baru terhadap anak muda bukan menargetkan generasi militan berpengalaman, melainkan anak 10-18 tahun yang sedang mencari jati diri, merasa teralienasi, atau menjadi korban bullying. Mereka digiring perlahan oleh algoritma, kelompok digital, atau percakapan anonim yang menawarkan rasa diterima. Hibridisasi ideologi pun bekerja dengan tidak memaksa komitmen total, melainkan cukup membuka celah menginfiltrasi ideologi ektrem.

Mengenal IMVE dan RMVE

Perdebatan soal kategorisasi ekstremisme sebenarnya bukan perkara semantik belaka. Di dunia intelijen, istilah adalah alat untuk membaca ancaman. Itulah sebabnya Australia, melalui ASIO, coba meninggalkan dikotomi klasik Right-Wing Extremism versus Left-Wing Extremism dan menggantinya dengan Ideologically Motivated Violent Extremism (IMVE) dan Religiously Motivated Violent Extremism (RMVE). Tujuannya merapikan lensa analitik terhadap lanskap ekstremisme yang semakin tidak linear, tidak homogen, dan campur-aduk satu sama lain.

IMVE adalah keranjang besar tempat berbagai motif ideologis non-agama bertemu: rasisme, antifasisme ekstrem, fasisme baru, hingga akselerasionisme nihilistik yang meyakini bahwa kehancuran sosial adalah jalan menuju dunia baru. Ciri utamanya satu: ideologi adalah mesin pendorong kekerasan, tetapi ideologinya sendiri tidak koheren, tidak tunggal, dan kadang bersifat campuran, yakni paduan antara kebencian, identitas, dan fantasi destruktif.

Sementara itu, RMVE digunakan untuk merujuk pada ekstremisme yang bertumpu pada motif keagamaan. Di Australia, RMVE terutama merujuk pada kelompok ekstremis yang berafiliasi atau terinspirasi oleh ISIS, Al-Qaeda, maupun kelompok-kelompok islamis radikal di ruang digital dan memproduksi narasi keagamaan yang destruktif. RMVE dipakai untuk memisahkan antara ‘ajaran agama’ dengan ‘ideologi kekerasan yang menggunakan agama sebagai justifikasi’.

Pendekatan IMVE/RMVE memberi dua implikasi besar. Pertama, lanskap ancaman masa kini tidak bisa lagi dibaca sebagai kiri vs kanan, Barat vs Timur, agama vs sekularisme. Ekstremisme hari ini lebih fluida, lebih oportunis, dan bersifat parasitik, yaitu menempel pada isu apa pun yang sedang panas, memanfaatkan ruang digital apa pun yang sedang ramai, dan menargetkan kelompok mana pun yang paling rentan terhadap kaderisasi mereka.

Kedua, pembagian IMVE-RMVE juga menjelaskan mengapa ekstremisme semakin sering tampil dalam bentuk mixed violent extremism. Seorang remaja bisa terpapar estetika nazisme tanpa memahami sejarahnya, menonton konten satanisme sebagai bentuk pemberontakan identitas, lalu dalam hitungan minggu masuk ke ruang obrolan yang mempromosikan jihad kekerasan. Tidak ada batas tegas antara satu ideologi dan lainnya. Yang ada adalah arus besar kekerasan yang melintasi identitas, agama, dan subkultur digital.

Inilah konteks yang menjelaskan mengapa negara-negara Five Eyes, termasuk Australia, kini memetakan ancaman bukan berdasarkan garis ideologinya, melainkan motivasi kekerasannya. Apakah itu nazisme, satanisme, akselerasionisme, atau Islamisme radikal, semua dibaca sebagai bagian dari ekosistem kekerasan yang semakin cair dan saling berinteraksi.

Jadi siapa kelompok yang paling mudah terseret arus ideologi yang cair, parasitik, dan lintas-ruang tersebut? Jawabannya anak muda. Mereka yang paling aktif di ruang digital, paling mudah terdorong rasa ingin tahu, paling rapuh identitasnya, dan paling mungkin terjerat pola rekrutmen yang memadukan game online, meme culture, algoritma, dan ruang obrolan gelap. Dengan memahami IMVE dan RMVE, kita mulai melihat mengapa ancaman ekstremisme masa kini lebih subtil, lebih adaptif, dan lebih dekat dengan keseharian anak muda dibanding yang kita kira.

Tren Radikalisasi Baru untuk Anak Muda

Platform digital menghasilkan lingkungan yang mempercepat proses ekstremisasi. Roblox dan Discord menghadirkan ruang interaksi yang intim, memungkinkan perekrut menyusup melalui humor, meme, role-play, hingga konten pseudo-spiritual atau pseudo-militan. Mekanismenya bukan lagi dakwah ideologis formal, tetapi digital grooming, yaitu proses membangun kedekatan emosional yang kemudian dipelintir menjadi loyalitas atau ketertarikan pada kekerasan.

Dan seperti dikatakan Rubenstein, sebagian besar remaja yang terpapar ekstremisme tidak mencari ideologi tetap kelompk. Saat kelompok ditemukan dalam ruang gelap digital, diisi oleh figur-figur yang memproduksi konten provokatif atau manipulatif, mereka mulai bergerak ke arah yang tidak pernah mereka rencanakan. Ungkapan-ungkapan “troll culture”, “edgy humor”, atau “shock content” jadi gerbang masuk dan mengeraskan sikap mereka terhadap ekstremisme secara gradual.

Sudah siapkah Indonesia mengatasi masalah mixed violent extremism? Radikalisasi anak muda hari ini merupakan perpaduan rapuh antara teknologi, psikologi, dan ideologi. Anak-anak yang menghadapi tekanan sosial, bullying contoh besarnya, fatherless, atau isolasi emosional menjadi target yang paling mudah dijangkau. Mereka mengalami radikalisasi bukan sebagai keputusan rasional, tetapi sebagai produk dari kerentanan dan algoritma.

Fenomena tersebut menjelaskan mengapa IMVE dan RMVE tidak bisa dibaca sebagai kategori statis. Batas antara keduanya sering kabur. Mereka mungkin mengakses konten neo-Nazi hari ini, esok hari mengkonsumsi konten kekerasan berbasis agama, sementara simbol-simbol satanik muncul sebagai estetika pemberontakan tanpa makna spiritual. Semua itu bukan soal perpindahan ideologi, melainkan konsumsi identitas digital.

Anak muda hari-hari ini menghadapi ancaman ekstremisme yang menumpuk berbagai sumber simbolik dan naratif dalam satu ruang digital yang tak terawasi. Mixed violent extremism bukan lagi konsep teoretis, namun telah dan akan segera menyemarak dan jadi realitas psikososial generasi baru. Jika tren tersebut tidak ditangani secara tepat, maka aksi-aksi ekstrem akan banyak terjadi di sekolah atau lainnya. Bukankah beberapa waktu lalu SMAN 72 telah bikin geger? Waspadalah, anak muda tengah jadi incaran ideologi ekstrem!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post